Monday, 25 February 2013

Tentang Makhluk Gaib

Buat saya, makhluk gaib dan kawan-kawan, secara pribadi kurang begitu dapat percaya. Memang dasarnya secara logika dan fakta terbukti, sulit diterima akal sehat -entah sebagaimana seorang mencoba membenarkannya. Percayalah, dengarkan pikiran sehat anda dalam urusan ini.

Yang menjadikan hal ini sebuah polemik untuk saya -dan saya yakin, banyak muslim lainnya- adalah dimana posisi saya sebagai seorang muslim diharuskan (ada ayat tertulisnya, terus terang kurang tahu spesifiknya yang mana jadi silahkan seilidiki, wahai teologian muda) untuk percaya akan keberadaan makhluk fantasi tersebut sementara disaat yang sama seperti yang sudah saya bilang, sulit untuk diterima akal sehat manusia waras. 

Pada waktu tertentu, serikat kerja otak saya muncul dengan sebuah titik temu: bahwa makhluk gaib mungkin memang ada, tapi tidak dapat, dengan cara apapun -kecuali dengan kehendak Tuhan, tentunya- berinteraksi dengan dunia manusia. Untuk fans sci-fi mungkin boleh disebut semacam pararel universe, apalah. 

Mungkin tidak juga. Saya pikir kompromi tersebut hanya berguna untuk menentramkan mereka yang takut akan makhluk gaib; tentunya itu berarti percaya. Mengakui adanya makhluk asing tersebut. 

Begini, kalau bahasa orang sini biasa bilang "Jangan Sompral". Sompral dapat diartikan kurang lebih adalah bahwa perlakuan dimana seorang berbuat seakan menantang terhadap makhluk gaib, seperti melakukan hal tabu atau tak sopan di tempat yang umumnya dianggap mistis seperti kompleks pemakaman, apalah. Namun kenyataannya, banyak orang yang biasa 'sompral' dan bahkan terkadang kelewatan tapi sehat-sehat saja. Tak pernah sekalipun bertemu kesukaran abnomal atau hal mistis lainnya. Saya sendiri hampir setiap hari 'sompral', tak pernah berada di situasi bernuansa mistis. Banyak juga kawan lainnya yang mengaku demikian. Entahlah.

Pada akhirnya, eksistensi Makhluk Gaib tetap akan selalu menjadi sebuah polemik ketika hal tersebut diuji secara rasional dalam batasan agama. Dan saya dengan konteks sebagai seorang muslim tentunya tak bisa melewati batasan regresif tersebut, jadi ya sudahlah.