Saturday, 29 September 2012

Faktor Kekalahan Foke


Pada dasarnya, dan juga penilaian banyak orang (terbukti dari hasil survei yang banyak menyatakan foke unggul di putaran pertama), Foke memiliki kesempatan menang yang cukup signifikan dengan Jokowi. Betapa tidak, beliau merupakan cagub incumbent dengan dukungan partai-partai 'gajah' dan lapisan ormas, juga strateginya mendongkrak imej sebagai seorang 'muslim sejati' yang terbukti cukup membuahkan hasil. Lantas mengapa tetap saja kalah? berikut akan saya uraikan.

1. Pencitraan
Ya, pencitraan. Foke hebat dengan strateginya mengungkit isu agama. Namun, publik terlanjur jatuh hati dengan teknik pencitraan lawannya yang sederhana, merakyat, dan terkesan bersih. Juga waktunya yang terkesan tiba-tiba membuat isu agama ini justru menjadi blunder. Dan memang mulainya pun tidak dari awal. Jadi, teknik pencitraan isu agama ini bagus, hanya saja waktunya yang kurang tepat.

2. Wakil
Masih berhubungan dengan pencitraan, hanya saya ingin membahas bagian ini lebih spesifik. Nachrowil Ramli, atau lebih akrab disebut dengan Nara, ditunjuk oleh partai untuk maju mewakili calon incumbent. Ketua dpp partai demokrat jakarta ini hampir di tiap kesempatan selalu saja mengungkit isu SARA. Justru malah menjadi blunder bagi timses nomer 1. Contoh, nara yang kalah dalam berargumen dengan ahok melontarkan kata "Haiyyaa ahok" dengan nada menyindir. Sementara di minggu itu foke sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan etnis tionghoa klan Hakka. Juga di suatu forum betawi, ia sempat melontarkan kalimat yang kurang lebih berbunyi "Yang ngaku betawi tapi gak milih betawi, keluar aja deh!". Khusus yang ini, kesalahan juga ada pada foke, ia justru malah menambahkan "kalo ada yang berani gitu, lapor saya, biar dicabut ktpnya".

No comments:

Post a Comment