Friday, 5 April 2013

Muda Berperan


Menilik demografi muda dalam politik yang belakangan cenderung apatis dan itu trending sekali.
Politik dianggap konservatif, kolot yang kontras dengan sifat muda yang dinamis. Tidak keren sekali. 

Citra politik nasional sendiri memang sejak lama belum meningkat. Politik selalu dikaitkan dengan skandal, korupsi, KKN, sebut aja.

Pemuda senang hal baru.
Pemuda selalu dilekatkan dengan Inovasi, Reformasi, Revolusi, apalah. Progres. Sering muncul dengan ide-ide baru yang brilian dan orisinil. Tak perlu saya bawa-bawa macam sumpah pemuda, rengas dengklok, dan kutipan terkenal ala sukarno. Semua tau.

Nah, sekarang gimana mau ber-progres wong kaum muda-nya saja acuh? Yang suka jago debat, akademisnya pintar, kuliah di institusi ternama semua pada kemana? Sekalinya ada, yang kerjanya demo anarkis. Main bakar ban mobil aja. Adapula yang dengan bangga mewakili klien seorang caleg untuk berdemo kalah pemilu.

Wajar dewan terhormat kita macam sekarang. Kaum intelek jago tata kota, para calon birokrat hebat, ahli manajemen perusahaan, diplomat ulung, mencar sana sini. Mayoritas cenderung lebih memilih karir di swasta atau bahkan luar negeri ketimbang disini.

Memang serba salah. Di satu sisi mereka mbok ya perlu cari makan buat anak istri. Prospek di swasta atau luar negeri jauh lebih menggiurkan ketimbang bekerja di sektor birokrasi atau BUMN.

Jadi antara harus lebih melibatkan swasta atau menaikkan strata kerja kepemerintahan. Simpel kok.
Ya beginilah kalau sistem ekonomi negara yang dianut 'campuran' (baca: plinplan). Makinlah kultur inkonsisten kita yang terkenal ini semakin tertanam.

Jadi ayolah segenap kaum muda dari yang masih di bangku sekolah sampai pemuda mepet seantero Indonesia mulai bergerak. Harus bisa berguna untuk sesama. Sektor apapun yang penting produktif. Daripada bakar ban mending ambil part-time. Apalah.


Sudah saatnya pemuda singsingkan lengan baju kalau kita mau maju.
Rambate rata hayo

No comments:

Post a Comment