Thursday, 11 July 2013

Tentang Musik Pop Kontemporer

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca suatu hasil penelitian milik Dr. Nathan DeWall dari  University of Kentucky.  Dr. DeWall menganalisa statistik lagu hit selama tiga dekade terakhir.

Penelitian dilakukan dengan sampel lagu-lagu hit berbagai genre dan sub-genre selama tiga dekade terakhir dengan referensi seperti Billboard USA, berbagai radio dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu menyebutkan bahwa ada tren statistik kecenderungan peningkatan penggunaan kata-kata dengan emosi negatif dan sentimen kebencian, sementara disaat yang sama terdapat kecenderungan penurunan penggunaan kata-kata sentimen positif. Dijabarkan seperti penggunaan kata "I" atau "Me" lebih sering muncul dan seringkali bersamaan dengan emosi negatif sementara kata "We" dan "Us" mengalami penurunan drastis.

Penelitian itu juga menunjukkan lewat analisa linguistik dan program word count, bahwa lagu-lagu tersebut kebanyakan hanya bercerita tentang satu manusia istimewa: sang penyanyi itu sendiri. Justin Timberlake hendak “I’m bringing sexy back,” Beyonce berlenggak-lenggok sambil menggoda “It’s blazin’, you watch me in amazement", sedangkan Fergie dari kolektif Black Eyed Peas, yang menyanyi tentang “my hump” di album solonya mengusir sang kekasih dengan menggunakan kata-kata “It’s personal, myself and I.”

Lirik-lirik ini misalnya, bertentangan dengan lagu-lagu dengan sentimen positif seperti "Ebony dan Ivory" milik Paul McCartney tentang keharmonisan antar-ras, John Lennon berpesan lewat "Imagine" yang bertutur tentang komunalisme, atau bahkan lagu narsistik "We Are The Champions" Queen masih menggunakan kata "We" dan mengandung sentimen positif.

Hasil penelitian Dr. Nathan Dewall mengafirmasi apa yang ditulis pendahulunya W. Keith Campbell dan Jean M. Twenge, yang kebetulan menjadi co-author DeWall, lewat The Narcissism Epidemic. Terbukti bahwa dampak wabah narsisisme lebih parah diderita oleh anak muda konsumen musik artis-artis tersebut. 

Late adolescents and college students love themselves more today than ever before,” demikian kesimpulan dari Dr. DeWall mengenai hasil risetnya.

Entah apakah lagu generasi sekarang dijadikan sampel-saya rasa tidak-dalam penelitian tersebut. Namun percayalah, jika sebangsa Lady Gaga, Will I Am, dan Justin Bieber dimasukkan, maka hasil penelitian itu pasti menghasilkan data statistik epidemi narsisisme yang semakin parah.

Tak perlulah saya sertakan K-Pop wannabe ala Indonesia.

Salah satu hal mengapa artis-artis tersebut memperoleh jutaan pengikut di twitter-seperti Taufiq Rahman lewat buku terbarunya bilang, sebuah mesih pengganda narsisisme yang sangat efektif-adalah disebabkan oleh lirik lagu mereka yang tidak pernah gagal menanamkan pemahaman bahwa semua orang adalah istimewa dan unik, sebuah resep narsisisme akut.

Jika anda fans dari mereka tentu senang dengan tren lirik lagu sekarang yang emansipatif dan self empowerment-yang jika tidak berbahasa inggris mungkin akan sama dengan apa yang dikatakan para motivator lokal seperti Mario Teguh.

Semua orang unik dan istimewa.

Begini, sah-sah saja anda berpikir demikian. Toh pada akhirnya memang memiliki diri sendiri. Namun kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang unik dan istimewa. Hanya ada satu akun Lady Gaga dan jutaan follower. 

Kenyataan sosial yang pahit lainnya adalah hanya akan ada dua kelas sosial, borjuis dan kelas pekerja. Atau bagi anda penganut liberal, cuma ada kaum elit dan middle-class. Semua orang menjadi istimewa hanya ada dalam utopia komunisme yang tidak akan pernah tercapai (Pernah satu waktu sekelompok buruh tak berpendidikan mencoba menerapkannya dalam menjalankan sebuah negara dan hasilnya? Karl Max tua saja tidak se-ekstrem itu). Dan perbenturan antara nilai ideal lirik Lady Gaga dengan kenyataan sosial yang pahit itulah yang membuat lirik Lady Gaga seperti berdentang kosong.

Miris memang dengan tren musik Pop kontemporer. Lebih banyak orang yang mudah ditipu oleh janji-janji manis self-empowerment ketimbang nyanyian terus terang tentang kompleksitas dan kenyataan pahit kehidupan manusia.

Mindset orang sekarang kan, mengutip Sore, "220 juta manusia tersesat ke satu lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa". Mau terkenal lewat Youtube. Mau jadi Artis Instan. Mau jadi istimewa.

Entahlah, di Indonesia sendiri saya rasa sangat berdampak. Dunia pertelevisian Indonesia dahulu, sesuai segmentasinya yang memang sengaja ditujukan untuk dewasa (lain cerita dengan acara anak-anak), lebih realistis. Tidak ada FTV gadis miskin (yang entah mengapa pembawaannya shout-out loud bahwa stratanya diatas sang majikan) bertemu pria kaya dan happily ever after. Mungkin jika anda masih ingat, Atun sang adik pemeran utama tidaklah secantik pemeran tambahan pelayan lewat di sinetron masa kini. Heck, keseluruhan acara "Si Doel Anak Sekolahan" memang bicara tentang keseharian keluarga betawi di tengah pertumbuhan Jakarta sebagai kota metropolitan.

Kisah begitu membuat kita sadar bahwa tujuan kita hidup bukan hanya menjadi manusia istimewa belaka. Anda tak perlu berkuliah di universitas negeri ternama dengan memaksakan harus masuk dengan berbagai cara hanya untuk mencari nafkah. Anda tak perlu memiliki banyak follower instagram untuk menjadi seorang forografer. 

Anda tak perlu istimewa untuk menjadi seorang manusia.

2 comments: