Sunday, 28 July 2013

Norwegian Wood (2013)



Novel yang menakjubkan dan elegis oleh penulis dari novel sangat terkenal Wind-Up Bird Chronicle dan Kafka On The Shore ini sudah terjual lebih dari 4 juta salinan di negara asalnya, Jepang. Kini sudah tersedia terjemahannya di beberapa toko buku besar di Indonesia. Saya sendiri baru akhirnya menemukan novel ini di sudut rak novel terjemahan Gramedia IP Bandung tepat dua hari lampau (selama ini baca via ebook, ahem). Oh ya, adaptasi film juga ada.

Norwegian Wood (mangacu pada lagu Beatles dengan nama yang sama) adalah salah satu buku Murakami yang lebih awal dan dianggap sangat otobiografis. Buku ini juga lebih 'linear' atau 'normal' ketimbang buku Murakami lainnya.

Cerita dimulai dengan sang narator dan tokoh utama, Toru Watanabe, yang sedang berada di atas pesawat di umur awal 30an dan mengenang kembali saat ia berumur sembilan belas tahun pada akhir 1960. Dia menceritakan tentang seorang wanita yang sangat dicintainya dan hilang. Toru saat berumur sembilan belas tahun adalah seorang mahasiswa muda yang kembali menjalin persahabatan dengan Naoko, pacar teman dekatnya, Kizuki, yang bunuh diri ketika berusia tujuh belas tahun.

Kembali ke masa muda Toru, Toru dan Naoko berjuang untuk melupakan tragedi kematian teman mereka namun masih menghormati memori teman mereka itu. Mereka juga berjuang untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekadar berbagi kenangan teman mereka. Mereka terikat bersama oleh kematian Kizuki dan disaat yang sama juga dibatasi olehnya.

Toru mulai beradaptasi dengan kehidupan kampusnya dengan kesepian dan isolasi yang harus ia hadapi disana. Lain hal dengan Toru, Naoko merasa tekanan dan tanggung jawab yang tak tertahankan. Ketika dia mengasingkan diri lebih jauh ke dalam dunianya sendiri, Toru menemukan dirinya menjangkau orang lain dan tertarik pada seorang wanita muda yang sangat independen dan bebas secara seksual.

Buku ini ditulis dengan indah, dan saya benar-benar menikmati karakter dan merasa teridentifikasi dengan perjuangan mereka. Cerita yang gelap namun tidak berlebih; entah bagaimana tetap halus. Saya terkadang menemukan beberapa dialog lebih kaku ketimbang dengan bagian lainnya. Mungkin ini berkaitan dengan hasil translasi atau perbedaan kultur dan bahasa (saya baca versi translasi Amerika) .

Saya senang cara menulis Murakami, yang bersentral pada tema besar seperti Cinta dan Kehilangan, namun sangat memperhatikan detil pada keseharian dalam cerita, seperti rute bus dan pekerjaan paruh waktu. Uang bukanlah masalah utama dalam cerita namun tetap diakui sebagai hal penting oleh karakter (seperti sanatorium Naoko, misalnya, adalah tempat untuk orang kaya yang mampu untuk hanya beristirahat). Saya belum pernah ke Jepang, namun deskripsi Murakami yang jelas membuat saya merasa berada di sana.

Sebuah cerita pedih romantis coming-of-age dari seorang mahasiswa, Norwegian wood membawa kita ke sebuah tempat yang jauh tentang kisah cinta seorang pemuda yang pertama, heroik, dan penuh keputusasaan.

Tuesday, 23 July 2013

Waktunya Indonesia

Butuh sekitar 500 tahun untuk peradaban kuno mesir akhirnya mengalami kemunduran. Kekaisaran Romawi mampu bertahan kurang lebih sama, sekitar 520 tahun. Jika dijumlahkan dengan masa pemerintahan republik (450 tahun) jadi sekitar 970 tahun. Selanjutnya muncul peradaban kuno India yang juga mampu bertahan cukup lama, sekitar satu milenia (1000 tahun). Lalu muncul peradaban Islam yang terbentang dari ujung persia hingga cordoba, spanyol. Kendati demikian, terhitung dari masa peradaban Islam Arab selama 700 tahun ditambah masa kekhalifahan usmani (Ottoman) Turki selama 500 tahun jadi sekitar 1200 tahun. Dan sekarang, sudah lebih dari 300 tahun peradaban barat berjaya. Dan banyak ahli berpendapat, the inevitable decline of western civilization sudah mulai tampak.

Roda berputar. Sudah terbukti, belum ada satu peradaban manusia yang mampu bertahan selamanya. Sudah mulai dominasi kekuatan barat merasa tertandingi oleh bangkitnya raksasa tua: Asia-secara khusus, Cina. Seakan tak mau kalah, kawasan Amerika Selatan juga mulai menunjukkan taringnya, dengan negara seperti Brazil dan Argentina yang diprediksikan menjadi salah satu dari beberapa negara yang kelak akan mendominasi di masa mendatang.

Indonesia tak terkecuali. Tanah air tercinta kitapun sedang sarat dengan optimisme perubahan. Kemunculan pemimpin muda dan luar biasa seperti Jokowi, Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil menginspirasi rakyat -khususnya kaum muda- untuk semangat turut serta dalam pembangunan bangsa. Ditetapkannya tokoh pemegang jabatan dari partai berkuasa seakan membuktikan bahwa tak ada pengecualian dalam penegakkan hukum; bahwa bangsa Indonesia dapat terlepas dari tradisi tua turun-menurun warisan pemerintahan kolonial licik: korupsi. Betapa arus perubahan positif sedang derasnya mengalir.

Peta politik 2014 seakan menjadi sebuah batu lompatan besar dalam harapan masyarakat. Pemimpin yang ikut bertarung didalamnya pun merupakan para tokoh yang dipercaya rakyat untuk membawa perubahan. Pemilu sudah bukan tentang manuver politik belaka. Pemilu dimata rakyat merupakan sebuah kesempatan penting untuk turut andil dalam menentukan arah pembangunan negara. Rakyat sudah percaya bahwa pemilu adalah tentang memilih seorang pemimpin.

Dalam statistik, terlihat banyak peningkatan di berbagai bidang kendati krisis ekonomi hingga bencana alam yang menimpa Indonesia. Angka kemiskinan tercatat dari tahun 2004 silam mengalami penurunan dari 14% menjadi 11,6%. Memang tidak signifikan namun ada peningkatan. Angka Pengangguran juga mengalami penurunan tercatat tahun 2004 sebanyak 10% sampai hari ini 5,4%. Pendapatan Per Kapita meningkat cukup baik dari awalnya USD $1.100 kini menjadi USD $4.000. Bahkan pertumbuhan ekonomi juga meningkat, seperti apa yang dikatakan Menteri Ekonomi Hatta Rajasa, "Kita bersyukur pertumbuhan kita bisa ditahan 6 persen di kuartal I 2013 6,02 persen,".

Memang Indonesia masih belum terlepas secara penuh dari pengaruh budaya kolot. Masih banyak kasus korupsi yang hingga saat ini masih tanda tanya besar. Namun, secara pasti saya bisa menyatakan bahwa pemberantasa korupsi di Indonesia is more vicious than ever. Dari data milik ICW didapat bahwa dalam semester awal 2012 saja tercatat sebanyak 597 koruptor sudah ditangkap. Bahkan menteri dari partai bos besar sekalipun tidak luput dari jangkauan hukum. Suatu pencapaian yang luar biasa.

Seakan tak mau kalah, demografi menunjukkan, saat ini jumlah penduduk Indonesia terbanyak ada pada batas umur 10-19 tahun yang berjumlah kurang lebih 44 juta. Kelompok umur tersebut -yang seringkali diselukan sebagai Indonesia's Golden Generation- akan memasuki umur produktif sebentar lagi. Hal ini berkorelasi dengan prediksi ahli ekonomi dan politik akan masuknya Indonesia ke ranah adidaya global.

Semangat kemajuan tersebut tentunya harus bersamaan dengan perkembangan mental generasi emas. Pemerintah sudah selayaknya ikut andil dalam pemberantasan KKN dalam lingkup generasi muda, dalam hal ini sekolah. Penguatan hukum tertulis menyoal KKN di lingkup sekolah bukan hal sepele. Hukum mendetail seperti itu minimal akan menimbulkan kesadaran dalam benak segenap pihak terlibat. Pengawasan juga harus lebih ditingkatkan dan melibatkan lebih banyak pihak baik Komite Sekolah hingga guru dan siswa itu sendiri. Tentunya pengarahan melalui jalur pendidikan dan pendekatan harus juga digalakkan. Jiwa tanggung jawab dan jujur harus selalu dijunjung tinggi baik dalam kasus ini maupun bekal untuk di masa yang akan datang. Dengan kemauan yang tinggi saya percaya sedikit demi sedikit budaya KKN bisa dihapuskan.

Kaum muda sendiri secara progresif terus mengembangkan diri. Sudah lazim jaman sekarang kelompok anak muda diskusi hal muluk seperti politik hingga teknis ekonomi. Budaya kritis kaum muda warisan generasi leluhur masih terus terjaga hingga sekarang. Memang belum begitu banyak, namun itulah sebuah progres.

Suatu kehormatan bagi kita untuk turut ikut andil dalam kemajuan paling agresif dalam sepanjang riwayat perjalanan Republik Indonesia sebagai sebuah negara. Mari kita segenap bangsa Indonesia menjawab panggilan Ibu Pertiwi. Mengutip Ridwan Kamil, "Mari bergerak, ada kereta mimpi yang harus kita kejar".

Friday, 19 July 2013

From The New World (Shin Sekai Yori) (2012)



We ultimately fear what spawns from within us.” -Aonuma Shun


From The New World adalah salah satu dari jenis novel dimana pembaca duduk terdiam dengan khidmat seraya penulis menuntun anda menuju alam imajinasi terliar tak kenal batas. Dan saya pikir bukan hal yang aneh jika ternyata sang penulis berasal dari masa depan, betapa "Dunia Baru" yang ia deskripsikan dengan tidak hanya persuasif namun sangat terhubung dan masuk akal. Oh ya, nama penulisnya tak lain tak bukan sang penulis horror Jepang legendaris, Kishi Yūsuke.

Novel ini bercerita tentang fiksi spekulatif dengan latar waktu 1000 tahun di masa yang akan datang, dimana manusia telah membuat sebuah dunia utopia untuk ditinggali. Manusia telah berevolusi menjadi spesies yang mampu menggunakan sebuah kekuatan supranatural yang umumnya disebut "Juryoku" atau Cantus. Dalam dunia baru ini manusia tidak memiliki kebutuhan maupun keinginan akan kemajuan teknologi dan berkuasa mutlak atas spesies pribumi seperti yang disebut Bakenezumi dan spesies rendah lainnya.

Cerita berfokus pada tokoh utama Watanabe Saki, seorang gadis kecil yang baru saja masuk sekolah(belajar cantus tentunya). Dikisahkan bahwa Saki adalah siswa yang terakhir dinyatakan layak untuk masuk sekolah sementara 4 kawan sepermainannya sudah masuk terlebih dahulu. Bagian awal menggambarkan bagaimana antusiasme hari pertama masuk sekolah. Dan mulailah timbul kecurigaan saat seorang rekan kelompok belajar mereka mengalami kesulitan dalam proses belajar dan menghilang begitu saja keesokan harinya. Kendati demikian, novel ini jelas bukan untuk yang belum cukup umur; bersiaplah untuk menghadapi banyak kematian, kesadisan, tipu muslihat yang jauh lebih kompleks dan tema sangat dewasa.

Shin Sekai Yori menyinggung isu kontroversial tentang ketidaksamaan dan kekeliruan fatal dalam kondisi hidup manusia-yang memang sudah bagian dari sifat dasar manusia. Novel ini menunjukkan kepada kita sisi gelap dari kontrol absolut, harga kerahasiaan dan bahaya keingintahuan. Tidak diragukan lagi, Shin Sekai Yori berhasil menceritakannya dengan intens dan benar-benar memuaskan yang membuat anda sulit untuk berhenti membaca. Saya sendiri awalnya agak dibingungkan dengan apa yang sebenarnya terjadi, apa dystopia factor nya dan cukup terkejut ketika sadar bahwa ini dan itu ternyata bukan inti masalahnya. Shin Sekai Yori membuat anda terus bertanya dan setiap pertanyaan yang terjawab akan membuahkan lebih banyak misteri.

Karakter yang ditampilkan dalam novel ini dari masing-masing perspektif menarik dan dapat disukai; semua memiliki motivasi dan sebab dibalik apa yang diperbuatnya. Karakter utama novel ini terbukti cerdas dan sangat ingin tahu namun jauh dari sempurna karena masing-masing memiliki karakteristik menarik yang mendefinisikan siapa mereka. Dengan hormat saya harus memuji sang penulis, Kishi Yūsuke, yang telah menjalin persona masing-masing yang terkadang terlalu jelas dan seringkali mengalihkan dari plot. Karena takut akan membahas terlalu dalam dan merusak pengalaman membaca, saya akhiri disini.

Cerita gelap penuh plot tak terduga dengan konflik moral yang dalam, mungkin inilah buku yang sedang anda cari.

Monday, 15 July 2013

Terlalu Pagi

Menurut saya, Bangun pagi itu tidak sehat.
Atau lebih tepatnya, Waktu mulai kesibukkan sekitar pukul 06.30 itu kurang baik.

Sebelumnya, saya bukan bicara jam bangun seperti sahur atau salat subuh untuk kaum muslim. Dan bukan pula jadwal urus burung peliharaan di pagi hari, yang tentu saja menyenangkan. Yang ingin saya bahas adalah Jam kerja atau sekolah, jam mulainya segala aktivitas, yang terlalu dini.

Oke, sekarang saya ambil contoh jadwal standar rata-rata anak SMA. Kira-kira begini:
05.00-06.15 bangun pagi dan salat subuh, bersiap untuk sekolah
06.15-06.45 berangkat ke sekolah
06.45 bel masuk sekolah
06.45-14.00 kegiatan belajar mengajar
14.00 bel selesai kbm
15.00-18.00 bimbel/les
18.00-19.00 makan malam
19.00-23.00 waktu bebas (belajar, main)
23.00-05.00 tidur malam

Jam masuk sekolah 06.45 saya rasa terlalu pagi, sekalipun diukur dengan standar Indonesia. Bahkan memang awalnya sekolah pada umumnya masuk pukul 07.00, namun berkat kebijaksanaan pak gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, waktu masuk sekolah di Jakarta diubah menjadi lebih awal, pukul 06.30. Dan parahnya, para edukator muluk di daerah mengikuti langkah sang gubernur besar.

Seorang tetangga yang merupakan pegawai BUMN, berangkat ke kantor kira-kira 08.00, yang walaupun dibandingkan dengan standar jam kerja di beberapa negara lain agak lebih pagi, saya rasa cocok di Indonesia. Memang jarak dari rumah ke kantor mungkin hanya membutuhkan kurang dari 15 menit menggunakan sepeda motor. Namun kenyataannya, tidak semua orang berkantor dekat.

Begini, seperti yang tadi saya bilang, tidak ada yang salah dengan bangun pagi. Bahkan menyehatkan. Nah alangkah sayangnya waktu pagi yang sehat itu tidak digunakan sebaik-baiknya. Coba bayangkan, hal yang hanya anda bisa lakukan di sabtu pagi bisa dilakukan setiap hari. Urus kandang burung, olahraga pagi, mandi dan sarapan pagi dengan santai, setalah salat subuh bisa dilanjut tidur, apalah. Berangkatpun tidak terburu-buru.

Mungkin pukul 6 pagi hari merupakan waktu yang tepat untuk mulai bersibuk, pada satu waktu dahulu. Entahlah saya sangat meragukan. Sayangnya, sekarang sudah berbeda.

Sekarang sudah lazim bagi anak sekolah untuk tidur pukul 1 dini hari. Lebih kurang sama dan seringkali lebih untuk orang dewasa. Disamping jadwal yang padat kendati mulai lebih awal, gaya hidup juga sudah berubah. Selesai kegiatan mungkin sekitar jam 6 sore jika tanpa kesibukan lain. Untuk yang bekerja paling cepat selesai mungkin sekitar jam 5 ditambah waktu perjalanan kurang lebih sama dengan pelajar, pukul 6 lebih. Mayoritas yang bekerja, pukul rata mungkin sekitar jam 8 sampai rumah. Sehingga wajar saja kebanyakan orang lebih memilih untuk menghabiskan sebagian waktu tidurnya untuk melakukan sesuatu. Namun demikian, jadwal besok tetap pagi.

Globalisasi, apalah. Mungkin hanya sekadar revolusi sosial yang sedang, selalu, terjadi di setiap masyarakat. Waktu kerja internasional yang menuntut puncak kesibukkan dimulai tengah hari dan gemerlap hiburan pelepas yang selalu ramai di tiap malam menuntut adaptasi tinggi yang sayangnya tidak terlalu ditanggapi dengan serius oleh institusi terkait, seperti pemerintah.

Memang sudah penyakit semi-kekal bahwa pemerintah Indonesia tidak begitu tanggap dengan kebutuhan rakyatnya-Lah wong monorail saja hanya baru-baru ini ramai menjadi bahan kampanye calon pejabat. Misal jam sekolah di jerman adalah dimulai 8am selesai 1pm. Jepang mulai pukul 9.30 pagi dan selesai pukul 3 siang, Malaysia dan Singapura mulai pukul 8.00 dan selesai 14.30. Dan agak mencengangkan betapa tertinggalnya taraf hidup Indonesia dibanding kedua negara serumpun tersebut.

Belakangan sempat baca pernyataan pak Jusuf Kalla terkait kemajuan teknologi bahwa seperti cina, "Kalau belum bisa cipatakan, tiru dulu". Nah mungkin bisa dimulai dari sistem waktu kerja.

Thursday, 11 July 2013

Tentang Musik Pop Kontemporer

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca suatu hasil penelitian milik Dr. Nathan DeWall dari  University of Kentucky.  Dr. DeWall menganalisa statistik lagu hit selama tiga dekade terakhir.

Penelitian dilakukan dengan sampel lagu-lagu hit berbagai genre dan sub-genre selama tiga dekade terakhir dengan referensi seperti Billboard USA, berbagai radio dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu menyebutkan bahwa ada tren statistik kecenderungan peningkatan penggunaan kata-kata dengan emosi negatif dan sentimen kebencian, sementara disaat yang sama terdapat kecenderungan penurunan penggunaan kata-kata sentimen positif. Dijabarkan seperti penggunaan kata "I" atau "Me" lebih sering muncul dan seringkali bersamaan dengan emosi negatif sementara kata "We" dan "Us" mengalami penurunan drastis.

Penelitian itu juga menunjukkan lewat analisa linguistik dan program word count, bahwa lagu-lagu tersebut kebanyakan hanya bercerita tentang satu manusia istimewa: sang penyanyi itu sendiri. Justin Timberlake hendak “I’m bringing sexy back,” Beyonce berlenggak-lenggok sambil menggoda “It’s blazin’, you watch me in amazement", sedangkan Fergie dari kolektif Black Eyed Peas, yang menyanyi tentang “my hump” di album solonya mengusir sang kekasih dengan menggunakan kata-kata “It’s personal, myself and I.”

Lirik-lirik ini misalnya, bertentangan dengan lagu-lagu dengan sentimen positif seperti "Ebony dan Ivory" milik Paul McCartney tentang keharmonisan antar-ras, John Lennon berpesan lewat "Imagine" yang bertutur tentang komunalisme, atau bahkan lagu narsistik "We Are The Champions" Queen masih menggunakan kata "We" dan mengandung sentimen positif.

Hasil penelitian Dr. Nathan Dewall mengafirmasi apa yang ditulis pendahulunya W. Keith Campbell dan Jean M. Twenge, yang kebetulan menjadi co-author DeWall, lewat The Narcissism Epidemic. Terbukti bahwa dampak wabah narsisisme lebih parah diderita oleh anak muda konsumen musik artis-artis tersebut. 

Late adolescents and college students love themselves more today than ever before,” demikian kesimpulan dari Dr. DeWall mengenai hasil risetnya.

Entah apakah lagu generasi sekarang dijadikan sampel-saya rasa tidak-dalam penelitian tersebut. Namun percayalah, jika sebangsa Lady Gaga, Will I Am, dan Justin Bieber dimasukkan, maka hasil penelitian itu pasti menghasilkan data statistik epidemi narsisisme yang semakin parah.

Tak perlulah saya sertakan K-Pop wannabe ala Indonesia.

Salah satu hal mengapa artis-artis tersebut memperoleh jutaan pengikut di twitter-seperti Taufiq Rahman lewat buku terbarunya bilang, sebuah mesih pengganda narsisisme yang sangat efektif-adalah disebabkan oleh lirik lagu mereka yang tidak pernah gagal menanamkan pemahaman bahwa semua orang adalah istimewa dan unik, sebuah resep narsisisme akut.

Jika anda fans dari mereka tentu senang dengan tren lirik lagu sekarang yang emansipatif dan self empowerment-yang jika tidak berbahasa inggris mungkin akan sama dengan apa yang dikatakan para motivator lokal seperti Mario Teguh.

Semua orang unik dan istimewa.

Begini, sah-sah saja anda berpikir demikian. Toh pada akhirnya memang memiliki diri sendiri. Namun kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang unik dan istimewa. Hanya ada satu akun Lady Gaga dan jutaan follower. 

Kenyataan sosial yang pahit lainnya adalah hanya akan ada dua kelas sosial, borjuis dan kelas pekerja. Atau bagi anda penganut liberal, cuma ada kaum elit dan middle-class. Semua orang menjadi istimewa hanya ada dalam utopia komunisme yang tidak akan pernah tercapai (Pernah satu waktu sekelompok buruh tak berpendidikan mencoba menerapkannya dalam menjalankan sebuah negara dan hasilnya? Karl Max tua saja tidak se-ekstrem itu). Dan perbenturan antara nilai ideal lirik Lady Gaga dengan kenyataan sosial yang pahit itulah yang membuat lirik Lady Gaga seperti berdentang kosong.

Miris memang dengan tren musik Pop kontemporer. Lebih banyak orang yang mudah ditipu oleh janji-janji manis self-empowerment ketimbang nyanyian terus terang tentang kompleksitas dan kenyataan pahit kehidupan manusia.

Mindset orang sekarang kan, mengutip Sore, "220 juta manusia tersesat ke satu lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa". Mau terkenal lewat Youtube. Mau jadi Artis Instan. Mau jadi istimewa.

Entahlah, di Indonesia sendiri saya rasa sangat berdampak. Dunia pertelevisian Indonesia dahulu, sesuai segmentasinya yang memang sengaja ditujukan untuk dewasa (lain cerita dengan acara anak-anak), lebih realistis. Tidak ada FTV gadis miskin (yang entah mengapa pembawaannya shout-out loud bahwa stratanya diatas sang majikan) bertemu pria kaya dan happily ever after. Mungkin jika anda masih ingat, Atun sang adik pemeran utama tidaklah secantik pemeran tambahan pelayan lewat di sinetron masa kini. Heck, keseluruhan acara "Si Doel Anak Sekolahan" memang bicara tentang keseharian keluarga betawi di tengah pertumbuhan Jakarta sebagai kota metropolitan.

Kisah begitu membuat kita sadar bahwa tujuan kita hidup bukan hanya menjadi manusia istimewa belaka. Anda tak perlu berkuliah di universitas negeri ternama dengan memaksakan harus masuk dengan berbagai cara hanya untuk mencari nafkah. Anda tak perlu memiliki banyak follower instagram untuk menjadi seorang forografer. 

Anda tak perlu istimewa untuk menjadi seorang manusia.