Wednesday, 10 April 2013

Edukasi Finlandia

"inilah yang kami lakukan setiap hari," kata kepala sekolah Kirkkojarvi Comprehensive School Kari Louhivuori, "mempersiapkan anak untuk kehidupan" (Stuart Conway)  - smithsonianmag

Semua setuju edukasi di Indonesia butuh reformasi. Heck, wacana kurikulum 2013 yang membingungkan itu. Setelah banyak membaca tentang edukasi di finlandia, saya tertarik untuk membahasnya di blog ini. Juga berhubung saya masih duduk di bangku SMA hehe. Yang saya harapkan, pemerintah setidaknya berminat akan prospek hal ini dan sekadar mempelajari atau sekalian dalam rangka 'kunjungan kerja' kesana dalam konteks mempelajari sistem edukasinya ketimbang belajar RUU SANTET ke eropa barat.

Beberapa poin menarik terkait sistem pendidikan Finlandia:

  • Setiap pelajar diberi kebebasan dalam menentukan jadwal pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai. Kontras dengan sistem di tanah air dimana pelajar diberi materi secara paket dan siap atau tidak siap wajib mengikuti ulangan yang disamakan untuk semua siswa tanpa melihat perbedaan aspek lain seperti IQ dan SQ anak.
  • Sekolah tidak menjual nama, kualitas semua sekolah sama karena taraf fasilitas yang semua sama (dan tinggi tentunya) dan pengajar berkualitas yang tersebar Yang membedakan hanya 2 hal: tiap sekolah memiliki pelajaran bahasa asing dan olahraga  yang berbeda. Di Indonesia tiap sekolah bersaing merebut posisi pertama dalam jumlah pendaftar dan angka passing grade. Faktanya (ini terjadi dengan seorang kawan), banyak sekolah yang posisinya kluster (semacam klasifikasi level sekolah negeri di Indonesia) 1 bisa dengan mudahnya menerima siswa pindahan dari sekolah swasta yang di sekolah asalnya dinyatakan tidak naik kelas. Ini baru satu contoh, mau bicara soal sistem kluster perlu post tersendiri, ahem.
  • Dibandingkan dengan stereotipe model Asia Timur - jam panjang melelahkan dan menjejalkan hafalan berat - Keberhasilan Finlandia sangat menarik karena sekolah Finlandia menetapkan kurang pekerjaan rumah dan melibatkan anak-anak dalam bermain lebih kreatif. Semua ini telah menyebabkan delegasi asing berziarah ke Finlandia untuk mengunjungi sekolah dan berbicara dengan ahli pendidikan bangsa, dan liputan konstan dalam media di seluruh dunia mengagumi keajaiban Finlandia. Di Indonesia? Mungkin niatnya ingin mengikuti model negara asia timur. Namun, dengan minimnya SDA dan rendahnya kualitas SDM di sektor edukasi.. yah begitulah. Jadi di Finlandia, jam belajar minim? libur panjang? cek dan cek.
  • Bebas biaya, Termasuk makan siang panas gratis setiap hari, kesehatan sekolah dan transportasi gratis bagi anak-anak yang tinggal terlalu jauh dari sekolah untuk berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum. Berbeda dengan sekolah-sekolah di Indonesia kalau yang ingin gratis ya sekolahnya sekedarnya, pemerintah hanya mampu membangunkan sekolah yang kurang layak, kalau ingin sekolah yang bagus atau layak, orang tua masih dibebankan biaya yang cukup besar, sehingga timbullah kesenjangan pendidikan dengan fasilitas sekolah yang berbeda-beda antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lainnya.
  • Learning is fun, LITERALLY fun. Ya, di Finlandia, belajar bisa menyenangkan. Sebelumnya saya bilang di Indonesia masih berlaku metode ceramah. Didukung sistem independen yang memberikan kebebasan ber-inovasi, para edukator disana aktif turun dalam perkembangan metode belajar dari basis day-to-day. Jadi disana biasa jika melihat metode tiap murid bisa berbeda-beda. Di Indonesia sendiri memang ada beberapa guru yang mengaplikasikan metode belajar konvensional yang aktif dan menyenangkan. Namun, kurangnya dukungan dan kesulitan dalam menyesuaikan metode revolusioner-nya dengan sistem di Indonesia membuatnya hanya bersifat temporer dan para inovator tersebut akhirnya kembali ke metode ceramah. 
  • Sedikit tes dan lebih banyak belajar. Indonesia memberlakukan sistem standardized test dengan UN, SNMPTN, SBMPTN, apalah. Proyek habis milyaran, hasilnya hanya segelintir orang bermutu dan inovatif. Toh wajar saja, bagaimana mau inovatif yang dikejar hanya Tes, Tes, dan Tes. Nanti kalau sudah dunia bekerja bagaimana? Apalagi mau wiraswasta. Jadi sebaliknya, guru sistem sekolah publik dilatih untuk menilai anak-anak di kelas menggunakan tes independen mereka ciptakan sendiri. Semua anak-anak menerima rapor pada akhir setiap semester, namun laporan ini didasarkan pada penilaian individual oleh masing-masing guru. Secara berkala, Departemen Pendidikan melacak kemajuan nasional dengan pengujian suatu kelompok sampel beberapa di berbagai sekolah yang berbeda. Oh ya, metodenya disebut National Matriculation Exam
  • Evaluasi belajar secara nasional hanya dilakukan dijenjang SMA ketika yang bersangkutan akan melanjut keperguruan tinggi atau merambah dunia kerja. Walah, Pemerintah Indonesia akan kehilangan proyek besar jika pelaksanaan Evaluasi hanya dilakukan di tingkat SMA. Dengan berdalih bahwa setiap jenjang pendidikan memperoleh keadilan kesejahteraan ($blingbling$) bagi penyelenggara pendidikannya.
  • Implementasi teori aktual bahwa PR tidak membuat anda pintar, Finlandia menetapkan maksimum untuk PR adalah 30 menit/hari. Ini juga sedang panas dibicarakan di kalangan edukator Amerika Serikat. Sistem pendidikan AS yang menganut mazhab PR less than 3 hours/day saja dipertanyakan. Lah di Indonesia malah dianggap jauh dibawah standar. Apalagi masa libur, PR menggunung sekali.
  • Kualifikasi gurunya pun tinggi sekali, tidak hanya sebagai pengajar, namun dituntut menjadi pakar kurikulum. Dalam basis day-to-day di tiap kelas, para guru di spesialisasikan menjadi 2 jenis guru, yakni guru yang difokuskan pada kurikulum (minimal lulusan s2/magister) dan guru pendamping (minimal s1, namun sering s2/magister) dimana si guru khusus ini difokuskan mengenal dengan personal dan dapat menilai kualitas murid dengan mempertimbangkan segala aspek. Dengan sistem 2 guru di kelas maka "proses daripada hasil" yang ironisnya sering digemborkan di tanah air, secara faktual dapat terjadi di Finlandia. Di daerah-daerah terpencil masih banyak guru yang tidak kuliah sama sekali. Bukan saya hanya menilai dari gelar, justru pemerintah mbok ya minimal beri penghargaan untuk para edukator hebat tersebut dengan memberi beasiswa kuliah toh.
  • Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Untuk hal ini sebagian besar sekolah di Indonesia belakangan sudah tidak lagi menggunakan sistem rangking. namun dalam otak guru dan orang tua tetap yang terbaik adalah siswa yang memiliki semua nilai mata pelajaran yang baik atau tertinggi, sehingga yang dikejar oleh para siswa adalah nilai-nilai baik dari setiap matapelajaran. Guru yang mampu memotivasi siswa mengikuti pelajaran yang diberikan nya, tidak membuat siswa tegang, siswa suka belajar dengan dia, maka biasanya pelajaran yang diajarkannya akan diminati dan akan mendapatkan nilai yang baik. Sebaliknya saat guru yang tidak disukai akhirnya mereka tidak mau mendalami materi pelajaran yang diajarkannya.
edit: Gak juga deng, saya baru ingat terakhir pembagian rapor para guru di sekolah saya (suatu sma negeri kluster atas dengan nomor satu digit di bandung) masih menerapkan sistem rangking dengan menulis urutannya di papan tulis/mengumunkannya saat pembagian rapor. Walaupun memang di rapor tertulisnya sudah dihapuskan. 
  • Stasiun TV saja dapat ikut turut serta dalam kemajuan edukasi di Finlandia, Kontras dengan di Indonesia yang justru berkontribusi dalam merusak edukasi. Maksud saya, lihat channel macam BBC Knowledge, NatGeo, Discovery. Nonton ketawa cekikikan liat top gear padahal dapat ilmu permesinan, kultur setempat, geografi, terkadang (credit to james may) Fisika Matematika dan Kimia, bahkan hal absurd seperti balap mengitari pegunungan alpen dengan truk Lorry. Di acara lain, kita diajak menghabiskan 24 jam di suatu kota berkeliling dan mengenal lebih jauh bagaimana kota hebat seperti New York bekerja dilihat dari segala aspek. Oh ya, dan tanpa sadar anda menonton DALAM BAHASA INGGRIS. Series? tak perlulah saya bahas jauhnya kualitas series diluar dengan disini. Perlu post lagi. Untuk Indonesia saya sering lihat Kompas TV acaranya cukup bagus, dari yang produksi sendiri macam sampe yang impor lisensi seperti BBC EARTH. Kedepannya mungkin stasiun TV besar lain bisa mencontoh.
To sum it up all: EQUALITY
Sejak 1980-an, pendorong utama kebijakan pendidikan Finlandia adalah gagasan bahwa setiap anak harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, terlepas dari latar belakang keluarga, pendapatan, atau lokasi geografis. Pendidikan telah dilihat pertama dan terutama bukan sebagai cara untuk menghasilkan pemain bintang, tetapi sebagai alat untuk meratakan kesenjangan sosial.

Dalam pandangan Finlandia, ini berarti bahwa sekolah harus sehat, lingkungan yang aman untuk anak-anak. Ini dimulai dengan hal yang mendasar. Finlandia menawarkan semua murid makan gratis sekolah, akses mudah ke perawatan kesehatan, konseling psikologis, dan bimbingan siswa individual.

Bahkan, sejak keunggulan akademik bukanlah prioritas khusus pada Finlandia's to-do list, ketika mahasiswa Finlandia mencetak begitu tinggi pada survei PISA pertama pada tahun 2001, banyak orang Finlandia yang bahkan meragukan hasil penilaiannya. Tapi tes PISA berikutnya menegaskan bahwa Finlandia - tidak seperti, katakanlah, negara-negara yang sangat mirip seperti Norwegia - yang memproduksi keunggulan akademik melalui kebijakan fokus khusus pada ekuitas.

Intinya, semoga dengan BUKTI NYATA dari sistem pendidikan finlandia yang hebat itu, pemerintah dapat mengikut jejak suksesnya di edukasi nasional.


Sumber Bacaan:
http://m.theatlantic.com/national/archive/2011/12/what-americans-keep-ignoring-about-finlands-school-success/250564/
http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/16/membandingkan-sistem-pendidikan-finlandia-dengan-sistem-pendidikan-indonesia-534276.html
http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/24/konsep-pendidikan-di-finlandia-465541.html
http://www.smithsonianmag.com/people-places/Why-Are-Finlands-Schools-Successful.html

No comments:

Post a Comment