Tuesday, 23 July 2013

Waktunya Indonesia

Butuh sekitar 500 tahun untuk peradaban kuno mesir akhirnya mengalami kemunduran. Kekaisaran Romawi mampu bertahan kurang lebih sama, sekitar 520 tahun. Jika dijumlahkan dengan masa pemerintahan republik (450 tahun) jadi sekitar 970 tahun. Selanjutnya muncul peradaban kuno India yang juga mampu bertahan cukup lama, sekitar satu milenia (1000 tahun). Lalu muncul peradaban Islam yang terbentang dari ujung persia hingga cordoba, spanyol. Kendati demikian, terhitung dari masa peradaban Islam Arab selama 700 tahun ditambah masa kekhalifahan usmani (Ottoman) Turki selama 500 tahun jadi sekitar 1200 tahun. Dan sekarang, sudah lebih dari 300 tahun peradaban barat berjaya. Dan banyak ahli berpendapat, the inevitable decline of western civilization sudah mulai tampak.

Roda berputar. Sudah terbukti, belum ada satu peradaban manusia yang mampu bertahan selamanya. Sudah mulai dominasi kekuatan barat merasa tertandingi oleh bangkitnya raksasa tua: Asia-secara khusus, Cina. Seakan tak mau kalah, kawasan Amerika Selatan juga mulai menunjukkan taringnya, dengan negara seperti Brazil dan Argentina yang diprediksikan menjadi salah satu dari beberapa negara yang kelak akan mendominasi di masa mendatang.

Indonesia tak terkecuali. Tanah air tercinta kitapun sedang sarat dengan optimisme perubahan. Kemunculan pemimpin muda dan luar biasa seperti Jokowi, Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil menginspirasi rakyat -khususnya kaum muda- untuk semangat turut serta dalam pembangunan bangsa. Ditetapkannya tokoh pemegang jabatan dari partai berkuasa seakan membuktikan bahwa tak ada pengecualian dalam penegakkan hukum; bahwa bangsa Indonesia dapat terlepas dari tradisi tua turun-menurun warisan pemerintahan kolonial licik: korupsi. Betapa arus perubahan positif sedang derasnya mengalir.

Peta politik 2014 seakan menjadi sebuah batu lompatan besar dalam harapan masyarakat. Pemimpin yang ikut bertarung didalamnya pun merupakan para tokoh yang dipercaya rakyat untuk membawa perubahan. Pemilu sudah bukan tentang manuver politik belaka. Pemilu dimata rakyat merupakan sebuah kesempatan penting untuk turut andil dalam menentukan arah pembangunan negara. Rakyat sudah percaya bahwa pemilu adalah tentang memilih seorang pemimpin.

Dalam statistik, terlihat banyak peningkatan di berbagai bidang kendati krisis ekonomi hingga bencana alam yang menimpa Indonesia. Angka kemiskinan tercatat dari tahun 2004 silam mengalami penurunan dari 14% menjadi 11,6%. Memang tidak signifikan namun ada peningkatan. Angka Pengangguran juga mengalami penurunan tercatat tahun 2004 sebanyak 10% sampai hari ini 5,4%. Pendapatan Per Kapita meningkat cukup baik dari awalnya USD $1.100 kini menjadi USD $4.000. Bahkan pertumbuhan ekonomi juga meningkat, seperti apa yang dikatakan Menteri Ekonomi Hatta Rajasa, "Kita bersyukur pertumbuhan kita bisa ditahan 6 persen di kuartal I 2013 6,02 persen,".

Memang Indonesia masih belum terlepas secara penuh dari pengaruh budaya kolot. Masih banyak kasus korupsi yang hingga saat ini masih tanda tanya besar. Namun, secara pasti saya bisa menyatakan bahwa pemberantasa korupsi di Indonesia is more vicious than ever. Dari data milik ICW didapat bahwa dalam semester awal 2012 saja tercatat sebanyak 597 koruptor sudah ditangkap. Bahkan menteri dari partai bos besar sekalipun tidak luput dari jangkauan hukum. Suatu pencapaian yang luar biasa.

Seakan tak mau kalah, demografi menunjukkan, saat ini jumlah penduduk Indonesia terbanyak ada pada batas umur 10-19 tahun yang berjumlah kurang lebih 44 juta. Kelompok umur tersebut -yang seringkali diselukan sebagai Indonesia's Golden Generation- akan memasuki umur produktif sebentar lagi. Hal ini berkorelasi dengan prediksi ahli ekonomi dan politik akan masuknya Indonesia ke ranah adidaya global.

Semangat kemajuan tersebut tentunya harus bersamaan dengan perkembangan mental generasi emas. Pemerintah sudah selayaknya ikut andil dalam pemberantasan KKN dalam lingkup generasi muda, dalam hal ini sekolah. Penguatan hukum tertulis menyoal KKN di lingkup sekolah bukan hal sepele. Hukum mendetail seperti itu minimal akan menimbulkan kesadaran dalam benak segenap pihak terlibat. Pengawasan juga harus lebih ditingkatkan dan melibatkan lebih banyak pihak baik Komite Sekolah hingga guru dan siswa itu sendiri. Tentunya pengarahan melalui jalur pendidikan dan pendekatan harus juga digalakkan. Jiwa tanggung jawab dan jujur harus selalu dijunjung tinggi baik dalam kasus ini maupun bekal untuk di masa yang akan datang. Dengan kemauan yang tinggi saya percaya sedikit demi sedikit budaya KKN bisa dihapuskan.

Kaum muda sendiri secara progresif terus mengembangkan diri. Sudah lazim jaman sekarang kelompok anak muda diskusi hal muluk seperti politik hingga teknis ekonomi. Budaya kritis kaum muda warisan generasi leluhur masih terus terjaga hingga sekarang. Memang belum begitu banyak, namun itulah sebuah progres.

Suatu kehormatan bagi kita untuk turut ikut andil dalam kemajuan paling agresif dalam sepanjang riwayat perjalanan Republik Indonesia sebagai sebuah negara. Mari kita segenap bangsa Indonesia menjawab panggilan Ibu Pertiwi. Mengutip Ridwan Kamil, "Mari bergerak, ada kereta mimpi yang harus kita kejar".

No comments:

Post a Comment