Saturday, 4 January 2014

Mimpi-Mimpi Kolonial

"life should be better and richer and fuller for everyone, with opportunity for each according to ability or achievement" - James Truslow Adams, American Dream

Tidak James, kenyataannya tidak begitu. 

Jaman sekarang sudah lazim, punya mimpi merantau ke luar negeri. Alasannya beragam. Ekonomi, gengsi, apalah. Banyak orang berpikir pindah ke luar negeri itu menyenangkan. Lepas semua masalah. Semua orang kaya, tidak ada rampok. Hidup berkecukupan. Semua hidup indah dalam kedamaian.

Fakta di lapangan berkata lain.

Dulu sekitar masa pasca-kolonialisme, atau de-kolonialisme besar-besaran, negara-negara Eropa mulai membuka keran imigrasi -terutama untuk negara-negara muda asuhannya- dengan terbuka lebar. Lalu dimulailah apa yang disebut kaum kanan Eropa sebagai 'Mass Europa Colonization' oleh bangsa kelas dua dari Asia dan Afrika. 

Sebetulnya Amerika sudah terlebih dahulu melakukannya. Sudah beberapa abad lamanya Amerika menjadi tujuan imigrasi nomer satu, berkat kampanye paling sukses 'American Dream'. Amerika digambarkan sebagai tanah luas yang kosong untuk dihuni dengan bebas oleh kaum tertindas yang ingin benar-benar merdeka, ingin terbebas dari Bangsawan borjuis, militaris bengis, dan bandit jahat yang merusak hidupnya. Ingin punya harapan. Hingga kini masih dianggap demikian.

Yah memang kenyataannya, lebih kurang memang demikian -terlepas dari isu SARA di masa lampau.

Kembali ke Eropa. Pada mulanya tentu saja pihak ex-kolonis ini menerima mantan budaknya dengan tangan terbuka -at least menurut beragam media. Dan toh, imigran membantu masalah kekurangan tenaga kerja -terutama pada sektor kerja kasar- di negara-negara eropa pasca perang duna ke-2. Lihat saja fenomena keajaiban ekonomi eropa dan keberhasilan program marshal plan. Imigran berperan penting dalam kemajuan ekonomi eropa. Jadi situasi masa itu saling membutuhkan, hubungan mutual. 

Namun, kian kemari kok ternyata banyak dari mereka ini yang menjadi sukses, terlalu sukses. Nah mulailah bangkit sentimen anti-imigran. Mungkin bisa dibandingkan dengan kondisi Indonesia 98, dimana terdapat kesenjangan besar antara kaum pribumi dan non-pribumi. Terlepas dari cara mereka untuk sukses yang saya yakin kurang lebih sama dengan pribumi kaya, namanya sudah urusan perut ya susah dikendalikan. Layaknya kaum fasis tua, rakyat kelaparan semua karena bedebah non-pribumi yang mencuri kekayaan melimpah. Demikian dengan Eropa.

Yah tentunya saya tidak bisa klarifikasi langsung. Keluar Asia saja tidak pernah. Tapi sejauh pengetahuan dangkal saya ini, belakangan isu anti-imigrasi semakin panas diperbincangkan. Beberapa kasus seperti pelarangan memakai jilbab, pelarangan berbusana agamis -berlaku untuk semua kepercayaan- di beberapa tertentu, hingga mencapai titik kekerasan seperti apa yang disebut paki-bashing di Inggris. 

Wah bicara paki-bashing ini saya jadi ingat film 'This Is England'. Dalam film itu digambarkan bagaimana buruknya perlakuan terhadap para imigran di Inggris dan keseharian kaum ekstrimis kanan Inggris yang secara brutal melakukan kampanye rasis. Ada juga 'Ross Kemp on Gangs'. Acara tv ini meliput keseharian geng-geng brutal di kota-kota besar. Di Russia misalnya. Ada suatu geng dimana para anggotanya diajarkan ala militer -dari close combat, penyerbuan ala spec ops, hingga senjata api- guna mempersiapkan diri dalam 'kebangkitan Russia'. Dalam kesehariannya mereka sudah biasa melakukan kekerasan terhadap mereka yang dianggap sebagai 'sampah Russia', kendati pisaunya saja didapatkan dari merampok toko milik imigran Georgia. Geng ini terdiri dari berbagai latar belakang, dari ex-militer hingga mahasiswi ekonomi muda anak konglomerat. Parahnya lagi, mereka memiliki dukungan bahkan hingga di parlemen.

Dan ini baru Russia.

Saya pikir, sentimen anti-imigran ini -secara fenomena- wajar-wajar saja. Seperti tadi dibandingkan dengan kondisi di dalam negeri. Wajar saja kan kalau kita kurang suka terhadap kesuksesan entitas asing. Fear of the unknown, ceunah. Wong dari dulu saja sudah digemborkan harus cinta produk dalam negeri. Tapi kenyatannya, hampir seluruh aspek kehidupan kita sekarang, suka tidak suka, bertumpu pada nilai asing.hape produk china, baju bermerek, internet. Begitupun dengan mereka disana, kok pemilik toko A bukan warga asli Oldham, kok CEO perusahaan anu imigran pakistan. Nah. Jadi ya sama sajalah, hal lumrah. Mereka sudah cukup toleran mau menerima imigran-imigran asing nan aneh dalam jumlah yang cukup besar.

Jadi lantas bagaimana? Ya poin saya, the so-called '[insert your destination here] Dream' sudah tidak sama seperti dulu. Dan baiknya pikir matang-matang. Toh, memang anda cukup berkualifikasi? Kalau disini saja sudah susah diterima gimana mau disana. Mimpi kolonial itu hanya tinggal kenangan lampau.


Tapi buat saya pribadi, impresi kuat romansa Eropa selalu memiliki tempat istimewa di benak pikiran terdalam saya. Indahnya bangunan-bangunan kuno, suasana kota yang ramai dan memukau, peradaban maju ciptaan manusia yang luar biasa hebat. Saya tahu bahwa kehidupan imigran disana sudah tidak seperti dulu. Masyarakat Eropa juga sudah tidak begitu menerima kehadiran imigran. Intinya jaman sekarang sedang masa sulit untuk tinggal disana sebagai pendatang, Tapi entahlah.

There's just this undeniable romance to the Western World that we can't help but fall in love.

No comments:

Post a Comment