Friday, 1 November 2013

American Beauty (2010)



"The worst thing anyone can be is normal."

Sebuah debut layar lebar pertama dari jawara teater Trans Atlantik, Sam Mendes. Pada saat ulasan ini ditulis, tentunya Sam Mendes sudah jauh lebih terkenal, lewat karya seperti Revolutionary Road, The Kite Runner, Road To Perdition, hingga keluaran paling anyar dari franchise James Bond: Skyfall. Dan patut diketahui juga bahwa penulis screenplay Alan Ball -yang lewat film ini dianugerahi Academy Awards 'Best Original Screenplay' dan kelak nantinya menulis 'True Blood' dan 'Six Feet Under'- ialah otak dibalik cerita film ini. Ia sendiri yang mencari sutradara yang tepat hingga akhirnya menunjuk Mendes.

Lester Burnham (Kevin Spacey) adalah seorang patriarkal muram suatu keluarga suburban -sebuah analogi paling universal dari rata-rata keluarga amerika pada masa itu- dari istri Carolyn (Annette Benning) dan putrinya Jane (Thora Birch) yang tengah melalui fase 'krisis paruh baya'. Dia memutuskan untuk memutarbalikkan hidupnya yang opresif setelah mengembangkan obsesi untuk teman putrinya yang menarik, Angela (Mena Suvari) dan berkenalan dengan Ricky (Wes Bentley), seorang anak remaja tetangga baru.

Kevin Spacey berhasil menangkap nuansa komikal dan getir lewat perannya dalam Lester Burnham. Kita pertama kali bertemu dengan  Lester ketika dia sedang, ahem, masturbasi di kamar mandi. "Funny Thing is" Lester bilang dalam suara narasinya, "this will be the high point of my day". Lester tidak main-main. Istrinya Carolyn adalah seorang agen properti dengan emosi yang tertekan. Kegemaran Carolyn -taman mawarnya, uang,  tape motivasi, dan citra keberhasilan yang dia berusaha untuk pertahankan- tidak termasuk suaminya. "See the way the handle on her pruning shears matches her gardening clogs?" tanya Lester. "That's not an accident."

Selama menonton film ini, saya diingatkan bahwa keseharian di sekitar kita tidak selalu sepenuhnya nyata, lewat seorang karakter unik yang melihat dunia dari lensa kamera sebagai sebuah upaya untuk melihat memperhatikan dan merasakan kenyataan dari alam dan keindahan dan bahkan kematian.

Hal ini membuat saya kesal pada awalnya. Saya tidak pernah mengerti orang-orang yang menghabiskan sepanjang liburannya terpaku pada camcorder atau alat rekam lainnya. Ya memang mereka mendapatkan memori permanen akan liburannya tersebut, namun mereka tidak akan pernah benar-benar merasakan keindahannya secara nyata.

Dan saya pikir ini juga merupakan pendekatan Ricky pada kehidupan: Ia melihat dunia lewat sebuah filter, sebuah lensa. Kamarnya penuh dengan rekaman video kenangan dari dunianya, tetapi apa yang benar-benar telah dia lihat lewat mata kepalanya sendiri?

Kemudian barulah saya sadari bahwa untuk hampir setiap karakter dalam American Beauty, tampilan adalah yang terpenting. Carolyn dengan fantasi keluarga suburbia yang bahagia. Ayah Ricky (Chris Cooper) yang homophobic merasa terganggu oleh tetangga gay-nya yang berani untuk tidak menyembunyikan hubungan mereka. Jane terobsesi oleh penampilannya, tak sadar betapa menarik ia sebenarnya, sementara temannya Angela, terobsesi akan dirinya sendiri. Ricky sendiri harus berpura-pura dimata ayahnya sebagai "an upstanding young citizen with a respectable job" ketika ia sebenarnya merupakan seorang pengedar narkoba.

American Beauty bercerita tentang kerinduan akan masa muda, kehormatan, kejayaan, dan tentu saja, keindahan. Kala seorang berhenti bermimpi adalah saat ia membatu batinnya. Pikiran Lester tentang Angela memang kotor, tapi bukanlah suatu yang sesat; dia ingin melakukan apa yang pria diprogram untuk lakukan, dengan wanita paling cantik yang pernah dia temui. American Beauty tidak se-gelap atau sinting seperti "Happines", sebuah karya luar biasa yang dirilis beberapa waktu berdekatan untuk mengungkap realita kehidupan masyarakat Amerika. Ini lebih mengenai kegelapan dan kesepian daripada kekejaman dan kebiadaban. Tidak ada yang benar-benar jahat dalam film ini, hanya terbentuk sedemikian rupa oleh masyarakat dimana mereka tidak bisa menjadi diri sendiri, atau merasa sukacita.

Itulah hal-hal yang ditangkap American Beauty ketika Mendes mendera penonton dari humor ke horor hingga sesuatu yang puitis dan manusiawi. Hasilnya adalah sejenis pembangkangan berseni yang Hollywood biasanya tidak berani sampaikan: komedi menyentak yang membuat anda tertawa hingga terasa sakit.

No comments:

Post a Comment