Wednesday, 15 May 2013

Memoritmo (2013)



image

Hal pertama yang membuat saya tertarik akan buku ini adalah -yang tentu saja lazim- sampulnya yang menarik. Setelah berhasil menarik saya menujunya, nama besar seperti Ade Paloh dan Cholil Mahmud, kembali berhasil merayu saya untuk merogoh kocek deminya. Dan toh, harganya cukup murah. 

Terdapat 14 tulisan dari musikus, penulis, penyiar radio, wartawan musik, sampai sutradara film. Gagasan utama buku ini adalah menceritakan arti dari sebuah lagu dari setiap perspektif dan kisah dibaliknya dari ke-14 pengarang tersebut yang unik. Atau menurut tulisan di cover belakang buku ini, “…bagaimana sebuah lagu begitu mampu menyimpan kenangan dalam nada-nadanya.”

Ulasan beserta memori dibaliknya tersebut dihantarkan secara personal dari para penulisnya, seperti Eross Candra dari Sheila on 7 yang mengutarakan kemasyhuran lagu “Across the Universe” dari The Beatles untuknya. Atau Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca yang dengan mantap mengurai “Terbunuh Sepi” milik Slank, yang hingga kemudian hari ternyata masih menghantui proses kreasi lagunya. Ade Paloh dari Sore mengenang lagu “Do You Want to Know a Secret” dari The Beatles dengan rumusan kata elok yang diramu dengan indah. Ada yang menggali kenangan pribadi, seperti Maradilla Syachridar (penggagas ide buku ini yang juga merupakan musikus di Homogenic) tentang “Strings That Tie to You” dari Jon Brion. Penulis Valiant Budi mengenang pengalaman naasnya semasa SMA yang berangkaian dengan lagu “Sahabat Gelap” dari Kubik. Penulis Mikael Johani dengan tulisannya dahsyatnya tentang “Nothing Matters When We’re Dancing” dari The Magnetic Fields atau “Madu dan Racun” dari Bill & Brod. Juga ada lagu-lagu yang dirasa begitu menggugah hingga karya baru bisa tercipta dari situ, seperti tulisan kreatif Anto Arief tentang “Djuwita Malam”, Galih Sakti tentang “Yeh Jo Halka Saroor Hai” dari Nusrat Fateh Ali Khan, atau Rain Chudori tentang “Little Motel” dari Modest Mouse

Dengan nama besar seperti musikus Eross Candra hingga sutradara film Sammaria Simajuntak tentunya buku ini sudah memiliki daya tarik tersendiri. Beberapa artikel didalamnya dapat dimengerti dengan mudah oleh pembaca; para penulisnya mampu menceritakan kisahnya dengan jelas. Namun di antara artikel tersebut, beberapa terasa timpang karenanya. Seperti karangan Sarah Deshita tentang cinta (berdasar pada lagu “True Love Waits” dari Radiohead) yang berputar pada hal abstrak sehingga terasa kurangnya emosi yang bisa tumbuh pada bagian tersebut. Atau karya Sammaria Simajuntak seperti ingin bercerita ringan namun justru terasa terlalu ringan; tak terasa adanya keterikatan. Disamping itu, beberapa masalah teknis seperti salah ketik ada di beberapa bagian. Hal tersebut mungkin dapat dikurangi jika penyunting lebih ambil andil di dalamnya. Di luar itu, memoritmo termasuk berhasil membuat kita untuk menjangkau kembali sensasi-sensasi dahsyat yang, Ade Paloh bilang, "berkonsekuensi senyuman maupun tangisan, dari seribu juta sel yang saling menyapa dan bersetubuh di otak belakang yang membentuk serikat kerja yang memproduksi memori."

No comments:

Post a Comment