Tuesday, 15 October 2013

Pengemis di Kota Bandung

Belakangan lagi rame tentang pengemis. Jadi walikota baru Bandung, Ridwan Kamil, mencanangkan sebuah program inovatif dimana para pengemis di Bandung ditawarkan untuk bekerja secara halal dan tentunya legal sebagai satu unit pekerja dibawah dinas kebersihan dan pertamanan kota Bandung. Setahu saya, spesifiknya akan turut diturunkan dalam upaya pembersihan sungai cikapundung bersama 'pasukan gorong-gorong' yang sebelumnya sudah terlebih dahulu dibentuk oleh walikota terpilih Bandung yang baru menjabat kurang dari sebulan ini. Ide bagus bukan? Pengemis yang katanya menjadi korban kerasnya hidup di kota, yang katanya susah cari kerja, diberi kesempatan untuk bekerja dengan halal dan gaji yang boleh dibilang lebih dari mencukupi kebutuhan mereka. Semua senang. Yah, tadinya saya pikir begitu.

Jadi ketika saya baca berita bahwa ternyata pengemisnya pada menolak dipekerjakan, agak kaget juga.

Ketika ada penertiban sekaligus sosialisasi program baru untuk gepeng tersebut, para gepeng itu malah demo ke balai kota. Ridwan Kamil spontan keluar dan menyambut para gepeng lalu kembali mensosialisasikan program pemberdayaan gepeng kota Bandung langsung secara pribadi. Jawabannya?

Nih saya kutip dari tribunnews.com:
"Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah bapak siap menggaji sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah bapak bisa menggaji mereka Rp 4 juta sampai Rp 10 juta. Kalau hanya gaji Rp 700 ribu tidak akan cukup," ujar Priston salah seorang orator dari Gerakan Masyarakat Djalanan (GMD).

Aduh.

Ya katanya kan hidup susah. Gaji sopir pribadi saja sekitar Rp 350.000 per minggu dikali 4 jadi 1 bulan=1.400.000. Toh dengan nilai segitu, bisa hidup. Kebutuhan sehari-hari, kendaraan, sekolah anak. Nah, 4 juta? Gelandangan? Mungkin malamnya punya sisi lain gaya hidup. Macam Bruce Wayne saja ya. Entahlah.

Pada akhirnya, saya pikir, kembali pada pribadi masing-masing. Apakah tetap akan memberi para pengemis tersebut atas dasar kasihan bahwa 4 juta rupiah memang dinilai kurang untuk mencukupi kebutuhan mereka? Apakah akan terus menumbuhkan mental mengemis di Indonesia?

Tuesday, 8 October 2013

Tentang Beban Ekspektasi

Setiap makhluk sentien, pada hakikatnya, diberikan kebebasan dalam memilih arah hidup sesuai keinginan sesuka hati tanpa batasan apapun. Ego dan percaya diri bahwa kebebasan mampu membuat setiap orang bahagia, boleh saja dijadikan pegangan. Namun harus diakui, kadang cita dan keinginan harus kandas karna sebuah harapan yang terlalu dipaksakan.

Skahespeare bilang, “Expectation is the root of all heartache“. Harapan adalah akar dari semua sakit hati.

Seorang awam saja misalkan. Sejak kecil sudah dituntut menjalani agama bapak dan ibunya tanpa harus terlebih dahulu mengenal beragam agama dan bahkan seringkali dicekoki dogma 'one and only true faith' dalam bentuk sikap diskriminatif terhadap kaum non-agama sang anak tersebut. Dan toh memang inilah normalitas yang dinilai baik dalam masyarakat yang sudah berlangsung sejak Tuhan tahu entah kapan.

Nanti sudah bersekolah mulai timbul beragam harapan. Harus selalu rengking ya seperti bapak ibu, harus tumbuh rupawan seperti cucu kakek lainnya, harus sudah bisa nyetir sejak smp. Harus menang, menang, dan menang.

Ketika ekspektasi dan harapan tersebut tidak terpenuhi, mereka bakal merasa kecewa sendiri. Kok kamu begini, tidak seperti kami dulu, kok gak bisa, kok tidak sesuai harapan kami. Apalah. Nanti pandai menyetir kendati masih smp, kecelakaan makan korban jiwa 6 orang tak bersalah barulah sadar.

Biasanya seringkali bilang “kami tidak butuh apapun, karena hanya dengan mengetahui anak kami bahagia saja kami ikut bahagia”. Oke, define bahagia.

Begini, memang harus diakui bahwa harta memang menjadi sebuah faktor utama penentu kebahagian. Katakanlah setelah dewasa ternyata hidup anda tidak sesuai ekspektasi, tapi toh merasa serba berkecukupan, bahagia. Namun bagi mereka, selalu kekurangan. Selalu kekecewaaan. Kerap kali menawarkan pekerjaan lewat kerabat misalkan, atau mempertanyakan sekolah anak anda yang di benak mereka berada di bawah standar. Jadi secara terselubung selalu berasumsi anda seorang yang kekurangan, anda tidak bahagia. Saya pikir tentunya niatan mereka pasti baik. Apalagi bapak ibu. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia. Namun ya itulah, sulit sekali menghilakan persepsi ekspektasi. Padahal, satu hal yang anda inginkan adalah untuk mereka ikut bahagia bersama kebahagiaan anda.

Mungkin inilah yang terjadi ketika (pseudo)sosialisme setengah matang bercampur kapitalisme rakus pemberhala uang.

Wednesday, 2 October 2013

Tentang Nihilisme (as a Genre)

Nihilisme adalah sebuah doktrin filosofi dimana gagasan aspek nilai kehidupan luhur adalah hal yang (hampir) non-eksistensial. Nihilisme menolak ide putatif akan sebuah arti agung dari tujuan mulia hidup manusia. Nihilis menilai bahwa moralitas tidak secara inheren ada, bahwa nilai dan norma adalah sebuah hal artifisial. Dari hal tersebut dapat pula diartikan bahwa nihilisme cenderung tidak mengakui batasan moralitas dan dalam hal ini: agama.

Jadi mungkin dapat disimpulkan bahwa Nihilisme adalah tentang eksistensi manusia yang tidak berarti. Bisa dibilang, not giving a shit.

Istilah nihilisme mulai dikenal khalayak umum pada era 70an hingga 90an, dimana tengah ada suatu gap atau kekosongan yang besar dalam kultur pada masyarakat. Dimulai dari era 70an. Setelah lewat gairah berontak rock 'n roll ala generasi Chuck Berry dan The Beatles, dan bahkan rock 'n roll pada masa itu dapat dikatakan sebagai musik populer, perlahan mulai surut. Masa pasca rock 'n roll seakan telah kehilangan tujuan yang oleh generasi sebelumnya diserukan bak perang salib, sudah tidak ramai lagi. Sudah tiada hal lagi untuk berontak.

Itulah titik permasalahannya.

Pada akhir 70an muncul musik ribut nir-arti yang kelak dikenal luas sebagai ikon anti-kemapanan: punk. Berawal dari kesuksesan The Ramones, seniman pionir dari genre punk yang, saya pikir, berhasil membawa punk kepada gelombang mainstream, walaupun masih sangat terbatas. Seakan tidak mau kalah, Inggris turut ambil andil dalam kebangkitan punk lewat Sex Pistols dan The Clash.

Misfits, Joy Division, Velvet Underground, Iggy Pop.

Situasi tersebut berlangsung terus hingga pada awal 80an dimana scene punk mencapai masa keemasannya. Awalnya konsep semangat punk masih berkutat tidak jauh dari akar ideologi rock 'n roll. Namun dalam perkembangannya, gairah punk menjadi semakin keras yang terkadang dianggap ekstrim. Di Inggris misalnya, Sex Pistols mengekspresikan sentimen anti-perang (kala itu tengah panas konflik falkland antara UK dan Argentina) lewat lagu 'God Save The Queen'. Dalam lagu tersebut, terdapat penggalan lirik seperti berikut:
God save the queen
The fascist regime
They made you a moron
Potential H-bomb
God save the queen
She ain't no human being
There is no future
In England's dreaming
..Dan bajingan itu berasal dari Inggris, of all places. The Clash juga angkat bicara perihal menentang perang dengan lagu seperti 'London Calling' dan 'The Call Up'.

Sebenarnya sudah terlihat unsur nihilisme sebelum tema anti-perang diusung sebagai agenda utama dalam scene punk. Malah justru sebelum muncul tema anti perang, nihilisme lah tema sentral musik punk. Anarchy In The UK, White Riot. Nah buat saya, paling cocok menggambarkan situasi tersebut adalah penggalan lirik dari lagu White Riot:
White riot - I want to riot 
White riot - a riot of my own
Sex Pistols punya Anarchy In The UK, Pretty Vacant, saya pikir anda mengerti.

Tapi, saya pikir, gerombolan berandalan itu berusaha terlalu keras untuk berlagak tidak peduli. Maksud saya, what's with them social protest songs? Career Opportunities? anti-war? fascist regime? sounds like a certain long-haired-ex-rockstar-turned-contemporary-prophet. Entahlah.

Pada akhir 80an dunia literatur juga turut terpengaruh oleh masuknya gagasan-gagasan nihilisme dan hal yang berkaitan seperti eksistensialisme dan kesendirian. Karangan macam Kafka dan Tolstoy mulai banyak digemari. Bahkan salah satu buku yang kelak kemudian hari menjadi karya legendaris, Norwegian Wood, a nostalgic story of loss, solitude, and sexuality, karya Haruki Murakami, menjadi sebuah fenomena ketika penjualan buku tersebut menembus rekor baik nasional maupun internasional, hingga sang penulis merasa ketenarannya sangat, sangat, mengganggu hinggai ia memutuskan untuk hidup di pengasingan (crete, yunani kalau tidak salah) hanya untuk menghindarinya. Untung saja tidak seperti seorang rocker depresif pecandu berat narkoba legendaris.

Nah, akhirnya sampailah pada Legenda (sayangnya bukan dari) generasi saya. Yah memang tidak bisa mengaku 'Generasi X' atau yang biasa dielukan the so-called generasi 90an, tapi saya dapat pastikan, pengaruh kuat nihilisme era masyhur kalian itu kurang lebih untuk saya, rasanya sama.

Nirvana. Hmm.

Flanel, garage rock, heroin, nihilistic lifestyle, glorified self-worthlessness, nothing, whatever, nevermind. Dark, Depressive. Not giving a shit. Shit. Apalah.

Membenci diri merupakan motif tematik brutal yang berulang dalam konteks lirikal Nirvana. Dalam album Nevermind, Nirvana mengubah suara, tampilan, dan perasaan dari musik keras, merubahnya dari nuansa bombastis, flamboyan, dan hedonis berlebih (pikirkan Poison, Motley Crue, Whitesnake, dan musik 'Hair Metal' populer lainnya menjadi sesuatu yang sangat muram, gelap, dan luar biasa depresif.

Cobain mungkin telah memukul postur politik tertentu dalam cara kecil dan insignifikan, namun pada intinya ia tampak tidak begitu percaya. Nihilisme, ketika benar-benar dianut tanpa kompromi, pasti akan berakhir pahit. Dalam kasus Kurt, hal tersebut mengarah pada kecanduan narkoba, depresi, dan pada akhirnya bunuh diri. Bahkan cintanya pada bayi perempuannya itu tidak dapat menghalangi kejatuhannya hingga pada akhirnya mencapai titik kehampaan.

Nihilisme Kurt, saya pikir, merupakan sebuah kutukan pada keberadaannya, menyebabkan banyak g bkebiasaan dan pilihan buruk, dan akhirnya tindakan sangat tidak tercela berupa pemusnahan diri. Secara artistik, walau bagaimanapun, itu adalah ketidakpuasan diri tanpa henti terhadap semua pergerakan, kepercayaan, dan laknat ortodoks yang meminjamkan kekuatan dan semacam integritas berantakan.

Yah pada akhirnya, kita semua harus melewati kegelapan untuk mencapai cahaya di ujung lorong. Cobain tidak dapat keluar dari kegelapan itu, namun sementara tenggelam didalamnya, ia merekam kesuraman dan horor dari dalamnya secara cemerlang dan tanpa ampun. Nevermind telah menjadi pelipur lara untuk jiwa yang kesepian dan hampa dalam dua dekade terakhirva, hanya dengan mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Seberapa overrated yang bahkan Kurt Cobain sendiri berpikir demikian, pencapaian semacam itu selayaknya tidak dianggap rendah, saya pikir.

Nah sekarang bicara tentang anak jaman sekarang. Kan banyak tuh yang (ngakunya) suka Nirvana. Suka sex pistols. Suka punk. Suka lagak not giving a shit. Buat saya sih, lucu aja.

Para cecunguk ini identik dengan atribut band-band diatas, terlepas dari suka atau tidak. Mereka biasa bergerombol. Dari hari biasa hingga weekend sering dihabiskan 'mejeng', biasanya di sebuah warung sekitar sekolahnya. Bandung, walah setiap sekolah ada. Bisa seharian disana. Setiap kalinya bisa habis berapa bungkus, botol, dan ahem, serbuk, selagi disana. Saya pribadi no problemo dengan konsumsi begituan, toh kawan saya banyak yang begitu. Biasa saja. Yang jadi perkara adalah apakah perilaku demikian produktif? Saya pikir tidak. Heck, bahkan konsumtif. Defisit. 

Tapi itu diluar topik, lain waktu saya bahas.

Nah jadi apakah mereka-mereka ini yang disebut fanatik sex pistols? Nirvana? Ngerti musik katanya. Entah ya saya tidak mau generalisasi, tapi berdasarkan pengalaman saya interaksi dengan mereka, hal yang dipedulikan hanyalah sosial media online, berfoto, login path. Aduh. Tak perlulah jauh-jauh bicara anti-kemapanan. Nihilist? Ha. Fag.

Ada juga jenis 'nihilist' satu lagi. Jenis ini biasa ditemui di perempatan jalan besar. Dengan gaya yang terkadang lebih underground dari fans underground sejati, mereka biasa kumpul di tempat-tempat umum -tak peduli apakah kehadirannya diterima atau tidak. Biasanya mengaku fanatik punk. Gahulnya berupa nonton konser Rosemary dengan clique sk8punknya masing-masing.

Hmm punk, walah. Ya toh tidak bisa menyatakan salah juga. Tapi persepsi punk di Indonesia beda sekali. Selalu identik dengan skate, aibon, anti-intelektual. Padahal, punk tidak -melulu- begitu. Butuh kapasitas berpikir yang cukup baik untuk dapat menciptakan sebuah karya remonstrasi. John Cale, Malcolm Mclaren, Taufiq Rahman. Intelek.

Ah jadi bicara punk. Ya sudahlah, mungkin sekian pandangan dangkal saya tentang nihilisme, yang kebawahnya agak keluar topik. Okelah.

Oh well, whatever, nevermind.