Tuesday, 8 October 2013

Tentang Beban Ekspektasi

Setiap makhluk sentien, pada hakikatnya, diberikan kebebasan dalam memilih arah hidup sesuai keinginan sesuka hati tanpa batasan apapun. Ego dan percaya diri bahwa kebebasan mampu membuat setiap orang bahagia, boleh saja dijadikan pegangan. Namun harus diakui, kadang cita dan keinginan harus kandas karna sebuah harapan yang terlalu dipaksakan.

Skahespeare bilang, “Expectation is the root of all heartache“. Harapan adalah akar dari semua sakit hati.

Seorang awam saja misalkan. Sejak kecil sudah dituntut menjalani agama bapak dan ibunya tanpa harus terlebih dahulu mengenal beragam agama dan bahkan seringkali dicekoki dogma 'one and only true faith' dalam bentuk sikap diskriminatif terhadap kaum non-agama sang anak tersebut. Dan toh memang inilah normalitas yang dinilai baik dalam masyarakat yang sudah berlangsung sejak Tuhan tahu entah kapan.

Nanti sudah bersekolah mulai timbul beragam harapan. Harus selalu rengking ya seperti bapak ibu, harus tumbuh rupawan seperti cucu kakek lainnya, harus sudah bisa nyetir sejak smp. Harus menang, menang, dan menang.

Ketika ekspektasi dan harapan tersebut tidak terpenuhi, mereka bakal merasa kecewa sendiri. Kok kamu begini, tidak seperti kami dulu, kok gak bisa, kok tidak sesuai harapan kami. Apalah. Nanti pandai menyetir kendati masih smp, kecelakaan makan korban jiwa 6 orang tak bersalah barulah sadar.

Biasanya seringkali bilang “kami tidak butuh apapun, karena hanya dengan mengetahui anak kami bahagia saja kami ikut bahagia”. Oke, define bahagia.

Begini, memang harus diakui bahwa harta memang menjadi sebuah faktor utama penentu kebahagian. Katakanlah setelah dewasa ternyata hidup anda tidak sesuai ekspektasi, tapi toh merasa serba berkecukupan, bahagia. Namun bagi mereka, selalu kekurangan. Selalu kekecewaaan. Kerap kali menawarkan pekerjaan lewat kerabat misalkan, atau mempertanyakan sekolah anak anda yang di benak mereka berada di bawah standar. Jadi secara terselubung selalu berasumsi anda seorang yang kekurangan, anda tidak bahagia. Saya pikir tentunya niatan mereka pasti baik. Apalagi bapak ibu. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia. Namun ya itulah, sulit sekali menghilakan persepsi ekspektasi. Padahal, satu hal yang anda inginkan adalah untuk mereka ikut bahagia bersama kebahagiaan anda.

Mungkin inilah yang terjadi ketika (pseudo)sosialisme setengah matang bercampur kapitalisme rakus pemberhala uang.

No comments:

Post a Comment