Saturday, 29 December 2012

1984 Revisited

Bagi saya, konsep semua hal yang kita lakukan diketahui orang itu mengerikan. Anda sedang dimana, sedang menonton apa, sedang mendengar apa, sedang makan apa, heck, bahkan sedang ditoilet. Macam novel dystopia tipikal saja. Bedanya, setting kita bukan fasisme dan tidak ada perang nuklir maupun hierarki sosial yang disfungsional.

Kita hidup di dunia serba digital. Taulah dari mulai TV sampe sekarang mau diimplementasi augmented reality secara nyata. Dari semua hal yang terdigitalisasi, Kehidupan sosial tentunya tidak luput dari proses tersebut. Jaman sekarang, kehidupan sosial masyarakat berkutat seputar social network secara online.

Path itu jadi kita bisa membagikan apa yang sedang kita tonton, musik apa yang sedang diputar, anda sedang berada dimana, foto maupun status simple. Terkadang gak nonton atau lagi muter musik tetep aja menambahkan sedang menonton sutau film atau apalah demi menunjukkan betapa kerennya si pemakai. Kadang gak tau pula yang dia cantumkan apa.

Nah inilah mengapa pemakai path, line, instagram dan sebagainya itu tumbuh subur di Indonesia. Disini, budaya gengsi telah mengakar sejak lama.

Memang jelas beda gengsi dahulu dan sekarang. Dulu sangat terbatas. Konteks gengsi ya kalo ketemu orang mau memperlihatkan sesuatu. Kadang cara berpakaian, barang, penampilan, apalah. Dulu belum ada Social Network.

Nah dengan masuknya social network, naluri dasar kita untuk gengsi ini jadilah sangat terfasilitasi. Mau masuk mall check-in dulu via foursquare. Tiap masuk kelas, pindah kelas, pulang sekolah. Ditambah fitur memperebutkan posisi 'yang pegang' suatu area, makinlah menjadi.

Lalu di path juga ada fitur serupa, disamping musik film dan lainnya itu. Terus ya di instagram para pemakai lewat foto yang diunggah berebut apalah ada semacam like di facebook, saya kurang mengerti. Seperti kurang saja twitter dan facebook yang sudah menjadi ajang mencari perhatian sejak lama.

Nah seiring waktu pemakai semakin meningkat. Ya otomatis pemakaian menjadi lebih intensif. Tepat waktu saya menulis ini, sudah seperti compulsory saja pemakaian social network ini. Walhasil timbulah perasaan bahwa kita ini seperti diawasi intel ala anas urbaningrum dan 'pengendara motor misterius'. 24 jam non-stop apa yang kita lakukan diketahui orang. Stres sendiri. Terus aja sibuk dengan semua akun sosialnya tanpa bersosialisasi tatap muka.

Jadinya self-imposed scrutiny dong. Saling menilai dan dinilai setiap saat dalam tuntutan ekspektasi masyarakat. Wajarlah kurt cobain bunuh diri.

Belum lagi efek siklus bersombong inilah salah satu faktor generasi sekarang tumbuh menjadi pesolek ulung yang arogan. Mimpi masyarakat madani yang meritokrat tidak dapat terealisasi, at least dalam waktu dekat, terhalang isu-isu primitif seperti fisik, rasial dan agama. Miris sekali, harapan kita bahwa lewat social network ini masalah semacam itu dapat diselesaikan malah dipupuk lebih dalam olehnya. Lewat social network lah banyak kejadian cyber-bullying antar remaja yang bahkan sudah memakan beberapa korban jiwa. Ironis memang.

Yah begitulah, jadi ingat novel distopia legendaris 1984.

Saturday, 15 December 2012

Pengalaman Couchsurfing: The Trio From Singapore (bag. 1)

Petang itu, masuklah message terakhir dari Fariz, teman couchsurfing yang request couch ke saya. "OK, See ya tomorrow then" katanya. Saya terdiam sejenak. wtf did i just did? saya baru saja mengundang some damn strangers, foreigners no less, untuk menginap di rumah. Waktu itu orang tua sedang umroh dan di rumah hanya saya, adik, dan pembantu. Untungnya ada pembantu, percayalah.

Akhirnya pagi. Keseharian aja, saya bersiap sarapan terus berangkat sekolah. Belajar, belajar. Saat itu tengah kelas TIK, di lab IT. Telepon berdering, pikir saya siapa nelpon jam segini. Lalu BAM!, rupanya telpon dari Fariz, si sporean dari semalam. At the time entah saya benar-benar lupa kalo mereka landing jam segini.

Singkatnya, kita ngobrol dan berhubung saya sekolah akhirnya saya tawarkan apa mau ke rumah langsung silahkan tapi gak ada saya atau mau di dago terlebih dahulu. Mereka memutuskan untuk ke Dago. Lalu ya saya beritahu untuk bilang ke supir taksinya ke Dago, Factory Outlets pasti ngerti kok dago yang sebelah mana. Oke, beres.

Waktu itu hari jumat. Sekolah selesai lebih cepat di hari jumat, tepatnya sebelum solat jumat, pukul 11.00. Saya kontak lagi ternyata mereka masih berbelanja, Jadi saya bilang monggo bae, ntar kalo udah telpon aja. Terus beberapa teman maksa ingin main ke rumah. Dan toh berhubung jadwal saya kosong (masa damai  memang, segitu jumat bisa kosong), okelah.

Gak kerasa udah jam 4 sore. Kebiasaan jarang cek hp semenjak mulai sering blank dan mendadak mati. Rupanya ada miss call dan text, dari Fariz, isinya udah selesai dan tanya alamat.

Singkatnya, sampailah di rumah

Wednesday, 28 November 2012

Led Zeppelin 41st

WHEN THE LEVEE BREAKS a BLACK DOG with FOUR STICKS will be GOING TO CALIFORNIA for THE BATTLE OF EVERMORE and to find the STAIRWAY TO HEAVEN to do the MISTY MOUNTAIN HOP to some ROCK AND ROLL.

Happy 41st anniversary, Led Zeppelin IV.




Monday, 22 October 2012

Belajar Photoshop: Cover Majalah

Langkah yang diperlukan:
- Teks: Untuk menambahkan Huruf
- Masking: Untuk memisahkan gambar (dikasus ini gambar si anak dan perempuan) dari backgroundnya

Masking foto si anak dan drag ke background tujuan lalu tambah teks

Masking si perempuan lalu drag ke background tujuan
Tambah teks sesuka hati
Contoh Teks Saja

Contoh Lainnya

Selamat Mencoba

Saturday, 29 September 2012

Faktor Kekalahan Foke


Pada dasarnya, dan juga penilaian banyak orang (terbukti dari hasil survei yang banyak menyatakan foke unggul di putaran pertama), Foke memiliki kesempatan menang yang cukup signifikan dengan Jokowi. Betapa tidak, beliau merupakan cagub incumbent dengan dukungan partai-partai 'gajah' dan lapisan ormas, juga strateginya mendongkrak imej sebagai seorang 'muslim sejati' yang terbukti cukup membuahkan hasil. Lantas mengapa tetap saja kalah? berikut akan saya uraikan.

1. Pencitraan
Ya, pencitraan. Foke hebat dengan strateginya mengungkit isu agama. Namun, publik terlanjur jatuh hati dengan teknik pencitraan lawannya yang sederhana, merakyat, dan terkesan bersih. Juga waktunya yang terkesan tiba-tiba membuat isu agama ini justru menjadi blunder. Dan memang mulainya pun tidak dari awal. Jadi, teknik pencitraan isu agama ini bagus, hanya saja waktunya yang kurang tepat.

2. Wakil
Masih berhubungan dengan pencitraan, hanya saya ingin membahas bagian ini lebih spesifik. Nachrowil Ramli, atau lebih akrab disebut dengan Nara, ditunjuk oleh partai untuk maju mewakili calon incumbent. Ketua dpp partai demokrat jakarta ini hampir di tiap kesempatan selalu saja mengungkit isu SARA. Justru malah menjadi blunder bagi timses nomer 1. Contoh, nara yang kalah dalam berargumen dengan ahok melontarkan kata "Haiyyaa ahok" dengan nada menyindir. Sementara di minggu itu foke sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan etnis tionghoa klan Hakka. Juga di suatu forum betawi, ia sempat melontarkan kalimat yang kurang lebih berbunyi "Yang ngaku betawi tapi gak milih betawi, keluar aja deh!". Khusus yang ini, kesalahan juga ada pada foke, ia justru malah menambahkan "kalo ada yang berani gitu, lapor saya, biar dicabut ktpnya".