Monday, 17 June 2013

Polisi dan Preman

Ini pandangan dangkal saya tentang Polisi dan Preman.

Keduanya merupakan profesi yang, saya rasa, sama saja. Sama-sama menjual rasa 'aman'. Sama-sama mengandalkan kekuasaan. Sama-sama ingin kaya.

Kita bisa menemukan keduanya di mana-mana. Di keramaian maupun tempat sepi. Pasar, mall, jalan raya, gang buntu, apalah. Keduanya merasa berkuasa dan berhak menggunakan kekuasaannya dengan dalih menjaga keamanan dan ketertiban.

Buat saya, keduanya sama-sama memberikan rasa takut. Mengintimidasi. Saat dijalan melihat polisi saya merasa takut. Di saat yang sama ketika dijalan melihat preman timbul ketakutan yang sama. Buat saya, keduanya menimbulkan efek psikologi buruk yang kurang lebih sama.

Ketika satu waktu sedang bawa motor dijalan besar dan mendadak seorang polisi menghampiri, pasti tegang. Dengan reflek merogoh saku, ambil dompet. Dan ketika bertemu preman di gang-gang atau terminal, tidak jauh berbeda. Mungkin memang dasar cara mencari uang kedua profesi ini kan, kurang lebih sama.

Oknum polisi dan preman sama-sama menggunakan kekuasaannya untuk mencari uang. Yang satu dengan seragam dan segala tetek bengek perundang-undangan. Yang satu cukup dengan pamer otot dan tampang garang.

Tapi preman lebih jujur. Mereka terang-terangan minta uang dan, memang preman, main kasar saja. Minta uang kalau tidak barang berharga kita di ambil. Jam, HP, apalah. Kalau Polisi selalu di awali dengan menyapa. Entahlah mungkin pihak direksi meniru kebijakan Pertamina agar pegawai SPBU selalu menyapa dengan senyum penuh, yang saya rasa sedikit menyeramkan. Setelah menyapa langsung bicara panjang lebar soal perundang-undangan dan bahaya tidak menyalakan lampu di siang hari yang terik, Lalu mulailah bicara sanksi dan betapa ia ingin membantu kita. Intinya ya uang saja. Saya paling benci model begini, ingin bantu ya bantu saja.

Gawatnya, oknum polisi berpraktek dengan bekingan hukum legal dan undang-undang.

Kita lihat beberapa waktu belakangan tentu masih ingat kasus korupsi simulasi SIM. Lalu ada kasus rekening gendut Aiptu Labora Sitorus. Tak perlulah saya sebutkan daftar panjang kasus korupsi yang melibatkan oknum polisi.

Dari sehari-hari, sudah rahasia umum perihal 'bisnis' sampingan polisi. Dari mulai jasa cepat pembuatan surat-surat, jasa pengamanan, hingga jual-beli jabatan, apalah. Kreatif sekali polisi kita ini berbisnis. Wajar saja angka pebisnis di Indonesia kian tahun tidak ada kenaikan signifikan, Rupanya banyak entrepreneur hebat yang tidak terdarftar sebagai pebisnis.

Yah begitulah. Mereka kan ada karena memang dibutuhkan. Jadi selama oknum preman dan polisi jenis begitu masih dibutuhkan, mereka akan tetap setia mengabdi kepada masyarakat.

No comments:

Post a Comment