Wednesday, 24 April 2013

Buat e-KTP



Ini pengalaman pribadi.

Saya mau berbagi soal proses pembuatan e-KTP yang panjang dan melelahkan yang baru saya lalui waktu dekat ini.

1.
Tahap pertama saya ke pengurus RT, lalu diberi formulir. Setelah dilengkapi, tak lupa dilampirkan Kartu Keluarga (KK). Lalu minta kelengkapan cap dan nomor formulir dari Sekertaris RT. Pak RT bilang dilanjutkan ke kecamatan.

2.
Kecamatan. Sampai disana saya kangsung menuju meja pelayanan dan memberikan data tersebut. Ternyata harus melalui Kelurahan, katanya melampirkan semacam formulir. Selanjutnya disini tinggal foto diri dan cek mata (mungkin maksudnya scan retina). Pas saya tanya alamat, dijawab kurang tahu.

3.
Setelah tanya sana-sini dan sempat nyasar, akhirnya ketemu kantor kelurahan (di ujung jalan buntu sebuah perumahan). Dari luar terlihat petugas tengah seru bermain tenis meja, adapula yang tidur dan 2 orang bermain kartu. Saya masuk dan langsung menanyakan mengenai pembuatan e-KTP. Ternyata kurang foto 3x4. Saya jelaskan bahwa dari kecamatan bilang foto diri dan scan retina langsung disana. Pak lurah bilang tidak tahu, sudah aturan. okee..

4.
Setelah mengisi formulir lagi dan mencantumkan foto, langsung saya bawa ke kecamatan. Dilanjut proses foto dan scan mata, proses di tahap ini cukup lancar walau mesin scan sempat sedikit bermasalah.

5.
Tunggu jadi. Berhubung belum ada sistem notifikasi, si bapak di front desk yang ramah memberi tahu saya untuk coba cek kembali minimal 1 bulan kedepan.

Cukup merepotkan kalo boleh jujur. Disamping kurangnya informasi, juga komunikasi antar pihak, sistemnya pun memang dasarnya ya cukup merepotkan. Jadi tidak bisa hanya sekali ke kantor tertentu dan selama disitu bisa diproses, harus melalui beberapa tahap dan tidak bisa langsung keatas, harus melalui dibawahnya secara berurut sampai ke tingkat kecamatan.

Saran saya: One Roof Service atau Layanan Satu Atap
Khusus bandung, setau saya sudah menerapkan Layanan Satu Atap ini di beberapa sektor melalui BPMPPT. Walau memang belum praktikal, tapi minimal sudah ada konsepnya. Nah harusnya pendataan kependudukan bisa begini.

Bisa dengan data yang disimpan secara arsip digital (online). Jadi semisal saya ke kecamatan ya bisa diproses tanpa harus melalui RT. Lalu jika ada kekurangan arsip bisa dicari di jaringan data kependudukan. praktis dan mudah. Gak praktikal? gak juga. Pemerintah sudah paham dan mengerti dengan internet. Heck, hampir semua institusi pemerintah punya website.

Ya banyaklah konsep macam begitu. Toh ini kan lebih menghemat biaya terutama di operasional. Intinya lebih hemat dan memudahkan.

No comments:

Post a Comment