Saturday, 31 August 2013

Pentas Seni Sekolah

Konsep pentas seni (pensi) sekolah dalam benak golongan muda kontemporer pada umumnya relatif tidak berubah: bahwa merupakan sebuah ajang unjuk gigi para pelajar. Yang membedakan antara konsep pensi generasi lampau dan sekarang adalah bahwa ketika angkatan tua berlomba mempertunjukkan keterampilan seni dan budaya siswa dengan eksul siswa sebagai fokus, angkatan kini lebih mengarah kepada faktor eksternal; tentang dimana acara bertempat, berapa besar honor bintang tamu, dan apakah tiket terjual habis atau tidak.

Ketika dibandingkan dengan generasi Ibu saya, misalnya. Jika penampilan utama (headline) dari sebuah pensi sekarang adalah penampilan dari bintang tamu besar, angkatan dulu lebih menggemari pertunjukkan khusus dari ekskul teatrikal sekolah yang acap kali dipadu dengan kelompok ansambel sekolah yang termasuk didalamnya bermacam ekskul musik seperti angklung, drum band, padsu, dan lainnya.

Mungkin inilah memang suatu bentuk dari evolusi sosial yang sewajarnya selalu bergerak, tentunya -bahwa atas dasar pemikiran rasional, berpuluh tahun memang waktu yang cukup lama. Salah satu bagian kecil dari perubahan jalan pikir umat manusia yang kian lebih semakin mengacu pada pemberhalaan uang. Agak klise, memang.

Namun dalam hal ini, saya pikir, tidak ada salahnya. Toh bicara konten acara, tentunya masih selalu disertai penampilan dari kelompok internal sekolah, seperti angklung dan padsu, walaupun tataran dalam hal bobot memang agak berkurang. Hal ini sekali lagi, tidak ada salahnya. Memang tujuan utama penyelenggaraan adalah reaksi positif pengunjung, pelanggan.

Jika dulu orientasi pensi adalah kepentingan siswa, yakni penyelenggaraan ajang congkak kemampuan keluarga sekolah, generasi sekarang lebih mengutamakan bagaimana sebisa mungkin membuat pagelaran atas dasar kepuasan khalayak umum. Namun kenyataannya, memang inilah yang turut diinginkan mayoritas siswa modern; ingin pensi sekolah menjadi satu hal yang dapat dibanggakan.

Mungkin ini akan terdengar ironis ketika disaat yang sama saya tengah menjadi bagian dari kepanitiaan pensi sekolah, tapi okelahJadi barangkali konsep 'bangga' inilah -yang pada dasarnya menjadi sebuah acuan prestise para remaja kontemporer- yang agaknya sedikit kian melenceng dari nilai moralitas leluhur. Ah sudahlah, bicara perkara begini bisa panjang.

Kembali ke pensi, kiranya dapat disimpulkan bahwa perubahan signifikan akan konsepsi sebuah pentas seni sekolah antara dulu dan sekarang memang hanyalah bagian kecil dari laju pesat evolusi parameter nilai sosial dan norma yang senantiasa berlangsung sejak Tuhan tahu entah kapan. Sebuah fenomena biasa saja.

No comments:

Post a Comment