Saturday, 14 December 2013

Kekeluargaan

Singkat saja kali ini.

Inilah alasan saya mengapa individualisme merupakan sebuah pilihan yang jauh lebih menarik ketimbang dengan jalan hidup pementingan prestise yang dibalut dengan sebuah bualan belaka yang disebut 'kekeluargaan'. Bah. Berakar dari asas satu inilah, sifat tertutup kita mulai tertanam. Akhirnya tidak bisa menerima sesuatu yang baru dan berbeda dengan damai. Dan berkat jawasentris rezim orba, semakin tersegregasi saja. 

Kalau di keluarga kan, paling getol berlomba menunjukkan sesuatu. Wah anak saya menang lomba, wah anak saya cantik, wah anak saya kerja di tempat prestisius. Apalah. Tapi memang satu hal, saya akui bahwa nilai kekeluargaan juga memiliki keuntungan tersendiri. Hubungan keluarga, di Indonesia, menjadi sebuah aspek jaringan yang penting untuk prospek masa depan seseorang. Anda bisa saja terbawa sukses oleh seorang kerabat kaya. Dan toh, artinya kepentingan nepotisme diatas meritokrasi. Walah. KKN dong. Ibas mah 1000% katakan tidak. Bahaha halah. Oke.

Jadi menurut asas kekeluargaan, definisi keluarga adalah seorang yang mengawasi dan diawasi kita. Kalau bahasa orwellian, "big brother is watching you". Sementara arti kekeluargaan sendiri adalah memperluas aspek keluarga masing-masing. Jadi -secara sukarela- memperluas jaringan big brother anda sendiri. Alhasil semakin banyak yang kita anggap keluarga=semakin banyak orang yang mengawasi dan diawasi. Kemudian datanglah era jejaring sosial dan internet murah. 

Mau beda sendiri? Agama, budaya, gaya hidup, apalah. Ya anda bagian dari sebuah keluarga dan atas dasar asas kekeluargaan, maka anda tak boleh berbeda dari apa yang anda anggap sebagai keluarga. Jika memang berbeda ya harus siap menghadapi konsekuensi beragam sanksi sosial bahkan legal.

Tapi ya serba salah. It comes in a package, 'nuff said. Tak perlu jauh-jauhlah. Kamu kan, sehari-hari biaya makan dari mana. Bensin. Sekolah. Jadi ya konsekuensi anda hidup bergantung dengan mereka ya mau tidak mau harus ikut keinginan mereka. Harus mau dibanding-bandingkan. Harus jadi harapan keluarga.

Lantas mau gimana? Ah yowislah, memang sudah fucked-up dari sononya.

Wednesday, 20 November 2013

Mengapa Finlandia Memiliki Sistem Pendidikan Terbaik Di Dunia

Finlandia

ESQ Bimbel Smartplus – Mengejutkan. Ternyata negara yang paling oke tata kelola pendidikannya bukanlah Amerika Serikat, Jepang atau Jerman. Akan tetapi, kiblat pendidikan dunia saat ini mengarah ke negara Finlandia.
Amerika Serikat sendiri berada jauh dibawah level Finlandia, tepatnya di urutan ke-17. Lalu, dimana daya tariknya sistem pendidikan di Finlandia dengan negara-negara lainnya khususnya Indonesia? Jawabannya adalah di kemandirian siswa dan gurunya.
Di Finlandia kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar itu tidak hanya dinikmati oleh guru-gurunya yang begitu dihormati tetapi juga ditularkan kepada para pelajar melalui berbagai kesempatan-kesempatan penting.
Salah satunya dimana setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai.
Sistem inilah yang dipertahankan oleh Finlandia hingga akhirnya berhasil mengantarkan negara ini berada pada posisi puncak sebagai negara yang paling berhasil mengelola pendidikan nasionalnya.
Fantastiknya, dalam evaluasi belajar, angka ketidak lulusan secara nasional tidak pernah melebihi 2 persen pertahunnya. Finlandia juga tidak mengenal istilah ujian semester apalagi ujian nasional layaknya ditanah air.
Evaluasi belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah sekali pun. Karena setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk menyusun kurikulumnya sendiri.
Jadi jangan pernah berhayal bahwa guru-guru di Finlandia disibukkan untuk mengejar terget-target tertentu karena di negeri ini guru selalu menyesuaikan bahan ajarnya dengan kebutuhan setiap pelajar.
Jadi, di Finlandia siapa pun presidennya dan menteri pendidikannya tidak akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan pendidikan. Karena fungsi pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan adalah dukungan finansial dan legalitas.
Mau bagaimana caranya, maka gurulah yang berwewenang atas itu karena guru dipandang sebagai sosok yang paling mengerti mau dimana wajah pendidikan Finlandia dibawa dimasa yang akan datang.
Sistem ini telah berdampak positif kepada pola cara mengajar guru yang tidak terlalu dipusingkan oleh hiruk pikuknya politik nasional negaranya.
Keseriusan negara Finlandia menyokong keberhasilan pendidikan nasionalnya dibuktikan dengan diterapkannya kebijakan gratis sekolah 12 tahun. Kerenkan?
Guru-guru Finlandia adalah lulusan terbaik setiap perguruan tinggi dan mereka harus masuk dalam kelompok 10 besar lulusan terbaik. Jika tidak, jangan pernah bermimpi jadi guru di negeri ini.
Itulah sebabnya guru-guru di Finlandia betul-betul berdedikasi tinggi. Gajinya besar dong? Tidak. Guru-guru Finlandia justru digaji dengan gaji secukupnya bahkan bisa dikatakan kurang memadai.
Tetapi gurunya begitu menikmati profesinya hal ini karena mayoritas masyarakat Finlandia begitu menghormati dan menghargai profesi seorang guru.
Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
the-national-curriculum-is-only-broad-guidelines
Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.
Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
Ditanah air Indonesia, sebenarnya sistem pendidikan Finlandia telah terterapkan sejak tahun 1961 melalui wadah gerakan pramuka. Apa yang berlaku di Finlandia jelas-jelas merupakan sistem pendidikan yang berlalu di gerakan pramuka.
Dimana setiap kecakapan dan keterampilan dibidang tertentu yang dimiliki oleh setiap anggota pramuka, bila sudah merasa mampu bisa mengusulkan diri untuk di uji.
Disamping itu, setiap 32 orang anggota pramuka dibina oleh 3 orang pembina secara terus menerus. Akan tetapi sistem pendidikan kepanduan ditanah air ini tidak mendapat respon yang positif ditanah air.
Buktinya kendati berhasil melahirkan kader-kader bangsa yang mandiri, negara ternyata tidak berani mengalokasikan dana BOS yang ada pada setiap sekolah untuk sepersekian persen wajib dipergunakan untuk mengelola gerakan pramuka di gugus depan.
Pendidikan nasional kita yang masih sarat dengan kepentingan politik kepala daerah menjadikan potret pendidikan begitu semraut. Pelaksanaan UN yang jelas lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya selalu dipertahankan untuk alasan yang tidak jelas.
Bahkan ironisnya lagi, UN telah mengajarkan bangsa ini bagaimana berlaku curang dan menipu. Gilanya lagi peserta UN dikawal dan diamati setiap detik melalui layar CCTV.
Seperti teroriskan. Cara-cara gila ini begitu dibangga-banggakan oleh pemerintah bahkan institusi pendidikan sendiri. Padahal metode ini punya dampak physicologi bagi para pelajar dimana UN benar-benar menjadi beban berat.
Jadi jangan heran bila di Nias pada hari pertama UN ada siswa yang meninggal dunia begitu menerima lembar soal ujian.
Finlandia tidak pernah membebani muridnya untuk hal-hal yang kurang bermutu atau mengurangi ke-kreativitasan seorang anak setelah meninggalkan rumah sekolah.
Maka, tugas tugas (PR), les tambahan dan bimbingan ini dan itu nyaris tidak pernah ada di Finlandia. Bagaimana dengan tanah air? Tekanan yang begitu berat sangat terasa apalagi menjelang ujian nasional.
Setiap murid selalu diberi les tambahan yang berlebihan, pelajar di wajibkan mengikuti Tryout hampir tiap bulan dengan alasan untuk mengukur kemampuan siswa.
Dirumah disuguhi lagi dengan tugas-tugas berat bahkan ada lagi menu les tambahan yang ditawarkan padahal nuansa bisnisnya lebih terasa daripada urgensinya bagi peserta didik. Repot bukan?
Alhasil, pelajar tanah air lahir dan besar tanpa pernah mempergunakan otaknya untuk berkreativitas. Generasi muda pun besar penuh dengan tekanan. Jadi jangan heran, walaupun lulus UN 100 persen ternyata persentasi lulus SMPTN berbanding terbalik dengan kelulusan UN.
Inilah setidaknya potret pendidikan kita dewasa ini. Indonesia jatuh kepada tingkat kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Alih-alih untuk mencerdaskan bangsa tetapi cara-cara yang dilakukan justru mengantarkan bangsa ini kelembah kehancuran.
Oleh karena itu kita perlu berbenah. Mengembalikan sistem pendidikan kezaman dahulu kala (seperti cerita orangtua kita) dimana setiap anak dan orangtua begitu menghormati guru perlu kita lakukan.
Guru harus diberi otoritas penuh untuk mengatur kurikulumnya sendiri. Setiap anak juga tidak dibebani dengan tugas ini dan itu. Bahkan birokrasi pendidikan kita yang berbelit-belit perlahan-lahan harus dikurangi.
Wajib belajar 12 tahun mutlak harus dilakukan tentunya dengan biaya gratis. Tidak hanya itu wajar 12 tahun itu harus dengan satu izajah saja yaitu izajah SMA.
Sedangkan untuk SD dan SMP tidak lagi mengeluarkan izajah mengingat tuntutan dunia kerja saat ini pun izajah dua jenjang pendidikan ini tidak begitu diperlukan.
Oleh karena itu, perpindahan dari tingkat SD ke SMP cukuplah dengan nilai rapor begitu juga dari SMP ke SMA.
Maka evaluasi belajar secara nasional hanya dilakukan dijenjang SMA ketika yang bersangkutan akan melanjut keperguruan tinggi atau merambah dunia kerja.
Menggratiskan pendidikan dinegara ini bukanlah hal yang mustahil. Bukankah 40 persen APBN kita mark-up dan 30 persennya dikorupsi.
Jadi andai pengelolaan keuangan negara kita ditata dengan baik maka tidak mustahil dimasa-masa yang akan datang biaya pendidikan kita yang saat ini ditampung 20 persen dalam APBN kedepannya akan meningkat menjadi 50 persen.
Bila sudah demikian, bukankah pendidikan kita sudah bisa digratiskan.
Beberapa hal yang mungkin bisa ditiru, dari sistem pendidikan yang ada di Finladia, diantaranya :

finnish-children-dont-start-school-until-they-are-7
1. Anak Finlandia tidak memulai sekolah sampai usia mereka 7 Thn. ( Bandingkan dengan para orangtua di Indonesia justru bangga anaknya sekolah pada usia dibawah usia 7 tahun. bahkan dengan beben pembelajaran yang berat.)
2. Tidak di bebani Ujian dan PR, sampai menjelang usia mereka remaja.
3. Anak-anak tidak diukur sama sekali selama enam tahun pertama pendidikan mereka. ( Pada sistem pendidikan kita , Murid SD sampai stress karena sering ditakuti Pihak sekolah, dengan seabreg Ujian, Padahal terkadang anak sering tidak diajar ).
The children are not measured at all for the first six years of their education.
4. Hanya ada satu tes standar wajib di Finlandia, yang diambil ketika anak-anak berusia 16 Tahun. ( Bandingkan dengan sistem ujian ujian di SMP dan  SMA, Ditambah UN, bukan saja membuat Lembaga pendidikan tidak jujur, Anak hanya dihargai Otaknya saja, Minus bakat dan Minat,)
5. Tidak ada Kelas Unggulan,semua kemampuan berada pada kelas yang sama. Dan terbukti akhirnya RSBI /RSI di indonesia oleh MK dicabut keberadaanya, karena akan tercipta kasta kasta baru dalam dunia pendidikan.
the-difference-between-weakest-and-strongest-students-is-the-smallest-in-the-world
6.Finlandia menghabiskan sekitar 30 persen lebih untuk biaya pendidikan  per siswa mengungguli  Amerika Serikat.
7.  30 persen anak-anak menerima bantuan tambahan selama sembilan tahun pertama mereka sekolah.
8. 66 persen siswa masuk ke perguruan tinggi.Dan tertinggi di erofa
9.  Nyaris semua siswa memilki kemampuan akademis yang merata
10. Kelas sains maksimal 16 siswa sehingga mereka dapat melakukan eksperimen praktis dalam setiap kelas.
.Science classes are capped at 16 students so that they may perform practical experiments in every class.
teachers-only-spend-4-hours-a-day-in-the-classroom-and-take-2-hours-a-week-for-professional-development
11. 93 persen masyarakat Finlandia lulus dari SMA.bahkan17,5  peresen lebih tinggi dari AS .
12. 43 persen dari Finlandia siswa sekolah menengah pergi ke sekolah kejuruan.
13.Siswa SD mendapatkan 75 menit dari istirahat sehari di Finlandia dibandingkan rata-rata 27 menit di Amerika Serikat.
43 percent of Finnish high-school students go to vocational schools.
14. Guru hanya menghabiskan 4 jam sehari di dalam kelas, dan mengambil 2 jam seminggu untuk “pengembangan profesional.”
Teachers only spend 4 hours a day in the classroom, and take 2 hours a week for “professional development.”
15. Finlandia memiliki jumlah  guru sebanyak di  New York City, namun siswa jauh lebih sedikit. Dengan perbandingan 600.000 siswa di finlandia dengan 1,1 juta di NYC.
Sumber: http://esqsmartplus.com/mengapa-finlandia-memiliki-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia/#sthash.ihnKj82u.dpuf

Tuesday, 19 November 2013

Monday, 18 November 2013

Almost Famous (2010)



Film terbaik dari daftar karya Cameron Crowe yang mengesankan.

Nostalgia, seperti pepatah lama, sudah tidak seperti sedia kala. Setelah para baby boomers mulai menua, kendati sangat lambat, yang sekarang disebut kenangan muda adalah tentang drug, seks, dan alkohol. Tentunya lebih menarik daripada, katakanlah, petualangan Ozzie dan Harriet.

Masa muda penulis dan sutradara Cameron Crowe adalah apa yang generasi muda kala itu (dan saya!) cita-citakan. Jika tidak bisa menjadi bintang rock 'n roll, maka jurnalis rock 'n roll menjadi pilihan karir yang menyenangkan. Dan sekarang aspirasi sebatas mimpi ini dapat terwakilkan.

Pada akhir masa emas rock 'n roll, 1973, William Miller (Patrick Fugit) baru saja menemukan musik, lewat record yang kakaknya (Zooey Deschanel) wariskan sebelum pergi meninggalkan rumah. Ibunya Elaine (Frances McDormand) melarang anak-anaknya untuk mendengarkan musik rock 'n roll karena menganggapnya sebagai pengaruh buruk. Terlepas dari Ibunya, William membuat nama untuk dirinya sendiri dengan menulis ulasan di koran sekolah dan majalah independen. Bakatnya ditemukan oleh Lester Bangs (Philip Seymour Hoffman), editor majalah musik Creeme, yang kemudian memperkerjakan William untuk menulisan ulasan Black Sabbath. Ketika William mencoba untuk masuk ke backstage konser Black Sabbath, ia ditolak oleh keamanan karena tak memiliki izin dan dianggap dibawah umur (kenyataannya ia memang masih 15 tahun). Kemudian datanglah band Stillwater, sebuah grup musik rock yang sedang naik daun. William akhirnya diperbolehkan masuk bersama Stillwater. Mulai terjalin hubungan William dengan Stillwater. Walaupun mulanya berjarak, hubungan mereka semakin dekat atas dasar pertemanannya dengan vokalis Russel Hammond (Billy Crudup), dan pacarnya (groupies, apalah), Penny Lane (Kate Hudson).

Penny Lane dan sekelompok gadis lainnya menyebut diri mereka "Stillwater's band aids". Band aids tidak berbeda jauh dengan groupies, tetapi mereka juga ikut dalam perjalanan tur Stillwater. Sebagai teman dekat dari Stillwater, William dibayar Rolling Stone (lengkap adegan menelpon dengan suara dituakan, persis apa yang dilakukan Crowe pada masa remajanya)  untuk melakukan wawancara dengan Stillwater dan menulis artikel tentangnya.

Apa yang seharusnya sebuah trip singkat empat hari segera menjadi perjalanan panjang satu bulan.

Film ini berhasil menangkap jiwa rock 'n roll yang penuh gairah. Crowe mendapatkan rasa sakit yang sama untuk menggali kebenaran para karakter ini seperti yang dilakukannya dengan musik. Soundtrack antiknya yang indah dilengkapi lagu otentik untuk Stillwater, ciptaan crowe sendiri dan istrinya, Nancy Wilson dari grup musik Heart. Dengan ikon rock seperti Peter Frampton sebagai konsultan, Crowe berhasil menangkap megahnya era rock 'n roll. Jangan harap Almost Famous sebuah film manis tentang road trip. Rock adalah tentang masa muda, pembangkangan, dan bahaya serta perasaan bertentangan dari pikiran anda yang tidak dapat dijabarkan. Keberhasilan Crowe adalah kecemerlangannya dalam menangkap sensasi menggairahkan akan kehilangan cherry anda untuk rock 'n roll. Almost Famous adalah sebuah keberhasilan karena Crowe berani memakai hatinya sebagai alas. Untuk film ini setidaknya, Crowe berada diantara mereka.

Friday, 1 November 2013

American Beauty (2010)



"The worst thing anyone can be is normal."

Sebuah debut layar lebar pertama dari jawara teater Trans Atlantik, Sam Mendes. Pada saat ulasan ini ditulis, tentunya Sam Mendes sudah jauh lebih terkenal, lewat karya seperti Revolutionary Road, The Kite Runner, Road To Perdition, hingga keluaran paling anyar dari franchise James Bond: Skyfall. Dan patut diketahui juga bahwa penulis screenplay Alan Ball -yang lewat film ini dianugerahi Academy Awards 'Best Original Screenplay' dan kelak nantinya menulis 'True Blood' dan 'Six Feet Under'- ialah otak dibalik cerita film ini. Ia sendiri yang mencari sutradara yang tepat hingga akhirnya menunjuk Mendes.

Lester Burnham (Kevin Spacey) adalah seorang patriarkal muram suatu keluarga suburban -sebuah analogi paling universal dari rata-rata keluarga amerika pada masa itu- dari istri Carolyn (Annette Benning) dan putrinya Jane (Thora Birch) yang tengah melalui fase 'krisis paruh baya'. Dia memutuskan untuk memutarbalikkan hidupnya yang opresif setelah mengembangkan obsesi untuk teman putrinya yang menarik, Angela (Mena Suvari) dan berkenalan dengan Ricky (Wes Bentley), seorang anak remaja tetangga baru.

Kevin Spacey berhasil menangkap nuansa komikal dan getir lewat perannya dalam Lester Burnham. Kita pertama kali bertemu dengan  Lester ketika dia sedang, ahem, masturbasi di kamar mandi. "Funny Thing is" Lester bilang dalam suara narasinya, "this will be the high point of my day". Lester tidak main-main. Istrinya Carolyn adalah seorang agen properti dengan emosi yang tertekan. Kegemaran Carolyn -taman mawarnya, uang,  tape motivasi, dan citra keberhasilan yang dia berusaha untuk pertahankan- tidak termasuk suaminya. "See the way the handle on her pruning shears matches her gardening clogs?" tanya Lester. "That's not an accident."

Selama menonton film ini, saya diingatkan bahwa keseharian di sekitar kita tidak selalu sepenuhnya nyata, lewat seorang karakter unik yang melihat dunia dari lensa kamera sebagai sebuah upaya untuk melihat memperhatikan dan merasakan kenyataan dari alam dan keindahan dan bahkan kematian.

Hal ini membuat saya kesal pada awalnya. Saya tidak pernah mengerti orang-orang yang menghabiskan sepanjang liburannya terpaku pada camcorder atau alat rekam lainnya. Ya memang mereka mendapatkan memori permanen akan liburannya tersebut, namun mereka tidak akan pernah benar-benar merasakan keindahannya secara nyata.

Dan saya pikir ini juga merupakan pendekatan Ricky pada kehidupan: Ia melihat dunia lewat sebuah filter, sebuah lensa. Kamarnya penuh dengan rekaman video kenangan dari dunianya, tetapi apa yang benar-benar telah dia lihat lewat mata kepalanya sendiri?

Kemudian barulah saya sadari bahwa untuk hampir setiap karakter dalam American Beauty, tampilan adalah yang terpenting. Carolyn dengan fantasi keluarga suburbia yang bahagia. Ayah Ricky (Chris Cooper) yang homophobic merasa terganggu oleh tetangga gay-nya yang berani untuk tidak menyembunyikan hubungan mereka. Jane terobsesi oleh penampilannya, tak sadar betapa menarik ia sebenarnya, sementara temannya Angela, terobsesi akan dirinya sendiri. Ricky sendiri harus berpura-pura dimata ayahnya sebagai "an upstanding young citizen with a respectable job" ketika ia sebenarnya merupakan seorang pengedar narkoba.

American Beauty bercerita tentang kerinduan akan masa muda, kehormatan, kejayaan, dan tentu saja, keindahan. Kala seorang berhenti bermimpi adalah saat ia membatu batinnya. Pikiran Lester tentang Angela memang kotor, tapi bukanlah suatu yang sesat; dia ingin melakukan apa yang pria diprogram untuk lakukan, dengan wanita paling cantik yang pernah dia temui. American Beauty tidak se-gelap atau sinting seperti "Happines", sebuah karya luar biasa yang dirilis beberapa waktu berdekatan untuk mengungkap realita kehidupan masyarakat Amerika. Ini lebih mengenai kegelapan dan kesepian daripada kekejaman dan kebiadaban. Tidak ada yang benar-benar jahat dalam film ini, hanya terbentuk sedemikian rupa oleh masyarakat dimana mereka tidak bisa menjadi diri sendiri, atau merasa sukacita.

Itulah hal-hal yang ditangkap American Beauty ketika Mendes mendera penonton dari humor ke horor hingga sesuatu yang puitis dan manusiawi. Hasilnya adalah sejenis pembangkangan berseni yang Hollywood biasanya tidak berani sampaikan: komedi menyentak yang membuat anda tertawa hingga terasa sakit.

Tuesday, 15 October 2013

Pengemis di Kota Bandung

Belakangan lagi rame tentang pengemis. Jadi walikota baru Bandung, Ridwan Kamil, mencanangkan sebuah program inovatif dimana para pengemis di Bandung ditawarkan untuk bekerja secara halal dan tentunya legal sebagai satu unit pekerja dibawah dinas kebersihan dan pertamanan kota Bandung. Setahu saya, spesifiknya akan turut diturunkan dalam upaya pembersihan sungai cikapundung bersama 'pasukan gorong-gorong' yang sebelumnya sudah terlebih dahulu dibentuk oleh walikota terpilih Bandung yang baru menjabat kurang dari sebulan ini. Ide bagus bukan? Pengemis yang katanya menjadi korban kerasnya hidup di kota, yang katanya susah cari kerja, diberi kesempatan untuk bekerja dengan halal dan gaji yang boleh dibilang lebih dari mencukupi kebutuhan mereka. Semua senang. Yah, tadinya saya pikir begitu.

Jadi ketika saya baca berita bahwa ternyata pengemisnya pada menolak dipekerjakan, agak kaget juga.

Ketika ada penertiban sekaligus sosialisasi program baru untuk gepeng tersebut, para gepeng itu malah demo ke balai kota. Ridwan Kamil spontan keluar dan menyambut para gepeng lalu kembali mensosialisasikan program pemberdayaan gepeng kota Bandung langsung secara pribadi. Jawabannya?

Nih saya kutip dari tribunnews.com:
"Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah bapak siap menggaji sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah bapak bisa menggaji mereka Rp 4 juta sampai Rp 10 juta. Kalau hanya gaji Rp 700 ribu tidak akan cukup," ujar Priston salah seorang orator dari Gerakan Masyarakat Djalanan (GMD).

Aduh.

Ya katanya kan hidup susah. Gaji sopir pribadi saja sekitar Rp 350.000 per minggu dikali 4 jadi 1 bulan=1.400.000. Toh dengan nilai segitu, bisa hidup. Kebutuhan sehari-hari, kendaraan, sekolah anak. Nah, 4 juta? Gelandangan? Mungkin malamnya punya sisi lain gaya hidup. Macam Bruce Wayne saja ya. Entahlah.

Pada akhirnya, saya pikir, kembali pada pribadi masing-masing. Apakah tetap akan memberi para pengemis tersebut atas dasar kasihan bahwa 4 juta rupiah memang dinilai kurang untuk mencukupi kebutuhan mereka? Apakah akan terus menumbuhkan mental mengemis di Indonesia?

Tuesday, 8 October 2013

Tentang Beban Ekspektasi

Setiap makhluk sentien, pada hakikatnya, diberikan kebebasan dalam memilih arah hidup sesuai keinginan sesuka hati tanpa batasan apapun. Ego dan percaya diri bahwa kebebasan mampu membuat setiap orang bahagia, boleh saja dijadikan pegangan. Namun harus diakui, kadang cita dan keinginan harus kandas karna sebuah harapan yang terlalu dipaksakan.

Skahespeare bilang, “Expectation is the root of all heartache“. Harapan adalah akar dari semua sakit hati.

Seorang awam saja misalkan. Sejak kecil sudah dituntut menjalani agama bapak dan ibunya tanpa harus terlebih dahulu mengenal beragam agama dan bahkan seringkali dicekoki dogma 'one and only true faith' dalam bentuk sikap diskriminatif terhadap kaum non-agama sang anak tersebut. Dan toh memang inilah normalitas yang dinilai baik dalam masyarakat yang sudah berlangsung sejak Tuhan tahu entah kapan.

Nanti sudah bersekolah mulai timbul beragam harapan. Harus selalu rengking ya seperti bapak ibu, harus tumbuh rupawan seperti cucu kakek lainnya, harus sudah bisa nyetir sejak smp. Harus menang, menang, dan menang.

Ketika ekspektasi dan harapan tersebut tidak terpenuhi, mereka bakal merasa kecewa sendiri. Kok kamu begini, tidak seperti kami dulu, kok gak bisa, kok tidak sesuai harapan kami. Apalah. Nanti pandai menyetir kendati masih smp, kecelakaan makan korban jiwa 6 orang tak bersalah barulah sadar.

Biasanya seringkali bilang “kami tidak butuh apapun, karena hanya dengan mengetahui anak kami bahagia saja kami ikut bahagia”. Oke, define bahagia.

Begini, memang harus diakui bahwa harta memang menjadi sebuah faktor utama penentu kebahagian. Katakanlah setelah dewasa ternyata hidup anda tidak sesuai ekspektasi, tapi toh merasa serba berkecukupan, bahagia. Namun bagi mereka, selalu kekurangan. Selalu kekecewaaan. Kerap kali menawarkan pekerjaan lewat kerabat misalkan, atau mempertanyakan sekolah anak anda yang di benak mereka berada di bawah standar. Jadi secara terselubung selalu berasumsi anda seorang yang kekurangan, anda tidak bahagia. Saya pikir tentunya niatan mereka pasti baik. Apalagi bapak ibu. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia. Namun ya itulah, sulit sekali menghilakan persepsi ekspektasi. Padahal, satu hal yang anda inginkan adalah untuk mereka ikut bahagia bersama kebahagiaan anda.

Mungkin inilah yang terjadi ketika (pseudo)sosialisme setengah matang bercampur kapitalisme rakus pemberhala uang.

Wednesday, 2 October 2013

Tentang Nihilisme (as a Genre)

Nihilisme adalah sebuah doktrin filosofi dimana gagasan aspek nilai kehidupan luhur adalah hal yang (hampir) non-eksistensial. Nihilisme menolak ide putatif akan sebuah arti agung dari tujuan mulia hidup manusia. Nihilis menilai bahwa moralitas tidak secara inheren ada, bahwa nilai dan norma adalah sebuah hal artifisial. Dari hal tersebut dapat pula diartikan bahwa nihilisme cenderung tidak mengakui batasan moralitas dan dalam hal ini: agama.

Jadi mungkin dapat disimpulkan bahwa Nihilisme adalah tentang eksistensi manusia yang tidak berarti. Bisa dibilang, not giving a shit.

Istilah nihilisme mulai dikenal khalayak umum pada era 70an hingga 90an, dimana tengah ada suatu gap atau kekosongan yang besar dalam kultur pada masyarakat. Dimulai dari era 70an. Setelah lewat gairah berontak rock 'n roll ala generasi Chuck Berry dan The Beatles, dan bahkan rock 'n roll pada masa itu dapat dikatakan sebagai musik populer, perlahan mulai surut. Masa pasca rock 'n roll seakan telah kehilangan tujuan yang oleh generasi sebelumnya diserukan bak perang salib, sudah tidak ramai lagi. Sudah tiada hal lagi untuk berontak.

Itulah titik permasalahannya.

Pada akhir 70an muncul musik ribut nir-arti yang kelak dikenal luas sebagai ikon anti-kemapanan: punk. Berawal dari kesuksesan The Ramones, seniman pionir dari genre punk yang, saya pikir, berhasil membawa punk kepada gelombang mainstream, walaupun masih sangat terbatas. Seakan tidak mau kalah, Inggris turut ambil andil dalam kebangkitan punk lewat Sex Pistols dan The Clash.

Misfits, Joy Division, Velvet Underground, Iggy Pop.

Situasi tersebut berlangsung terus hingga pada awal 80an dimana scene punk mencapai masa keemasannya. Awalnya konsep semangat punk masih berkutat tidak jauh dari akar ideologi rock 'n roll. Namun dalam perkembangannya, gairah punk menjadi semakin keras yang terkadang dianggap ekstrim. Di Inggris misalnya, Sex Pistols mengekspresikan sentimen anti-perang (kala itu tengah panas konflik falkland antara UK dan Argentina) lewat lagu 'God Save The Queen'. Dalam lagu tersebut, terdapat penggalan lirik seperti berikut:
God save the queen
The fascist regime
They made you a moron
Potential H-bomb
God save the queen
She ain't no human being
There is no future
In England's dreaming
..Dan bajingan itu berasal dari Inggris, of all places. The Clash juga angkat bicara perihal menentang perang dengan lagu seperti 'London Calling' dan 'The Call Up'.

Sebenarnya sudah terlihat unsur nihilisme sebelum tema anti-perang diusung sebagai agenda utama dalam scene punk. Malah justru sebelum muncul tema anti perang, nihilisme lah tema sentral musik punk. Anarchy In The UK, White Riot. Nah buat saya, paling cocok menggambarkan situasi tersebut adalah penggalan lirik dari lagu White Riot:
White riot - I want to riot 
White riot - a riot of my own
Sex Pistols punya Anarchy In The UK, Pretty Vacant, saya pikir anda mengerti.

Tapi, saya pikir, gerombolan berandalan itu berusaha terlalu keras untuk berlagak tidak peduli. Maksud saya, what's with them social protest songs? Career Opportunities? anti-war? fascist regime? sounds like a certain long-haired-ex-rockstar-turned-contemporary-prophet. Entahlah.

Pada akhir 80an dunia literatur juga turut terpengaruh oleh masuknya gagasan-gagasan nihilisme dan hal yang berkaitan seperti eksistensialisme dan kesendirian. Karangan macam Kafka dan Tolstoy mulai banyak digemari. Bahkan salah satu buku yang kelak kemudian hari menjadi karya legendaris, Norwegian Wood, a nostalgic story of loss, solitude, and sexuality, karya Haruki Murakami, menjadi sebuah fenomena ketika penjualan buku tersebut menembus rekor baik nasional maupun internasional, hingga sang penulis merasa ketenarannya sangat, sangat, mengganggu hinggai ia memutuskan untuk hidup di pengasingan (crete, yunani kalau tidak salah) hanya untuk menghindarinya. Untung saja tidak seperti seorang rocker depresif pecandu berat narkoba legendaris.

Nah, akhirnya sampailah pada Legenda (sayangnya bukan dari) generasi saya. Yah memang tidak bisa mengaku 'Generasi X' atau yang biasa dielukan the so-called generasi 90an, tapi saya dapat pastikan, pengaruh kuat nihilisme era masyhur kalian itu kurang lebih untuk saya, rasanya sama.

Nirvana. Hmm.

Flanel, garage rock, heroin, nihilistic lifestyle, glorified self-worthlessness, nothing, whatever, nevermind. Dark, Depressive. Not giving a shit. Shit. Apalah.

Membenci diri merupakan motif tematik brutal yang berulang dalam konteks lirikal Nirvana. Dalam album Nevermind, Nirvana mengubah suara, tampilan, dan perasaan dari musik keras, merubahnya dari nuansa bombastis, flamboyan, dan hedonis berlebih (pikirkan Poison, Motley Crue, Whitesnake, dan musik 'Hair Metal' populer lainnya menjadi sesuatu yang sangat muram, gelap, dan luar biasa depresif.

Cobain mungkin telah memukul postur politik tertentu dalam cara kecil dan insignifikan, namun pada intinya ia tampak tidak begitu percaya. Nihilisme, ketika benar-benar dianut tanpa kompromi, pasti akan berakhir pahit. Dalam kasus Kurt, hal tersebut mengarah pada kecanduan narkoba, depresi, dan pada akhirnya bunuh diri. Bahkan cintanya pada bayi perempuannya itu tidak dapat menghalangi kejatuhannya hingga pada akhirnya mencapai titik kehampaan.

Nihilisme Kurt, saya pikir, merupakan sebuah kutukan pada keberadaannya, menyebabkan banyak g bkebiasaan dan pilihan buruk, dan akhirnya tindakan sangat tidak tercela berupa pemusnahan diri. Secara artistik, walau bagaimanapun, itu adalah ketidakpuasan diri tanpa henti terhadap semua pergerakan, kepercayaan, dan laknat ortodoks yang meminjamkan kekuatan dan semacam integritas berantakan.

Yah pada akhirnya, kita semua harus melewati kegelapan untuk mencapai cahaya di ujung lorong. Cobain tidak dapat keluar dari kegelapan itu, namun sementara tenggelam didalamnya, ia merekam kesuraman dan horor dari dalamnya secara cemerlang dan tanpa ampun. Nevermind telah menjadi pelipur lara untuk jiwa yang kesepian dan hampa dalam dua dekade terakhirva, hanya dengan mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Seberapa overrated yang bahkan Kurt Cobain sendiri berpikir demikian, pencapaian semacam itu selayaknya tidak dianggap rendah, saya pikir.

Nah sekarang bicara tentang anak jaman sekarang. Kan banyak tuh yang (ngakunya) suka Nirvana. Suka sex pistols. Suka punk. Suka lagak not giving a shit. Buat saya sih, lucu aja.

Para cecunguk ini identik dengan atribut band-band diatas, terlepas dari suka atau tidak. Mereka biasa bergerombol. Dari hari biasa hingga weekend sering dihabiskan 'mejeng', biasanya di sebuah warung sekitar sekolahnya. Bandung, walah setiap sekolah ada. Bisa seharian disana. Setiap kalinya bisa habis berapa bungkus, botol, dan ahem, serbuk, selagi disana. Saya pribadi no problemo dengan konsumsi begituan, toh kawan saya banyak yang begitu. Biasa saja. Yang jadi perkara adalah apakah perilaku demikian produktif? Saya pikir tidak. Heck, bahkan konsumtif. Defisit. 

Tapi itu diluar topik, lain waktu saya bahas.

Nah jadi apakah mereka-mereka ini yang disebut fanatik sex pistols? Nirvana? Ngerti musik katanya. Entah ya saya tidak mau generalisasi, tapi berdasarkan pengalaman saya interaksi dengan mereka, hal yang dipedulikan hanyalah sosial media online, berfoto, login path. Aduh. Tak perlulah jauh-jauh bicara anti-kemapanan. Nihilist? Ha. Fag.

Ada juga jenis 'nihilist' satu lagi. Jenis ini biasa ditemui di perempatan jalan besar. Dengan gaya yang terkadang lebih underground dari fans underground sejati, mereka biasa kumpul di tempat-tempat umum -tak peduli apakah kehadirannya diterima atau tidak. Biasanya mengaku fanatik punk. Gahulnya berupa nonton konser Rosemary dengan clique sk8punknya masing-masing.

Hmm punk, walah. Ya toh tidak bisa menyatakan salah juga. Tapi persepsi punk di Indonesia beda sekali. Selalu identik dengan skate, aibon, anti-intelektual. Padahal, punk tidak -melulu- begitu. Butuh kapasitas berpikir yang cukup baik untuk dapat menciptakan sebuah karya remonstrasi. John Cale, Malcolm Mclaren, Taufiq Rahman. Intelek.

Ah jadi bicara punk. Ya sudahlah, mungkin sekian pandangan dangkal saya tentang nihilisme, yang kebawahnya agak keluar topik. Okelah.

Oh well, whatever, nevermind.

Saturday, 31 August 2013

Pentas Seni Sekolah

Konsep pentas seni (pensi) sekolah dalam benak golongan muda kontemporer pada umumnya relatif tidak berubah: bahwa merupakan sebuah ajang unjuk gigi para pelajar. Yang membedakan antara konsep pensi generasi lampau dan sekarang adalah bahwa ketika angkatan tua berlomba mempertunjukkan keterampilan seni dan budaya siswa dengan eksul siswa sebagai fokus, angkatan kini lebih mengarah kepada faktor eksternal; tentang dimana acara bertempat, berapa besar honor bintang tamu, dan apakah tiket terjual habis atau tidak.

Ketika dibandingkan dengan generasi Ibu saya, misalnya. Jika penampilan utama (headline) dari sebuah pensi sekarang adalah penampilan dari bintang tamu besar, angkatan dulu lebih menggemari pertunjukkan khusus dari ekskul teatrikal sekolah yang acap kali dipadu dengan kelompok ansambel sekolah yang termasuk didalamnya bermacam ekskul musik seperti angklung, drum band, padsu, dan lainnya.

Mungkin inilah memang suatu bentuk dari evolusi sosial yang sewajarnya selalu bergerak, tentunya -bahwa atas dasar pemikiran rasional, berpuluh tahun memang waktu yang cukup lama. Salah satu bagian kecil dari perubahan jalan pikir umat manusia yang kian lebih semakin mengacu pada pemberhalaan uang. Agak klise, memang.

Namun dalam hal ini, saya pikir, tidak ada salahnya. Toh bicara konten acara, tentunya masih selalu disertai penampilan dari kelompok internal sekolah, seperti angklung dan padsu, walaupun tataran dalam hal bobot memang agak berkurang. Hal ini sekali lagi, tidak ada salahnya. Memang tujuan utama penyelenggaraan adalah reaksi positif pengunjung, pelanggan.

Jika dulu orientasi pensi adalah kepentingan siswa, yakni penyelenggaraan ajang congkak kemampuan keluarga sekolah, generasi sekarang lebih mengutamakan bagaimana sebisa mungkin membuat pagelaran atas dasar kepuasan khalayak umum. Namun kenyataannya, memang inilah yang turut diinginkan mayoritas siswa modern; ingin pensi sekolah menjadi satu hal yang dapat dibanggakan.

Mungkin ini akan terdengar ironis ketika disaat yang sama saya tengah menjadi bagian dari kepanitiaan pensi sekolah, tapi okelahJadi barangkali konsep 'bangga' inilah -yang pada dasarnya menjadi sebuah acuan prestise para remaja kontemporer- yang agaknya sedikit kian melenceng dari nilai moralitas leluhur. Ah sudahlah, bicara perkara begini bisa panjang.

Kembali ke pensi, kiranya dapat disimpulkan bahwa perubahan signifikan akan konsepsi sebuah pentas seni sekolah antara dulu dan sekarang memang hanyalah bagian kecil dari laju pesat evolusi parameter nilai sosial dan norma yang senantiasa berlangsung sejak Tuhan tahu entah kapan. Sebuah fenomena biasa saja.

Monday, 19 August 2013

Dogs Of War (2013)


Bukanlah berlebihan untuk mengatakan bahwa novel karya Frederick Forsyth Dogs Of War adalah buku pedoman untuk merencanakan sebuah plot kudeta. Novel yang pertama kali dicetak tahun 1974 ini merupakan buku yang ditulis Forsyth setelah beberapa karya terkenal lainnya seperti The Day of the Jackal dan Odessa File.

Lewat beberapa perspektif unik, dengan tokoh utama seorang tentara bayaran Cat Shannon, dikisahkan bahwa ditemukan lahan pegunungan luas yang didalamnya terkandung mineral platinum dengan jumlah yang cukup banyak. Pegunungan yang oleh masyarakat disebut 'Gunung Kristal' tersebut terletak di wilayah sebuah negara di Afrika bernama Zangaro yang baru-baru ini saja merdeka dari pemerintahan kolonial Inggris -yang tentu saja menghasilkan power vacuum yang berhujung pada krisis politik, kasus klasik Afrika. Pemerintah kolonial menyelenggarakan sebuah pemilu tanpa campur tangan pihak kolonial. Dari hasil pemilu diangkat seorang diktator marxist yang sedikit tidak stabil secara mental bernama Jean Kimba. Presiden Jean Kimba yang sangat paranoid memerintah dengan sewenang-wenang dengan satu-satunya hukum yang berlaku adalah titahnya sendiri. Jauh di Inggris, seorang biliuner ambisius Sir James Manson. Sir James, dengan ajudannya Simon Endean dan Martin Thorpe, berencana untuk mendirikan proyek pertambangan di gunung kristal. Akhirnya mereka memutuskan bahwa cara terbaik adalah dengan menggulingkan sang diktator dan menggantinya dengan pemerintahan boneka yang loyal hanya kepada mereka, lewat tentara bayaran. Cat Shannon dan rekannya menerima tawaran pekerjaan tersebut, dan berencana menyelesaikannya hanya dalam batas waktu selama 100 hari.

Novel ini masih bersentral kepada tema cerita gaya detektif khas Forsyth: Dunia bawah tanah, Militer, dan hal prosedural yang sangat mendetail. Tentunya masih ada sedikit tema seksual dan hubungan yang berfungsi hanya sebatas pelengkap kecil dari cerita -seperti pada novel Forsyth lainnya. Hal prosedural dalam novel ini termasuk tata cara membeli senjata baik secara legal maupun yang ilegal, lalu terkait sistem keuangan seperti pembelian saham, trading, prosedural bank Swiss, hal kehukuman sebuah perusahaan, perkapalan, hingga dunia jurnalistik bawah tanah.

Seperti biasa, prosa yang digunakan Forsyth dalam buku ini sangat menarik dengan narasi sangat jelas dan mendetail. Saya pribadi sangat merekomendasikannya, sebuah bacaan yang baik bagi mereka yang menyukai orisinalitas dan detail.

Saturday, 17 August 2013

Sputnik Sweetheart (2013)



Bukanlah hal sulit untuk mengatakan mengapa sebuah karya fiksi tidak bekerja dengan baik. Entah Penulisan, kredibilitas, alur cerita yang mudah diprediksi - semua untuk membedah suatu buku. Terkadang juga begitu mudah untuk menyatakan bahwa sebuah novel indah: Anda dapat merasakan apa yang dilakukan penulis berkelas dengan bahasa dan narasi dalam novelnya, meskipun mungkin dapat mebuat anda menahan napas, Anda tidak kehilangan kata-kata anda sendiri untuk mendeskripsikannya.

Kadang kala semua hal tersebut dapat berada dalam sebuah novel yang sama. Dan berhasil -bahwa ya, menghibur, menawan, dan memberikan gairah untuk anda, para pembaca- tapi ketika anda mencoba menangkap keajaibannya, menjabarkan temanya atau memahami ceritanya, itu hanya akan membuatnya semakin jauh dari jangkauan anda. Jadi saya akan jujur saja: saya tidak begitu mengerti apa yang mengejutkan dari novel Murakami ini namun disaat yang sama, novel ini berhasil menyentuh saya lebih dalam mendorong lebih jauh dari apapun yang pernah saya baca di waktu yang lama.

Kisah ini diriwayatkan oleh K, sang narator sederhana dan misterius. Dia jatuh cinta dengan sahabatnya -seorang penyendiri, datar, namun cukup menarik, dan wannabe writer- Sumire. Namun, entah bagaimana Sumire jatuh cinta dengan seorang wanita yang lebih tua darinya: seorang yang elegan namun hampa secara emosional, Miu. Saya tidak akan mengatakan lebih banyak karena buku ini sangat pendek dan kebanyakan plot berasal dari kenangan K tentang persahabatannya dengan Sumire dan menggambarkan atas namanya, keinginan romansa yang ia miliki terhadap Miu.

Murakami menulis dengan ketulusan secara emosional -sebagaimana biasanya. Kata-katanya tergolong sederhana ketika dibandingkan dengan novel Murakami lainnya, namun dapat dengan indah menjelaskan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu. Seperti Toru sang protagonis di Norwegian Wood, K tidak dapat memiliki sang wanita pujaan sehingga mencari penghiburan melalui wanita lain secara seksual, dengan seringkali merasa tak acuh terhadap mereka dan tindakannya sendiri.

Memasuki buku ini lebih dalam, rasanya seperti mengintip di tepi tebing: memusingkan dan agak menakutkan. Ini, saya pikir, adalah sebuah novel tentang kesepian dan isolasi, tentang sifat fragmentaris menyakitkan hasil perilaku kita sendiri pada satu sama lain -pemikiran mengerikan yang mungkin bahkan tidak nyata bahwa, cinta antar dua manusia menempa sebuah hubungan diantaranya, bahwa ruang, waktu, dan peristiwa abnormal akan selalu dapat menemukan celah diantara diri kita sendiri dan orang lain.

Saya merasa bahwa novel ini seakan menjembatani antara novel yang lebih 'normal' dari Murakami seperti 'Norwegian Wood' dan novel surealis seperti 'WInd-Up Bird Chronicle'.Seperti kebanyakan buku Murakami, saya menganjurkan buku ini untuk dibaca. Novel ini singkat, tersaji dengan indah dan meskipun tidak se-epik karyanya yang lain, tetap menyenangkan untuk dibaca.

Thursday, 8 August 2013

Memperingati Hari Jadi ASEAN

Hari ini, tepat tanggal 8 Agustus, ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) genap memasuki umurnya yang ke-46. Sebuah pencapaian gemilang atas kokohnya rasa persatuan yang kuat antara masyarakat yang sangat bhinneka. Pembuktian sebuah komunitas antar-bangsa yang, atas dasar solidaritas dan persaudaraan tinggi, saling bahu-membahu mengawal kemajuan rakyatnya selama 46 tahun melawan berbagai kesulitan hingga tekanan asing. Selama 46 tahun ASEAN berjuang untuk menjaga serta terus memajukan kawasan Asia Tenggara ini. Dan sudah tiba saatnya untuk kaum muda meneruskan mantel perjuangan para leluhurnya.

Di era globalisasi yang penuh potensi tak terbatas ini, ruang dan waktu sudah bukan halangan lagi. Anda dapat dengan mudah menjangkau seseorang dimanapun dan kapanpun tanpa kendala. Pihak ASEAN-pun turut responsif dalam menanggapi laju evolusi sosial dan teknologi yang sangat pesat ini melalui pengimplementasian berbagai program revolusioner yang mencakup segala bidang. Seperti program ASEAN Scholarship dan Asean University Network(AUN) serta berbagai pertukaran pelajar untuk bidang pendidikan, Blue Card System, Pemberlakuan zona dagang bebas di wilayah ASEAN (AFTA), AEC (ASEAN Economic Comubity) yang rencananya akan mulai diberlakukan tahun 2015, hingga rencana Common Time dan integrasi mata uang untuk negara-negara ASEAN. Semua itu hanya bisa dilakukan berkat adanya kooperasi yang kuat antar anggota. Tentunya kaum muda sebagai penerus bangsa harus siap mengawal kemajuan ASEAN akan isu-isu baru di masa depan.

Mengutip semangat Joint Agreement 10 pemimpin ASEAN beserta delegasi kaum muda ASEAN, fokus pembangunan ASEAN terdiri dari tiga hal fundamental, yakni Pendidikan, Kepemimpinan, dan kewirausahaan. Pernyataan tersebut seolah menyerukan semangat perjuangan kepada kaum muda ASEAN dan khususnya Indonesia, untuk bangkit dan berkontribusi bersama-sama memperjuangkan kemajuan kawasan asia tenggara.

Tujuan yang sama juga menjadi salah satu faktor yang mendukung adanya persatuan antara negara regional Asia Tenggara dibawah suatu organisasi Internasional. Disamping kepentingan kesejahteraan rakyat, politik juga menjadi isu besar di masa kini. Republik Rakyat Cina yang tumbuh menjadi sebuah negara adidaya baru dan Amerika yang berencana menempatkan 60% militernya di kawasan Asia Pasifik serta kekuatan-kekuatan lama saling memperebutkan Sphere of Influence di wilayah yang kaya akan sumber daya alam ini. Hal ini membuktikan bahwa betapa dibutukannya persatuan yang kuat antara negara regional Asia Tenggara untuk membendung pengaruh politik asing. Bahkan dengan adanya organisasi persatuan seperti ASEAN, seperti yang sudah dibuktikan oleh EU, negara-negara tersebut dibawah satu entiti dapat berkembang menjadi sebuah kekuatan adidaya baru.

Sudah selayaknya masyarakat Indonesia sebagai pemegang teguh dasar negara Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman hidup dan bernegara untuk mengamalkan salah satu pokok utama kedua landasan negara tersebut, yakni turut menjaga perdamaian dunia dan bersifat kooperatif dalam membina hubungan baik lintas nasional. Ini sangat berkorelasi dengan gagasan mulia para pendiri ASEAN. Maka dari itu, kesadaran akan pentingnya hal tersebut sudah tidak dapat dipertanyakan lagi. Hubungan mutualisme yang saling menguntungkan dan rasa persatuan kuat menjadikannya sebuah dorongan untuk terus mempererat hubungan dan saling membantu dalam pencapaian solusi baik isu bilateral seperti perbatasan hingga masalah regional agar dapat terselesaikan dengan mudah dan terhindar dari konflik internasional.

Kesadaran akan pentingnya keberadaan ASEAN harus ditanamkan dalam jiwa masyarakatnya. Memang tentu ada beberapa kendala dalam pemberlakuannya, seperti isu primitif macam rasial, suku, dan agama hingga perbedaan ideologi bangsa. Namun, melalui teori bahwa adanya korelasi kuat antara ideologi bangsa itu sendiri dan betapa prospek faedah yang terkandung sangat berpotensi tinggi tentunya masyarakat akan sadar bahwa betapa isu-isu kecil diatas dapat dengan mudah dikesampingkan dengan mempertimbangkan prospek besar tersebut.

Tentunya sangat dibutuhkan dukungan pemerintah dan segenap elemen masyarakat dalam menggemakan ide-ide positif perjuangan integrasi ASEAN. Dengan tetap berpegang kepada fokus pembangunan dari Joint Agreement diatas, pemerintah terutama melalui sistem Pendidikan dapat berkontribusi secara besar dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberadaan ASEAN, khususnya untuk generasi muda Indonesia. Dalam hal ini, pendidikan dapat berupa dimasukkannya materi ASEAN ke dalam silabus kurikulum sejak SD hingga Perguruan Tinggi. Disamping itu, masih banyak hal yang dapat dilakukan diluar pendidikan seperti ditetapkannya hari libur dalam rangka merayakan hari jadi ASEAN setiap tanggal 8 agustus. Turut pula penggunaan berbagai media dan penerangan langsung dengan memanfaatkan pergerakan institusi-institusi terkait dan aktivis dalam program-program penyuluhan.

Dalam rangka menyambut hari jadi ASEAN, yang kebetulan dekat dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan bersamaan dengan hari raya Idul Fitri ini, mari kita tingkatkan semangat persatuan antara saudara setanah air dan kamerad serumpun dekat kita.

Sunday, 28 July 2013

Norwegian Wood (2013)



Novel yang menakjubkan dan elegis oleh penulis dari novel sangat terkenal Wind-Up Bird Chronicle dan Kafka On The Shore ini sudah terjual lebih dari 4 juta salinan di negara asalnya, Jepang. Kini sudah tersedia terjemahannya di beberapa toko buku besar di Indonesia. Saya sendiri baru akhirnya menemukan novel ini di sudut rak novel terjemahan Gramedia IP Bandung tepat dua hari lampau (selama ini baca via ebook, ahem). Oh ya, adaptasi film juga ada.

Norwegian Wood (mangacu pada lagu Beatles dengan nama yang sama) adalah salah satu buku Murakami yang lebih awal dan dianggap sangat otobiografis. Buku ini juga lebih 'linear' atau 'normal' ketimbang buku Murakami lainnya.

Cerita dimulai dengan sang narator dan tokoh utama, Toru Watanabe, yang sedang berada di atas pesawat di umur awal 30an dan mengenang kembali saat ia berumur sembilan belas tahun pada akhir 1960. Dia menceritakan tentang seorang wanita yang sangat dicintainya dan hilang. Toru saat berumur sembilan belas tahun adalah seorang mahasiswa muda yang kembali menjalin persahabatan dengan Naoko, pacar teman dekatnya, Kizuki, yang bunuh diri ketika berusia tujuh belas tahun.

Kembali ke masa muda Toru, Toru dan Naoko berjuang untuk melupakan tragedi kematian teman mereka namun masih menghormati memori teman mereka itu. Mereka juga berjuang untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekadar berbagi kenangan teman mereka. Mereka terikat bersama oleh kematian Kizuki dan disaat yang sama juga dibatasi olehnya.

Toru mulai beradaptasi dengan kehidupan kampusnya dengan kesepian dan isolasi yang harus ia hadapi disana. Lain hal dengan Toru, Naoko merasa tekanan dan tanggung jawab yang tak tertahankan. Ketika dia mengasingkan diri lebih jauh ke dalam dunianya sendiri, Toru menemukan dirinya menjangkau orang lain dan tertarik pada seorang wanita muda yang sangat independen dan bebas secara seksual.

Buku ini ditulis dengan indah, dan saya benar-benar menikmati karakter dan merasa teridentifikasi dengan perjuangan mereka. Cerita yang gelap namun tidak berlebih; entah bagaimana tetap halus. Saya terkadang menemukan beberapa dialog lebih kaku ketimbang dengan bagian lainnya. Mungkin ini berkaitan dengan hasil translasi atau perbedaan kultur dan bahasa (saya baca versi translasi Amerika) .

Saya senang cara menulis Murakami, yang bersentral pada tema besar seperti Cinta dan Kehilangan, namun sangat memperhatikan detil pada keseharian dalam cerita, seperti rute bus dan pekerjaan paruh waktu. Uang bukanlah masalah utama dalam cerita namun tetap diakui sebagai hal penting oleh karakter (seperti sanatorium Naoko, misalnya, adalah tempat untuk orang kaya yang mampu untuk hanya beristirahat). Saya belum pernah ke Jepang, namun deskripsi Murakami yang jelas membuat saya merasa berada di sana.

Sebuah cerita pedih romantis coming-of-age dari seorang mahasiswa, Norwegian wood membawa kita ke sebuah tempat yang jauh tentang kisah cinta seorang pemuda yang pertama, heroik, dan penuh keputusasaan.

Tuesday, 23 July 2013

Waktunya Indonesia

Butuh sekitar 500 tahun untuk peradaban kuno mesir akhirnya mengalami kemunduran. Kekaisaran Romawi mampu bertahan kurang lebih sama, sekitar 520 tahun. Jika dijumlahkan dengan masa pemerintahan republik (450 tahun) jadi sekitar 970 tahun. Selanjutnya muncul peradaban kuno India yang juga mampu bertahan cukup lama, sekitar satu milenia (1000 tahun). Lalu muncul peradaban Islam yang terbentang dari ujung persia hingga cordoba, spanyol. Kendati demikian, terhitung dari masa peradaban Islam Arab selama 700 tahun ditambah masa kekhalifahan usmani (Ottoman) Turki selama 500 tahun jadi sekitar 1200 tahun. Dan sekarang, sudah lebih dari 300 tahun peradaban barat berjaya. Dan banyak ahli berpendapat, the inevitable decline of western civilization sudah mulai tampak.

Roda berputar. Sudah terbukti, belum ada satu peradaban manusia yang mampu bertahan selamanya. Sudah mulai dominasi kekuatan barat merasa tertandingi oleh bangkitnya raksasa tua: Asia-secara khusus, Cina. Seakan tak mau kalah, kawasan Amerika Selatan juga mulai menunjukkan taringnya, dengan negara seperti Brazil dan Argentina yang diprediksikan menjadi salah satu dari beberapa negara yang kelak akan mendominasi di masa mendatang.

Indonesia tak terkecuali. Tanah air tercinta kitapun sedang sarat dengan optimisme perubahan. Kemunculan pemimpin muda dan luar biasa seperti Jokowi, Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil menginspirasi rakyat -khususnya kaum muda- untuk semangat turut serta dalam pembangunan bangsa. Ditetapkannya tokoh pemegang jabatan dari partai berkuasa seakan membuktikan bahwa tak ada pengecualian dalam penegakkan hukum; bahwa bangsa Indonesia dapat terlepas dari tradisi tua turun-menurun warisan pemerintahan kolonial licik: korupsi. Betapa arus perubahan positif sedang derasnya mengalir.

Peta politik 2014 seakan menjadi sebuah batu lompatan besar dalam harapan masyarakat. Pemimpin yang ikut bertarung didalamnya pun merupakan para tokoh yang dipercaya rakyat untuk membawa perubahan. Pemilu sudah bukan tentang manuver politik belaka. Pemilu dimata rakyat merupakan sebuah kesempatan penting untuk turut andil dalam menentukan arah pembangunan negara. Rakyat sudah percaya bahwa pemilu adalah tentang memilih seorang pemimpin.

Dalam statistik, terlihat banyak peningkatan di berbagai bidang kendati krisis ekonomi hingga bencana alam yang menimpa Indonesia. Angka kemiskinan tercatat dari tahun 2004 silam mengalami penurunan dari 14% menjadi 11,6%. Memang tidak signifikan namun ada peningkatan. Angka Pengangguran juga mengalami penurunan tercatat tahun 2004 sebanyak 10% sampai hari ini 5,4%. Pendapatan Per Kapita meningkat cukup baik dari awalnya USD $1.100 kini menjadi USD $4.000. Bahkan pertumbuhan ekonomi juga meningkat, seperti apa yang dikatakan Menteri Ekonomi Hatta Rajasa, "Kita bersyukur pertumbuhan kita bisa ditahan 6 persen di kuartal I 2013 6,02 persen,".

Memang Indonesia masih belum terlepas secara penuh dari pengaruh budaya kolot. Masih banyak kasus korupsi yang hingga saat ini masih tanda tanya besar. Namun, secara pasti saya bisa menyatakan bahwa pemberantasa korupsi di Indonesia is more vicious than ever. Dari data milik ICW didapat bahwa dalam semester awal 2012 saja tercatat sebanyak 597 koruptor sudah ditangkap. Bahkan menteri dari partai bos besar sekalipun tidak luput dari jangkauan hukum. Suatu pencapaian yang luar biasa.

Seakan tak mau kalah, demografi menunjukkan, saat ini jumlah penduduk Indonesia terbanyak ada pada batas umur 10-19 tahun yang berjumlah kurang lebih 44 juta. Kelompok umur tersebut -yang seringkali diselukan sebagai Indonesia's Golden Generation- akan memasuki umur produktif sebentar lagi. Hal ini berkorelasi dengan prediksi ahli ekonomi dan politik akan masuknya Indonesia ke ranah adidaya global.

Semangat kemajuan tersebut tentunya harus bersamaan dengan perkembangan mental generasi emas. Pemerintah sudah selayaknya ikut andil dalam pemberantasan KKN dalam lingkup generasi muda, dalam hal ini sekolah. Penguatan hukum tertulis menyoal KKN di lingkup sekolah bukan hal sepele. Hukum mendetail seperti itu minimal akan menimbulkan kesadaran dalam benak segenap pihak terlibat. Pengawasan juga harus lebih ditingkatkan dan melibatkan lebih banyak pihak baik Komite Sekolah hingga guru dan siswa itu sendiri. Tentunya pengarahan melalui jalur pendidikan dan pendekatan harus juga digalakkan. Jiwa tanggung jawab dan jujur harus selalu dijunjung tinggi baik dalam kasus ini maupun bekal untuk di masa yang akan datang. Dengan kemauan yang tinggi saya percaya sedikit demi sedikit budaya KKN bisa dihapuskan.

Kaum muda sendiri secara progresif terus mengembangkan diri. Sudah lazim jaman sekarang kelompok anak muda diskusi hal muluk seperti politik hingga teknis ekonomi. Budaya kritis kaum muda warisan generasi leluhur masih terus terjaga hingga sekarang. Memang belum begitu banyak, namun itulah sebuah progres.

Suatu kehormatan bagi kita untuk turut ikut andil dalam kemajuan paling agresif dalam sepanjang riwayat perjalanan Republik Indonesia sebagai sebuah negara. Mari kita segenap bangsa Indonesia menjawab panggilan Ibu Pertiwi. Mengutip Ridwan Kamil, "Mari bergerak, ada kereta mimpi yang harus kita kejar".

Friday, 19 July 2013

From The New World (Shin Sekai Yori) (2012)



We ultimately fear what spawns from within us.” -Aonuma Shun


From The New World adalah salah satu dari jenis novel dimana pembaca duduk terdiam dengan khidmat seraya penulis menuntun anda menuju alam imajinasi terliar tak kenal batas. Dan saya pikir bukan hal yang aneh jika ternyata sang penulis berasal dari masa depan, betapa "Dunia Baru" yang ia deskripsikan dengan tidak hanya persuasif namun sangat terhubung dan masuk akal. Oh ya, nama penulisnya tak lain tak bukan sang penulis horror Jepang legendaris, Kishi Yūsuke.

Novel ini bercerita tentang fiksi spekulatif dengan latar waktu 1000 tahun di masa yang akan datang, dimana manusia telah membuat sebuah dunia utopia untuk ditinggali. Manusia telah berevolusi menjadi spesies yang mampu menggunakan sebuah kekuatan supranatural yang umumnya disebut "Juryoku" atau Cantus. Dalam dunia baru ini manusia tidak memiliki kebutuhan maupun keinginan akan kemajuan teknologi dan berkuasa mutlak atas spesies pribumi seperti yang disebut Bakenezumi dan spesies rendah lainnya.

Cerita berfokus pada tokoh utama Watanabe Saki, seorang gadis kecil yang baru saja masuk sekolah(belajar cantus tentunya). Dikisahkan bahwa Saki adalah siswa yang terakhir dinyatakan layak untuk masuk sekolah sementara 4 kawan sepermainannya sudah masuk terlebih dahulu. Bagian awal menggambarkan bagaimana antusiasme hari pertama masuk sekolah. Dan mulailah timbul kecurigaan saat seorang rekan kelompok belajar mereka mengalami kesulitan dalam proses belajar dan menghilang begitu saja keesokan harinya. Kendati demikian, novel ini jelas bukan untuk yang belum cukup umur; bersiaplah untuk menghadapi banyak kematian, kesadisan, tipu muslihat yang jauh lebih kompleks dan tema sangat dewasa.

Shin Sekai Yori menyinggung isu kontroversial tentang ketidaksamaan dan kekeliruan fatal dalam kondisi hidup manusia-yang memang sudah bagian dari sifat dasar manusia. Novel ini menunjukkan kepada kita sisi gelap dari kontrol absolut, harga kerahasiaan dan bahaya keingintahuan. Tidak diragukan lagi, Shin Sekai Yori berhasil menceritakannya dengan intens dan benar-benar memuaskan yang membuat anda sulit untuk berhenti membaca. Saya sendiri awalnya agak dibingungkan dengan apa yang sebenarnya terjadi, apa dystopia factor nya dan cukup terkejut ketika sadar bahwa ini dan itu ternyata bukan inti masalahnya. Shin Sekai Yori membuat anda terus bertanya dan setiap pertanyaan yang terjawab akan membuahkan lebih banyak misteri.

Karakter yang ditampilkan dalam novel ini dari masing-masing perspektif menarik dan dapat disukai; semua memiliki motivasi dan sebab dibalik apa yang diperbuatnya. Karakter utama novel ini terbukti cerdas dan sangat ingin tahu namun jauh dari sempurna karena masing-masing memiliki karakteristik menarik yang mendefinisikan siapa mereka. Dengan hormat saya harus memuji sang penulis, Kishi Yūsuke, yang telah menjalin persona masing-masing yang terkadang terlalu jelas dan seringkali mengalihkan dari plot. Karena takut akan membahas terlalu dalam dan merusak pengalaman membaca, saya akhiri disini.

Cerita gelap penuh plot tak terduga dengan konflik moral yang dalam, mungkin inilah buku yang sedang anda cari.

Monday, 15 July 2013

Terlalu Pagi

Menurut saya, Bangun pagi itu tidak sehat.
Atau lebih tepatnya, Waktu mulai kesibukkan sekitar pukul 06.30 itu kurang baik.

Sebelumnya, saya bukan bicara jam bangun seperti sahur atau salat subuh untuk kaum muslim. Dan bukan pula jadwal urus burung peliharaan di pagi hari, yang tentu saja menyenangkan. Yang ingin saya bahas adalah Jam kerja atau sekolah, jam mulainya segala aktivitas, yang terlalu dini.

Oke, sekarang saya ambil contoh jadwal standar rata-rata anak SMA. Kira-kira begini:
05.00-06.15 bangun pagi dan salat subuh, bersiap untuk sekolah
06.15-06.45 berangkat ke sekolah
06.45 bel masuk sekolah
06.45-14.00 kegiatan belajar mengajar
14.00 bel selesai kbm
15.00-18.00 bimbel/les
18.00-19.00 makan malam
19.00-23.00 waktu bebas (belajar, main)
23.00-05.00 tidur malam

Jam masuk sekolah 06.45 saya rasa terlalu pagi, sekalipun diukur dengan standar Indonesia. Bahkan memang awalnya sekolah pada umumnya masuk pukul 07.00, namun berkat kebijaksanaan pak gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, waktu masuk sekolah di Jakarta diubah menjadi lebih awal, pukul 06.30. Dan parahnya, para edukator muluk di daerah mengikuti langkah sang gubernur besar.

Seorang tetangga yang merupakan pegawai BUMN, berangkat ke kantor kira-kira 08.00, yang walaupun dibandingkan dengan standar jam kerja di beberapa negara lain agak lebih pagi, saya rasa cocok di Indonesia. Memang jarak dari rumah ke kantor mungkin hanya membutuhkan kurang dari 15 menit menggunakan sepeda motor. Namun kenyataannya, tidak semua orang berkantor dekat.

Begini, seperti yang tadi saya bilang, tidak ada yang salah dengan bangun pagi. Bahkan menyehatkan. Nah alangkah sayangnya waktu pagi yang sehat itu tidak digunakan sebaik-baiknya. Coba bayangkan, hal yang hanya anda bisa lakukan di sabtu pagi bisa dilakukan setiap hari. Urus kandang burung, olahraga pagi, mandi dan sarapan pagi dengan santai, setalah salat subuh bisa dilanjut tidur, apalah. Berangkatpun tidak terburu-buru.

Mungkin pukul 6 pagi hari merupakan waktu yang tepat untuk mulai bersibuk, pada satu waktu dahulu. Entahlah saya sangat meragukan. Sayangnya, sekarang sudah berbeda.

Sekarang sudah lazim bagi anak sekolah untuk tidur pukul 1 dini hari. Lebih kurang sama dan seringkali lebih untuk orang dewasa. Disamping jadwal yang padat kendati mulai lebih awal, gaya hidup juga sudah berubah. Selesai kegiatan mungkin sekitar jam 6 sore jika tanpa kesibukan lain. Untuk yang bekerja paling cepat selesai mungkin sekitar jam 5 ditambah waktu perjalanan kurang lebih sama dengan pelajar, pukul 6 lebih. Mayoritas yang bekerja, pukul rata mungkin sekitar jam 8 sampai rumah. Sehingga wajar saja kebanyakan orang lebih memilih untuk menghabiskan sebagian waktu tidurnya untuk melakukan sesuatu. Namun demikian, jadwal besok tetap pagi.

Globalisasi, apalah. Mungkin hanya sekadar revolusi sosial yang sedang, selalu, terjadi di setiap masyarakat. Waktu kerja internasional yang menuntut puncak kesibukkan dimulai tengah hari dan gemerlap hiburan pelepas yang selalu ramai di tiap malam menuntut adaptasi tinggi yang sayangnya tidak terlalu ditanggapi dengan serius oleh institusi terkait, seperti pemerintah.

Memang sudah penyakit semi-kekal bahwa pemerintah Indonesia tidak begitu tanggap dengan kebutuhan rakyatnya-Lah wong monorail saja hanya baru-baru ini ramai menjadi bahan kampanye calon pejabat. Misal jam sekolah di jerman adalah dimulai 8am selesai 1pm. Jepang mulai pukul 9.30 pagi dan selesai pukul 3 siang, Malaysia dan Singapura mulai pukul 8.00 dan selesai 14.30. Dan agak mencengangkan betapa tertinggalnya taraf hidup Indonesia dibanding kedua negara serumpun tersebut.

Belakangan sempat baca pernyataan pak Jusuf Kalla terkait kemajuan teknologi bahwa seperti cina, "Kalau belum bisa cipatakan, tiru dulu". Nah mungkin bisa dimulai dari sistem waktu kerja.

Thursday, 11 July 2013

Tentang Musik Pop Kontemporer

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca suatu hasil penelitian milik Dr. Nathan DeWall dari  University of Kentucky.  Dr. DeWall menganalisa statistik lagu hit selama tiga dekade terakhir.

Penelitian dilakukan dengan sampel lagu-lagu hit berbagai genre dan sub-genre selama tiga dekade terakhir dengan referensi seperti Billboard USA, berbagai radio dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu menyebutkan bahwa ada tren statistik kecenderungan peningkatan penggunaan kata-kata dengan emosi negatif dan sentimen kebencian, sementara disaat yang sama terdapat kecenderungan penurunan penggunaan kata-kata sentimen positif. Dijabarkan seperti penggunaan kata "I" atau "Me" lebih sering muncul dan seringkali bersamaan dengan emosi negatif sementara kata "We" dan "Us" mengalami penurunan drastis.

Penelitian itu juga menunjukkan lewat analisa linguistik dan program word count, bahwa lagu-lagu tersebut kebanyakan hanya bercerita tentang satu manusia istimewa: sang penyanyi itu sendiri. Justin Timberlake hendak “I’m bringing sexy back,” Beyonce berlenggak-lenggok sambil menggoda “It’s blazin’, you watch me in amazement", sedangkan Fergie dari kolektif Black Eyed Peas, yang menyanyi tentang “my hump” di album solonya mengusir sang kekasih dengan menggunakan kata-kata “It’s personal, myself and I.”

Lirik-lirik ini misalnya, bertentangan dengan lagu-lagu dengan sentimen positif seperti "Ebony dan Ivory" milik Paul McCartney tentang keharmonisan antar-ras, John Lennon berpesan lewat "Imagine" yang bertutur tentang komunalisme, atau bahkan lagu narsistik "We Are The Champions" Queen masih menggunakan kata "We" dan mengandung sentimen positif.

Hasil penelitian Dr. Nathan Dewall mengafirmasi apa yang ditulis pendahulunya W. Keith Campbell dan Jean M. Twenge, yang kebetulan menjadi co-author DeWall, lewat The Narcissism Epidemic. Terbukti bahwa dampak wabah narsisisme lebih parah diderita oleh anak muda konsumen musik artis-artis tersebut. 

Late adolescents and college students love themselves more today than ever before,” demikian kesimpulan dari Dr. DeWall mengenai hasil risetnya.

Entah apakah lagu generasi sekarang dijadikan sampel-saya rasa tidak-dalam penelitian tersebut. Namun percayalah, jika sebangsa Lady Gaga, Will I Am, dan Justin Bieber dimasukkan, maka hasil penelitian itu pasti menghasilkan data statistik epidemi narsisisme yang semakin parah.

Tak perlulah saya sertakan K-Pop wannabe ala Indonesia.

Salah satu hal mengapa artis-artis tersebut memperoleh jutaan pengikut di twitter-seperti Taufiq Rahman lewat buku terbarunya bilang, sebuah mesih pengganda narsisisme yang sangat efektif-adalah disebabkan oleh lirik lagu mereka yang tidak pernah gagal menanamkan pemahaman bahwa semua orang adalah istimewa dan unik, sebuah resep narsisisme akut.

Jika anda fans dari mereka tentu senang dengan tren lirik lagu sekarang yang emansipatif dan self empowerment-yang jika tidak berbahasa inggris mungkin akan sama dengan apa yang dikatakan para motivator lokal seperti Mario Teguh.

Semua orang unik dan istimewa.

Begini, sah-sah saja anda berpikir demikian. Toh pada akhirnya memang memiliki diri sendiri. Namun kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang unik dan istimewa. Hanya ada satu akun Lady Gaga dan jutaan follower. 

Kenyataan sosial yang pahit lainnya adalah hanya akan ada dua kelas sosial, borjuis dan kelas pekerja. Atau bagi anda penganut liberal, cuma ada kaum elit dan middle-class. Semua orang menjadi istimewa hanya ada dalam utopia komunisme yang tidak akan pernah tercapai (Pernah satu waktu sekelompok buruh tak berpendidikan mencoba menerapkannya dalam menjalankan sebuah negara dan hasilnya? Karl Max tua saja tidak se-ekstrem itu). Dan perbenturan antara nilai ideal lirik Lady Gaga dengan kenyataan sosial yang pahit itulah yang membuat lirik Lady Gaga seperti berdentang kosong.

Miris memang dengan tren musik Pop kontemporer. Lebih banyak orang yang mudah ditipu oleh janji-janji manis self-empowerment ketimbang nyanyian terus terang tentang kompleksitas dan kenyataan pahit kehidupan manusia.

Mindset orang sekarang kan, mengutip Sore, "220 juta manusia tersesat ke satu lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa". Mau terkenal lewat Youtube. Mau jadi Artis Instan. Mau jadi istimewa.

Entahlah, di Indonesia sendiri saya rasa sangat berdampak. Dunia pertelevisian Indonesia dahulu, sesuai segmentasinya yang memang sengaja ditujukan untuk dewasa (lain cerita dengan acara anak-anak), lebih realistis. Tidak ada FTV gadis miskin (yang entah mengapa pembawaannya shout-out loud bahwa stratanya diatas sang majikan) bertemu pria kaya dan happily ever after. Mungkin jika anda masih ingat, Atun sang adik pemeran utama tidaklah secantik pemeran tambahan pelayan lewat di sinetron masa kini. Heck, keseluruhan acara "Si Doel Anak Sekolahan" memang bicara tentang keseharian keluarga betawi di tengah pertumbuhan Jakarta sebagai kota metropolitan.

Kisah begitu membuat kita sadar bahwa tujuan kita hidup bukan hanya menjadi manusia istimewa belaka. Anda tak perlu berkuliah di universitas negeri ternama dengan memaksakan harus masuk dengan berbagai cara hanya untuk mencari nafkah. Anda tak perlu memiliki banyak follower instagram untuk menjadi seorang forografer. 

Anda tak perlu istimewa untuk menjadi seorang manusia.