Saturday, 17 August 2013

Sputnik Sweetheart (2013)



Bukanlah hal sulit untuk mengatakan mengapa sebuah karya fiksi tidak bekerja dengan baik. Entah Penulisan, kredibilitas, alur cerita yang mudah diprediksi - semua untuk membedah suatu buku. Terkadang juga begitu mudah untuk menyatakan bahwa sebuah novel indah: Anda dapat merasakan apa yang dilakukan penulis berkelas dengan bahasa dan narasi dalam novelnya, meskipun mungkin dapat mebuat anda menahan napas, Anda tidak kehilangan kata-kata anda sendiri untuk mendeskripsikannya.

Kadang kala semua hal tersebut dapat berada dalam sebuah novel yang sama. Dan berhasil -bahwa ya, menghibur, menawan, dan memberikan gairah untuk anda, para pembaca- tapi ketika anda mencoba menangkap keajaibannya, menjabarkan temanya atau memahami ceritanya, itu hanya akan membuatnya semakin jauh dari jangkauan anda. Jadi saya akan jujur saja: saya tidak begitu mengerti apa yang mengejutkan dari novel Murakami ini namun disaat yang sama, novel ini berhasil menyentuh saya lebih dalam mendorong lebih jauh dari apapun yang pernah saya baca di waktu yang lama.

Kisah ini diriwayatkan oleh K, sang narator sederhana dan misterius. Dia jatuh cinta dengan sahabatnya -seorang penyendiri, datar, namun cukup menarik, dan wannabe writer- Sumire. Namun, entah bagaimana Sumire jatuh cinta dengan seorang wanita yang lebih tua darinya: seorang yang elegan namun hampa secara emosional, Miu. Saya tidak akan mengatakan lebih banyak karena buku ini sangat pendek dan kebanyakan plot berasal dari kenangan K tentang persahabatannya dengan Sumire dan menggambarkan atas namanya, keinginan romansa yang ia miliki terhadap Miu.

Murakami menulis dengan ketulusan secara emosional -sebagaimana biasanya. Kata-katanya tergolong sederhana ketika dibandingkan dengan novel Murakami lainnya, namun dapat dengan indah menjelaskan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu. Seperti Toru sang protagonis di Norwegian Wood, K tidak dapat memiliki sang wanita pujaan sehingga mencari penghiburan melalui wanita lain secara seksual, dengan seringkali merasa tak acuh terhadap mereka dan tindakannya sendiri.

Memasuki buku ini lebih dalam, rasanya seperti mengintip di tepi tebing: memusingkan dan agak menakutkan. Ini, saya pikir, adalah sebuah novel tentang kesepian dan isolasi, tentang sifat fragmentaris menyakitkan hasil perilaku kita sendiri pada satu sama lain -pemikiran mengerikan yang mungkin bahkan tidak nyata bahwa, cinta antar dua manusia menempa sebuah hubungan diantaranya, bahwa ruang, waktu, dan peristiwa abnormal akan selalu dapat menemukan celah diantara diri kita sendiri dan orang lain.

Saya merasa bahwa novel ini seakan menjembatani antara novel yang lebih 'normal' dari Murakami seperti 'Norwegian Wood' dan novel surealis seperti 'WInd-Up Bird Chronicle'.Seperti kebanyakan buku Murakami, saya menganjurkan buku ini untuk dibaca. Novel ini singkat, tersaji dengan indah dan meskipun tidak se-epik karyanya yang lain, tetap menyenangkan untuk dibaca.

No comments:

Post a Comment