Saturday, 14 December 2013

Kekeluargaan

Singkat saja kali ini.

Inilah alasan saya mengapa individualisme merupakan sebuah pilihan yang jauh lebih menarik ketimbang dengan jalan hidup pementingan prestise yang dibalut dengan sebuah bualan belaka yang disebut 'kekeluargaan'. Bah. Berakar dari asas satu inilah, sifat tertutup kita mulai tertanam. Akhirnya tidak bisa menerima sesuatu yang baru dan berbeda dengan damai. Dan berkat jawasentris rezim orba, semakin tersegregasi saja. 

Kalau di keluarga kan, paling getol berlomba menunjukkan sesuatu. Wah anak saya menang lomba, wah anak saya cantik, wah anak saya kerja di tempat prestisius. Apalah. Tapi memang satu hal, saya akui bahwa nilai kekeluargaan juga memiliki keuntungan tersendiri. Hubungan keluarga, di Indonesia, menjadi sebuah aspek jaringan yang penting untuk prospek masa depan seseorang. Anda bisa saja terbawa sukses oleh seorang kerabat kaya. Dan toh, artinya kepentingan nepotisme diatas meritokrasi. Walah. KKN dong. Ibas mah 1000% katakan tidak. Bahaha halah. Oke.

Jadi menurut asas kekeluargaan, definisi keluarga adalah seorang yang mengawasi dan diawasi kita. Kalau bahasa orwellian, "big brother is watching you". Sementara arti kekeluargaan sendiri adalah memperluas aspek keluarga masing-masing. Jadi -secara sukarela- memperluas jaringan big brother anda sendiri. Alhasil semakin banyak yang kita anggap keluarga=semakin banyak orang yang mengawasi dan diawasi. Kemudian datanglah era jejaring sosial dan internet murah. 

Mau beda sendiri? Agama, budaya, gaya hidup, apalah. Ya anda bagian dari sebuah keluarga dan atas dasar asas kekeluargaan, maka anda tak boleh berbeda dari apa yang anda anggap sebagai keluarga. Jika memang berbeda ya harus siap menghadapi konsekuensi beragam sanksi sosial bahkan legal.

Tapi ya serba salah. It comes in a package, 'nuff said. Tak perlu jauh-jauhlah. Kamu kan, sehari-hari biaya makan dari mana. Bensin. Sekolah. Jadi ya konsekuensi anda hidup bergantung dengan mereka ya mau tidak mau harus ikut keinginan mereka. Harus mau dibanding-bandingkan. Harus jadi harapan keluarga.

Lantas mau gimana? Ah yowislah, memang sudah fucked-up dari sononya.

No comments:

Post a Comment