Sunday, 30 June 2013

Tentang Spionase

Bukan dunia distopia sebagaimana bayangan paranoid khalayak umum seperti yang sedang mencuat terhadap NSA belakangan ini, dan bukan pula paranoia 'pengendara motor misterius' BIN ala SBY. Halah, apalah. Saya sedang tertarik dunia spionase.

Bermula dari buku milik bapak yang berjudul "Gideon Spies", novel yang ditulis seorang ex-RAF yang menjadi koresponden BBC untuk timur tengah, mencakup Krisis Suez dan Perang Gulf (ada apa dengan ex-RAF dan spionase) yang saya baca semasa saya smp, mulailah berpikir bahwa apa yang selama ini dikira tidaklah sama dengan yang dibayangkan. Betapa selagi saya sibuk dengan bagaimana ulangan harian nati, suatu kelompok di suatu tempat sedang, selalu, merencanakan sesuatu.

Selanjutnya mulailah senang mencari informasi terkait spionase, walaupun saat itu agak menjurus ke hal konspirasi tak masuk akal. Kemudian mulai mengenal lebih dalam berupa hal terkait procedural seperti pemalsuan paspor, pembelian senjata, hingga hal ekstra muluk seperti pembelian senjata skala besar dengan melibatkan embassy dan hal rumit lainnya lewat seri spionase dari Frederick Forsyth. Ketahuilah, melakukan sebuah kudeta pada negara dunia ketiga terpencil tidaklah semudah memenangkan pemilu Amerika Serikat.

Dahulu saat pihak Inggris mencoba menengahi konflik antara warga Yahudi pendatang dan warga arab setempat mengenai mandat Palestina, pihak Israel membom markas militer Inggris di Palestina menewaskan 92 orang. Aksi serupa sudah biasa terjadi di era pra-kemerdekaan Israel. Wajar saja insiden macam Munich bisa terjadi. They go way back.

Mengetahui hal-hal macam diatas membuat anda berpikir. Kejadian absurd di sebuah film mata-mata atau bahkan genre one-man army bisa saja terjadi. The expendables dan segudang senjata, Rambo, 007, bahkan Hot Fuzz dan yang jika anda berpikir keras, persenjataan Batman. Semua pertanyaan trivial bisa terjawab dengan hal yang memang biasa terjadi di dunia nyata. Dan hal tersebut dapat pula menjadi landasan kuat keabsahan akan hal diluar normalitas yang terjadi dibalik sebuah peristiwa.

Munculnya pertanyaan seputar suatu kasus diluar konteks normal dan terkadang tidak berkorelasi bisa saja menjadi sebuah jawaban paling benar. Kematian Diana? Penembakan Kennedy? kepentingan pihak asing di 30s/PKI? Tim Mawar? Munir? apalah.

Jadi saya kira NSA mendengarkan setiap telpon anda itu biasa. Anda merasa tidak puas dengan ke-tidak becusan dinas intelijen Amerika dalam menjalankan tugasnya dengan pajak negara. Begini, dengan menyadap telpon saja insiden sebesar bom Boston masih bisa terjadi. Jadi, hal terakhir yang pantas dilakukan adalah melarang NSA mendengarkan anda memesan fast food.

Di Eropa hal begitu sudah lazim. Prancis era pasca perang dunia II dibawah de Gaulle mulai mereformasi badan intelijen prancis dan memberikan hak yang lebih luas sehingga dapat lebih leluasa dalam melakukan tindakan represif terhadap aktivitas subversif dan terbukti sangat efektif dalam melawan OAS. Inggris dibawah pakta NATO memiliki sebuah listening post bekerja sama dengan pihak NSA Amerika.

Setelah mengakui adanya dunia spionase, cobalah lihat sekitar anda. Tidak melulu soal spionase. Maknanya, selalu ada sesuatu dibalik suatu tindakan. Kok dia begitu? mengapa memilih anu ketimbang satunya? Semua ada alasan. Dan terkadang ada suatu hal dimana anda lebih baik tidak mengetahuinya, Percayalah. Namun memang, informasi selalu bermanfaat. Jadi, mungkin lebih tepat jika anda mengetahui, namun tidak diketahui bahwa anda mengetahui hal tersebut. Tahu tanpa bertanya mungkin lebih tepatnya. Oke agak tahuception. Poin saya, informasi adalah segalanya.

Intinya sedang gemar membaca keterangan terkait dunia spionase.

Thursday, 20 June 2013

Julio Iglesias - La Mer



Tinker Tailor Soldier Spy

Sing along, kalo bisa...

La mer,
convoi danseur,
le long des golfes claires,
a des reflets d'argent.

La mer,
des reflets changeants
sous la pluie.

La mer,
oh, ciel d'été,
au fond, ses blancs moutons
avec les anges sous Pierre.

La mer,
vergeure d'assises
unfiní ... oh, oui, ¡eh!

Voyait
près des étangs,
ses grands roseaux mouillés.
Voyait
ses oiseaux blancs
et ses maisons rouillés.

La mer,
lise, averse,
le long des golfes claires
et d'une chanson d'amour.

La mer,
oh, a versée en mon coeur
pour la vie ... La vie!

dessssssss

Monday, 17 June 2013

Polisi dan Preman

Ini pandangan dangkal saya tentang Polisi dan Preman.

Keduanya merupakan profesi yang, saya rasa, sama saja. Sama-sama menjual rasa 'aman'. Sama-sama mengandalkan kekuasaan. Sama-sama ingin kaya.

Kita bisa menemukan keduanya di mana-mana. Di keramaian maupun tempat sepi. Pasar, mall, jalan raya, gang buntu, apalah. Keduanya merasa berkuasa dan berhak menggunakan kekuasaannya dengan dalih menjaga keamanan dan ketertiban.

Buat saya, keduanya sama-sama memberikan rasa takut. Mengintimidasi. Saat dijalan melihat polisi saya merasa takut. Di saat yang sama ketika dijalan melihat preman timbul ketakutan yang sama. Buat saya, keduanya menimbulkan efek psikologi buruk yang kurang lebih sama.

Ketika satu waktu sedang bawa motor dijalan besar dan mendadak seorang polisi menghampiri, pasti tegang. Dengan reflek merogoh saku, ambil dompet. Dan ketika bertemu preman di gang-gang atau terminal, tidak jauh berbeda. Mungkin memang dasar cara mencari uang kedua profesi ini kan, kurang lebih sama.

Oknum polisi dan preman sama-sama menggunakan kekuasaannya untuk mencari uang. Yang satu dengan seragam dan segala tetek bengek perundang-undangan. Yang satu cukup dengan pamer otot dan tampang garang.

Tapi preman lebih jujur. Mereka terang-terangan minta uang dan, memang preman, main kasar saja. Minta uang kalau tidak barang berharga kita di ambil. Jam, HP, apalah. Kalau Polisi selalu di awali dengan menyapa. Entahlah mungkin pihak direksi meniru kebijakan Pertamina agar pegawai SPBU selalu menyapa dengan senyum penuh, yang saya rasa sedikit menyeramkan. Setelah menyapa langsung bicara panjang lebar soal perundang-undangan dan bahaya tidak menyalakan lampu di siang hari yang terik, Lalu mulailah bicara sanksi dan betapa ia ingin membantu kita. Intinya ya uang saja. Saya paling benci model begini, ingin bantu ya bantu saja.

Gawatnya, oknum polisi berpraktek dengan bekingan hukum legal dan undang-undang.

Kita lihat beberapa waktu belakangan tentu masih ingat kasus korupsi simulasi SIM. Lalu ada kasus rekening gendut Aiptu Labora Sitorus. Tak perlulah saya sebutkan daftar panjang kasus korupsi yang melibatkan oknum polisi.

Dari sehari-hari, sudah rahasia umum perihal 'bisnis' sampingan polisi. Dari mulai jasa cepat pembuatan surat-surat, jasa pengamanan, hingga jual-beli jabatan, apalah. Kreatif sekali polisi kita ini berbisnis. Wajar saja angka pebisnis di Indonesia kian tahun tidak ada kenaikan signifikan, Rupanya banyak entrepreneur hebat yang tidak terdarftar sebagai pebisnis.

Yah begitulah. Mereka kan ada karena memang dibutuhkan. Jadi selama oknum preman dan polisi jenis begitu masih dibutuhkan, mereka akan tetap setia mengabdi kepada masyarakat.

Monday, 10 June 2013

One Flew Over The Cuckoo's Nest (2010)




Adaptasi Milos Forman dari Novel 1975 karangan Ken Kesey, One Flew Over the Cuckoo's Nest, berhasil menunjukkan bahwa kecemerlangan subversif dan penderitaan yang serius dapat menghuni film yang sama. Ditayangkan setahun setelah Nixon mengundurkan diri, film ini sukses menangkap kultur semangat anti otoritas ala generasi 60s, namun juga menggambarkan bahwa revolusi membuahkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan kontrasnya. 

Randle Mcmurphy (Nicholson) adalah seorang roughneck karismatik yang berhasil merekayasa untuk dipindahkan dari penjara federal (kala itu masih diberlakukan sistem penal labor) ke fasilitas kesehatan mental yang lebih nyaman. 

Mcmurphy bergabung dengan sebuah kelompok pasien psikiatrik dengan beragam masalah termasuk seorang kepala suku indian yang bisu dan tunarungu Bromden (Will Sampson), seorang remaja penakut Billy (Brad Dourif), dan lainnya. Kelompok ini di dominasi oleh Suster Mildred Ratched (Louise Fletcher) dengan bantuan suster muda Pilbow (Mimi Sarkisian) dan beberapa perawat afro-amerika yang kasar (dan ya, film ini tidak begitu baik dengan sentimen anti-rasial). Awalnya memang terlihat seperti aktivitas fasilitas mental sebagaimana layaknya. Namun, Mcmurphy mulai menyadari bahwa ada yang salah dibalik sikap pasien yang sangat penurut.

Suster Ratched telah menjadi archetype Amerika, Otoritas yang secara sempurna menggunakan kekuasaannya untuk kehendak pribadi. Dan film ini tidak menawarkan contoh kontras lain semisal mungkin tindakan opresif Suster Ratched merupakan efek dari menangani beragam kasus buruk di fasilitas tersebut. Diluar simbolisme sosial dan politik yang jelas, Suster Ratched dapat diartikan sebagai peringatan atas penyalahgunaan kekuasaan profesional (Tentu masih segar di benak kita apa yang terjadi dengan para pekerja budak di tangerang). Namun memang tokoh suster Ratched tidak dapat dipisahkan dari pandangan reaksioner terhadap wanita yang kala itu masih umum berlaku: Seorang figur ibu yang anti sex, Wanita lemah seperti suster Pilbow, dan -best case scenario- Gadis mudah seperti teman wanita Mcmurphy (Marya Small) dengan nama Candy.

Sebuah film menakjubkan yang realis, film ini berefleksi tentang hakikat manusia di tengah kebebasan semu demokrasi Amerika di era Nixon.


- 2010