Tuesday, 15 July 2014

Kerja Keras Tuna Guna

Ada satu hal (lagi) yang saya sesalkan tidak saya lakukan selama masa sekolah: tidak mengikuti les kumon. Kawan-kawan saya masuk sekolah di sman kluster 1 kota Bandung, dan mayoritas lolos seleksi univ papan atas. Semua ikut les kumon.

Begini ya, saya jelaskan secara garis besar apa kumon itu. Dan mohon maaf jka tidak sesuai karena toh seperti yang sejak awal saya bilang, saya belum pernah ikut les semacam kumon ini. Apa yang saya dapat dari konsep ini adalah: sistem drilling soal. Jadi siswa diwajibkan mengerjakan soal-soal matematika sesuai grade masing-masing sebanyak kurang lebih 100 soal/hari dalam batas waktu tertentu. Sebutlah salah satu kawan saya ini, si anak sman ternama yang ikut les kumon. Dia cerita sudah ikut kumon sejak smp. Selama itu dia sudah mencapai grade sma, jadi sebelum masuk sma sudah biasa drilling soal matematika sma yang kurang lebih berjumlah 100 itu dan oh ya, belum termasuk pr.

Mereka, kawan-kawan saya ini, disamping kumon juga ikut bimbel-bimbel terkenal. Biasanya cari kelas yang minim jumlah siswa, eksklusif. Apalagi ketika menjelang Ujian Nasional (UN) atau SBMPTN, salah satu dari mereka bahkan daftar di 2 lembaga bimbel yang berbeda. Ini semua dilakukan semata-mata demi meningkatkan intensitas belajar dalam menghadapi ujian-ujian diatas.

Hal demikian tentunya sudahlah menjadi sebuah fenomena lumrah dalam masyarakat Indonesia modern.

Sudahlah hal biasa bahwa untuk mencapai suatu target, dibutuhkan kerja keras, begitu bukan?
Sekarang begini, pernahkah anda berpikir bahwa -terkadang- kerja keras saja tidak cukup, bahwa terkadang kerja keras bisa jadi sia-sia, pernahkah? Jika tidak, selamat! Anda punya jalan pikir ideal masyarakat Indonesia.

Sentimen konsensus mengajarkan kita untuk selalu legowo, terima segala keadaan. Agama-pun kurang lebih demikian. Tapi benarkah demikian? Apakah bangsa Indonesia, yang sejarahnya dipenuhi pertentangan melawan penindasan dan tirani keji, memang punya tradisi sangat permisif? Bung Tomo akan kecewa jika melihat kondisi mental kaum muda Indonesia sekarang.

Saya cerita sedikit pengalaman pribadi menjalani tes-tes diatas. Jadi dari satu kelas, yang lolos snmptn hanya 2 orang, sbmptn 3 orang. Dari daftar tersebut tidak termasuk orang-orang yang biasanya berada di papan atas ranking, termasuk juara 1 IPS se-angkatan secara konsekutif selama tahun pembelajaran. Nah, buat saya ini kejanggalan. Saya yang notabene dicap bandel, dengan absensi kurang lebih 26, bisa lolos snmptn (undangan). Dan oh ya, lolos SIMAK UI juga diantara 2 orang dari sma saya yang ikut tes, kebetulan dia si juara 1 IPS itu. Nah. Buat saya, ini berarti ada yang salah. Ada yang salah dengan sistem yang berlaku.

Sejak awal saya sudah wanti-wanti. Di sekolah hanya buang waktu karena banyak inefektifitas dari berbagai faktor, akhirnya saya memilih untuk menghabiskan waktu yang lebih, ahem, 'produktif' seperti err.. umm.. 'belajar' di rumah, terkadang 'belajar kelompok', atau 'beristirahat', ahem. Memang jujur saja, niatan untuk mengganti waktu tersebut dengan belajar yang lebih efektif namun terkadang banyak sekali godaan, yah namanya remaja.

Jadi aneh kan, saya yang biasa ranking mepet akhir, kok bisa dapat undangan dan lolos simak ui, sementara yang ranking 1 seangkatan saja tidak? Esensinya begitu kan.

Nah, oke, sekarang katakanlah sistem salah. Dan mayoritas siswa juga sadar ini ada yang salah; dilihat dari frekuensi mengeluh mereka yang non-stop. Lantas, mengapa tidak ambil tindakan? Kok terima-terima saja? Tarik diri dari aktifitas inefektif tersebut kek, aksi mogok sekalian. Pada akhirnya tetap setia ikut sambil ngedumel.

Apa mungkin pengaruh barat sudah sedemikian kuat hingga etos kerja kita sudah menjadi, seperti apa yang Homer Simpsons sebut 'The American Way': "if you don't like your job, you don't strike: you just go in every day and do it really half assed.", begitukah?

Jadi ya memang serba salah. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pihak otoritas berwenang ketika ada suatu kesalahan pada sistem yang berlaku; wong bagaimana bisa memperbaiki, tahu ada masalah saja tidak. Lantas berarti salah siswa? bukan juga, lha sudah jelas ada kesalahan di sistem, dan harus diingat bahwa kultur timur kita ini tidak seperti budaya barat yang blak-blakan dan to the point, harus menyampaikan suatu poin kontra dengan penuh kehati-hatian dan harus sensitif terhadap perasaan tiap-tiap pihak yang terlibat. Jadi susah juga bagi siswa untuk menyampaikan pandangannya. Toh, edukator kita jarang sekali yang berpikir revolusioner seperti demikian; yang mau mendengarkan pendapat bocah ingusan.

Dan saya baru bicara soal sekolah, sementara kasus demikian sudah lumrah dalam skala nasional.

George Orwell dalam bukunya, Animal Farm, menganalogikan seorang pekerja keras lewat seekor kuda bernama Boxer yang memiliki kapabilitas berpikir terbatas. Ia memiliki 2 maxim hidup: "Aku akan bekerja lebih giat!" dan "Napoleon (seekor babi diktator, analogi Stalin pada novel ini) selalu benar!". Dan saat Boxer sekarat dan sudah tak kuat lagi bekerja, ia dijual Napoleon sang babi diktator kepada tukang jagal.

Sekarang kan masih begitu ya. Ada idiom populer "kerja keras dan jangan banyak tanya". Apa ya, namanya blind faith dong. Sudah seperti fasis saja,

Memang penghuni hierarki sosial kelas atas, sekarang ini, jarang sekali yang mau terbuka terhadap opini bawahannya. Dan bawahannya sendiri juga punya inferiority complex yang kuat. Apa memang mental hamba sahaya warisan penjajah ini sepertinya sudah tertaman dalam-dalam, begitukah?

Kemana semangat juang para pahlawan kemerdekaan? Kemana semangat para pemuda dalam melawan tirani zalim orde baru? Dimana jiwa kritis para pemuda sekarang? Beranikah anda untuk tidak legowo dan bilang "aku ora rapopo"?

Tuesday, 8 July 2014

Saturday, 10 May 2014

The Hunt (Jagten) (2014)



Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Dan film ini menyajikannya dengan sangat, sangat brutal.

Dikisahkan seorang guru dari Denmark dengan reputasi baik, Lucas (Mads Mikkelsen), baru saja kehilangan pekerjaannya karena sekolah tempatnya mengajar ditutup. Disamping itu, Lucas juga tengah berjuang untuk mendapatkan hak asuh anaknya. Pada saat dimulainya film ini, nasib Lucas sedang baik. Hidupnya sudah cukup stabil, proses pengadilan hak asuh juga dikatakan mengalami peningkatan di pihaknya. Kehidupan pribadinya bagus, hubungannya dengan salah satu rekan kerjanya di nursery tempatnya bekerja juga sedang mujur. Namun, ditengah kondisi hidupnya yang perlahan sedang meningkat, datanglah satu perkara besar yang sangat tidak terduga.

Untuk membahas plot lebih dalam disini akan mengungkapkan terlalu banyak, jadi cukuplah saya katakan bahwa film ini sangat gelap dan membahas beberapa isu yang agak berat.

Jagten adalah sebuah film yang cerdas. Thomas Vinterberg sebagai sutradara berhasil membawakan sebuah karya yang sangat indah dan gelap. Film ini berhasil menghantarkan penonton menuju sebuah tempat yang penuh dengan emosi dan tekanan. Plot dibangun dengan sabar, melalui tempo yang pas sehingga menghasilkan impresi yang kuat, hasil buah tangan kolaborasi Vintenberg dan Tobias Lindholm.

Lewat peranan cemerlangnya pada Lucas, Mads Mikkelsen berhasil membuat saya frustasi dan muak. Lucas digambarkan memiliki perwatakan yang sangat penyabar dan pasif. Ketika mengetahui dirinya berada dalam masalah, ia dengan tegar mengakui bahwa memang tak ada yang dapat dilakukannya untuk merubah situasi. Penghargaan aktor terbaik dari Cannes Film Festival adalah sangat wajar. Mikkelsen dengan brilian berhasil menggambarkan tokoh Lucas dengan sempurna; emosi yang diperankan terlihat sangat cocok dan natural.

Sinematografi dalam Jagten juga berperan penting dalam kesuksesan film ini. Charlotte Bruus Christensen berhasil menangkap indahnya lanskap Demark; bahwa kedamaian yang digambarkannya dengan tenang meneduhkan jiwa penonton, di tengah segala kemelut yang terjadi. Christensen juga dengan baik memainkan pencahayaan pada tiap-tiap adegan; dimana intensitasnya menggambarkan emosi yang dominan.

Kualitas teknikal yang rapi dan plot yang emosional serta akting yang cemerlang berhasil membuat sebuah plot yang didasari atas premis yang sempit dan sederhana menjadi sebuah karya yang sangat cerdas dan cemerlang. 

Jagten, sejauh ini untuk saya merupakan film yang paling depresif. Film ini adalah sebuah pernyataan yang dengan berani memukul keras pada sifat masyarakat kontemporer yang paling suka menghakimi tanpa keinginan untuk menelusuri fakta yang sebenarnya dan menarik konklusi hanya dari judulnya saja; tema kontroversial -yang saya pikir sudah terlalu sering terulang dalam sejarah- yang pedih dan bertentangan pada kebenarannya.

Pada akhirnya, saya tidak akan menyarakankan pada mereka yang berhati lemah untuk menonton film ini. Di akhir film, yang saya rasakan adalah mati rasa, ketidakberdayaan, dan ketakutan. Jagten membuat saya menyadari bahwa hal demikian bisa saja terjadi tanpa terduga. bahwa satu saja ungkapan ceroboh dapat menghancurkan kehidupan seseorang; saya, maupun anda.

Sunday, 4 May 2014

Tentang AFTA 2015

Di tahun 2014 ini, pemerintah Indonesia tengah disibukkan dengan akan diberlakukannya AFTA (Asean Free Trade Area) 2015. Pemberlakuan AFTA sendiri, yang sudah dicanangkan dan diratifikasi dokumen akhirnya beserta tanggal pemberlakuannya pada tahun 2015 oleh seluruh negara anggota ASEAN ini, menuai pro dan kontra. Hal ini tentunya mengacukan kita kepada satu pertanyaan yang paling vital: apa yang harus dilakukan bangsa ini dalam mengantisipasinya?

Sebelumnya saya akan menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud AFTA. AFTA akronim dari Asean Free Trade Area, yang berarti Kawasan Pasar Bebas ASEAN. Yang dimaksud dengan pasar bebas disini adalah kelonggaran aturan dalam arus lalu lintas perdangan di dalam internal kawasan ASEAN. Tujuannya secara umum adalah untuk meningkatkan daya produktivitas dan persaingan negara-negara ASEAN terhadap pasar global. Salah satu bentuk dari hasil perjanjian AFTA adalah skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA), yang mencanangkan target 1 pasar melalui penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. AFTA sendiri sebenarnya sudah dicanangkan sejak tahun 1992 tepatnya pada summit ke-4 ASEAN, dan ditargetkan akan rampung pada tahun 2007. Namun pada praktiknya, AFTA dinilai mustahil untuk dapat berjalan secara efektikf pada 2007, sehingga akhirnya diputuskan untuk aktif pada tahun 2015.

AFTA 2015, secara garis besar, tentunya dinilai baik; terbukti dari persetujuan seluruh pemerintah berkuasa dari anggota negara. AFTA, yang gagasan secara umunya akan meniru model EU, diharapkan akan menghasilkan keberhasilan yang serupa seperti di Eropa pada kawasan ASEAN. Disamping mudahnya lalu lalang ekspor-impor internal ASEAN, izin kerja untuk negara anggota juga akan menjadi lebih mudah. Banyak pula potensi sumber devisa yang dapat terangkat, seperti meningkatnya pendapatan dari sektor industri wisata.

Angka perdagangan di internal ASEAN sebenarnya memang sangat tinggi. Disamping pangsa pasar yang amat besar, basis produksi ASEAN juga dalam dekade terakhir meningkat cukup drastis. Banyaknya remitansi dari arus tenaga kerja yang tersebar juga menjadi salah satu faktor pendorong keberadaan AFTA, tidak termasuk di Indonesia.

Indonesia sendiri, dengan potensi pasar terbesar dari ASEAN serta angka remitansi terbesar dari pasar tenaga kerja internal ASEAN tentunya mempunya peranan penting dalam AFTA 2015 baik sebagai pelaksana maupun sasaran. Dengan kebaradaan AFTA 2015, produsen Indonesia mendapat kesempatan untuk merambah pasar ASEAN. Disamping itu, arus Tenaga Kerja Indonesia, yang merupakan penghasil devisa besar bagi negara lewat remitansinya, juga dipermudah perizinannya. FDI (Foreign Direct Investment) atau Investasi Asing Langsung, tentunya akan serta merta meningkat, yang juga akan semakin menggairahkan pasar lokal.

Telkom Indonesia di Malaysia (doc. telkomspeedy.com)
Tentunya keberadaan AFTA juga menjadi suatu tantangan bagi bangsa Indonesia. Apakah komunitas ekonomi nasional sudah siap dalam menghadapi pasar bebas ASEAN? Ada yang menilai pasar nasional belum cukup kuat untuk membendung, apalagi mendorong, dalam persaingan pasar tunggal dengan negara-negara tetangga. Disamping itu, saya pikir bisa dikatakan bahwa ASEAN, sebagai lembaga, tidak memiliki pengaruh yang cukup kuat bahkan terhadap anggotnya sendiri, seperti masih terjadinya konflik perbatasan
dan banyak terjadi saling klaim wilayah. Ini turut pula menunjukkan kurang stabilnya keamanan regional ASEAN. Hal ini juga menyebabkan masih adanya isu kesatuan yang kurang begitu diimplementasikan secara arti kepada kepentingan regional, melainkan masih seputar kepentingan ekonomi nasional masing-masing negara anggota.

Dari pro dan kontra yang disebutkan, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa isu secara garis besar yang harus ditindak dengan segera, seperti meningkatkan integrasi dan keamanan regional ASEAN -yang juga tentunya memang tujuan dasar kelembagaan ASEAN. Untuk pemerintah Indonesia sendiri juga sudah dapat ditarik rumusan permasalahan yang haru dituntaskan sebelum diberlakukannya AFTA secara efektif, yakni: penguatan kapabilitas pasar nasional terhadap persaingan ekonomi regional serta peningkatan kualitas SDM sebagai TKI khususnya untuk yang didalam wilayah ASEAN.

Dalam usaha untuk memenuhi kedua kriteria tersebut tentunya dibutuhkan keseriusan dalam penentuan kebijakan serta keseriusan dalam pemberlakuannya. Namun, sejauh yang saya lihat, pemerintah yang sekarang kurang begitu perhatian terhadap persiapan dalam rangka menghadapi AFTA 2015. Dengan iklim yang semua politik di 2014, setahun sebelum pemberlakuan AFTA, prioritas para elit negara tidak terfokus terhadap pembangunan negara, bahkan cenderung terganggu dengan agenda politik menjelang pemilu dan pilpres.

Sikap tak acuh para pemangku jabatan seperti diatas -dengan prioritas agenda politik masing-masing- sangat berbahaya bagi keberadaan ekonomi nasional, karena jika kekuatan pasar lokal masih lemah ketika dihadapkan dengan persaingan regional, maka niscaya produsen dalam negeri akan semakin tidak berdaya dengan masuknya produk-produk bebas pajak dari negara-negara tetangga.

Tuesday, 18 March 2014

Tentang Bisnis Militer di Indonesia

Sampai saat ini, keuntungan dari bisnis militer hanya dinikmati oleh perwira-perwira tinggi militer. 
—Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, dikutip di Tempo Interaktif, 23 Februari 2005

Ini sudah cerita lama. Yah setidaknya, kembali menjadi hangat di era pasca-reformasi. Setelah jatuhnya rezim -bekingan militer- suharto. Memang setelah kejatuhan suharto sekalipun, kekuasaan militer masih kuat di Indonesia. Tahun ini capres orang militer ada 4 orang. Wong presiden incumbent saja tentara. Jadi ya boleh dibilang, masih memiliki kuasa, kendati tidak sekuat dulu. 

Tapi, memangnya perlu kuasa efektif? 

Tentunya masih segar di benak kita skandal sengman, dimana ada praduga bahwa terdapat permainan gelap antara oknum tertentu dalam tubuh TNI dengan beberapa politisi, terutama dari fraksi pak presiden. Sengman ini, katanya, sudah kenal SBY dan keluarga sejak masih menjabat sebagai Pangdam Sriwijaya 1996-1997. Mantan menteri ekonomi Rizal Ramli menyebut sengman sebagai beking finansial SBY.

Belum lagi para purnawirawan jenderal, terutama yang sekarang nyapres. Saya agak skeptis dengan darimana datangnya dana kampanye para capres ini. Kok seperti tak ada habisnya saja. Banyak yang bilang mereka pengusaha sukses. Lagipula, dulu kan dekat dengan sang 'Guru Besar'. Jadi kalau sudah masuk ranah tabu begini ya agak ambigu. 

Dari situ saya simpulkan, maka hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk -jika ingin- memberantas segala penyalahgunaan kekuasaan dalam tubuh militer adalah dengan "demilitiarisasi" kekuatan militer di Indonesia secara bertahap.

Demilitarisasi disini adalah mengenai peningkatan pengawasan dengan ketat terhadap apa yang berlangsung dalam administrasi militer. Membuka "Tirai Besi" yang selama ini menyelimuti lingkup elit TNI yang elusif. Pembukuan, keluar-masuk dana, budget's excess-nya berapa dan kemana, semua harus dibuka. 

Maka dari itu, diperlukan sebuah tim independen dalam melaksanakan pengawasan kepengurusan militer. Tak bisa hanya mengandalkan PM, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa PM secara de facto sudah menjadi bagian penting dari badan militer arus utama.

Salah satu opsi adalah dengan mendirikan tim independen yang terdiri dari perwakilan kepolisian dan PM, dengan sipil sebagai pemegang kekuasaan mayoritas. Atau cukup mengikuti yang sudah-sudah seperti membentuk tim pengawas seperti KPK atau dibawah KPK, bisa juga mengikuti model parlemen seperti di Amerika Serikat. Soal cara bukan masalah.

Kendala dalam penerapan solusi-solusi demikian justru terdapat pada poin kemauan. Apakah para pimpinan negara mau mengimplementasikannya? Dari golongan legislatif hingga eksekutif, mungkin hanya segelintir saja yang ingin reformasi militer. Karena toh, banyak pihak yang diuntungkan dari kondisi sekarang. Jadi selama para pembuat aturan masih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok tertentu tanpa ada kepedulian terhadap negara, ya pasti susah.

Foxygen | A Take Away Show

Wednesday, 12 March 2014

Kenapa Sheffield United

File:Sheffield United FC logo.svg

Sekarang sepak bola jadi semakin memasyarakat. Paling mentok, minimal setiap orang punya klub liga Inggris andalan masing-masing. Manchester United, Manchester City, Arsenal. Nama besar. Lalu ketika mulai tahap pencarian klub favorit, belakangan sedang meningkat popularitas klub-klub papan tengah di tanah air. Sebutlah West Ham United. Tak sampai disitu, bahkan beberapa memutuskan untuk menjadi fans tim liga bawah -Championship hingga League 2- seperti Leeds United. Dan sebelum muncul spekulasi penuh kecurigaan, gak, saya gak bakal komplain betapa para karbitan itu telah mencoreng nama baik 'football geek'. Gak akan kok, ahem.

Saya pribadi pertama kenal dengan Sheffield United ketika The Blades masih berada di Premier League, sekitar saya kelas 4 SD, kurang lebih 2006. Saat itu yah tipikal anak SD, belum mengenal sistem liga. Cuma tau nonton match dan piala dunia. Pas liat match Sheff Utd, kepincutlah lambangnya. Entahlah, bagi saya dulu lambang 2 pedang untuk tim sepakbola itu keren.

Seiring waktu, masuklah SMP. Nah disinilah mulai betul-betul kenal Sheff Utd via game komputer Football Manager. Waktu itu masih 2008, jadi main FM8. Wah jatuh cintalah. Memang dasarnya dulu SD senang main game strategi juga. Paling seru rekrut staff. FM8 ini kan agak buggy, ya namanya game lama. Pernah pake trainer juga, staff board saya ada Wenger, Ferguson, Mou, apalah lupa. Bahaha bisa ya.

Kembali ke judul, lantas pertanyaan paling vital kali ini adalah:

"What's not to love?"

Sheffield United merupakan salah satu pionir dari Liga Sepakbola Inggris. Didirikan pada tahun 1889, Sheff Utd sudah terlebih dahulu ikut bertanding dalam kompetisi sepakbola Inggris -nun jauh sebelum tim besar kontemporer seperti Liverpool, Newcastle, dan West Ham. Dalam sejarahnya, Sheff Utd pernah beberapa kali memenangkan kompetisi nasional seperti FA Cup dan Liga.

Dalam hal bisnis, komisariat dinilai cukup berhasil. Pemilik saham terbanyak Sheff Utd, Kevin McCabe, memiliki beberapa klub lain yang tersebar di seluruh belahan dunia. Dari mulai Ferencvarosi TC dari Hungaria, Central Coast Mariners dari Australia, Dubai Blades dari UAE, hingga terakhir Chengdu Blades dari Cina. Tak hanya itu, mereka juga berhasil membina afiliasi dengan beberapa klub internasional seperti Arklow Town dari Irlandia, Estudiantes dari Argentina, Sao Paulo asal Brazil, Strindheim IL dari Norwegia, White Star Woluwe dari Belgia, hingga Tata Football Academy dari India. Keuangan juga boleh dibilang berhasil. Dari penjualan pemain saja profitnya sudah besar; beberapa nama besar dari akademi Sheff Utd seperti Kyle Walker dan Kyle Naughton yang sekarang bermain untuk Tottenham Hotspurs bahkan hingga sekarang masih memiliki klausul dengan nominal yang cukup besar.

Memang harus diakui, kondisi klub sekarang tengah mencapai titik paling rendah. Kejatuhan paling parah dialami pada musim 2006/2007 euforia masuk premier tengah kencang-kencangnya didengungkan, dalam musim yang sama Sheff Utd yang kala itu dibawah asuhan Neil Warnock -pelatih yang sama ketika promosi ke Premier- jatuh kembali ke tingkat Championship. Ketika semua orang berpikir itu sudahlah titik terparah dan saatnya untuk bangkit, klub malah jatuh lebih jauh ke dalam lubang relegasi -turun ke liga 1. Kala itu banyak pemain penting meninggalkan klub, seperti Phil Jagielka dan Michael Tonge. Pada titik inilah stabilisasi klub dimulai.

Tahun ke tahun Sheff Utd semakin meningkatkan kualitas. Klub mulai berbenah. Tidak hanya ambisi promosi, klub mulai meningkatkan berbagai aspek sebagai klub sepakbola profesional secara keseluruhan: Fasilitas, program akademi, koneksi, serta rezim pelatihan untuk setiap pemain. Revolusi ini belakangan membuahkan hasil: Fasilitas dan akademi kelas satu. Cukup mengesankan bagi sebuah klub liga 1 untuk memiliki stadium dengan kapasitas penonton setara dengan klub-klub besar di liga premier.

Ditunjuknya Nigel Clough, putra dari pelatih Inggris paling legendaris: Brian Clough, seakan membawa angin perubahan untuk Sheffield United. Oh ya hampir lupa info penting, tahun kemarin Kev McCabe menjual 50% dari saham yang dimilikinya selama 10 tahun ini kepada salah seorang pangeran asal Saudi: Pangeran Abdullah Bin Musa'ad. Musim yang baik bagi kami.

Jadi ya begitulah, besar harapan saya untuk The Blades pada musim ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Or it could just be my fav team because they're great for the excuse, "Ya wajarlah urang kalah, orang pake tim jelek". Hehehehe...

Friday, 7 March 2014

The Prestige (2010)



"Are you watching closely?" 

Dengan pertanyaan itu, THE PRESTIGE (berdasarkan novel karya Christopher Priest) mengajak penonton untuk berpartisipasi - atau setidaknya menyadari partisipasi mereka - di dalam ceritanya. Film ini menawarkan sebuah kisah cerdas yang menarik tentang intrik dan obsesi dengan serangkaian trik luar biasa yang saling berhubungan.

THE PRESTIGE berkisah tentang rivalitas antara pesulap Robert Angier (Hugh Jackman) dan Alfred Boden (Christian Bale) pada penghujung abad ke-20 di kota London. Sementara Boden dengan aksen cockney-nya adalah seorang yang blak-blakan dan hanya terfokus pada trik sulap, Angier adalah seorang pesulap dengan kemampuan yang lebih rendah namun memiliki ambisi dan kemampuan pertunjukan yang luar biasa. Meskipun mereka pada mulanya bekerja sama, suatu kecelakaan diatas panggung membuat mereka menjadi musuh bebuyutan. Mereka bersaing atas trik, penonton, dan tentang kehilangan, masing-masing membaca jurnal curian milik satu sama lain untuk menguraikan makna sebenarnya dan arti mekanis dari saingannya.

Film ini mencoba menambah bobotnya dengan turut mengiaskan persaingan destruktif dua pesulap tersebut dengan perang pribadi antara pencarian sains murni Tesla dan orientasi bisnis Edison. Tapi itu hanyalah sebagian kecil, Nolan memutarnya lebih jauh dengan teknik bercerita khasnya: perpindahan waktu, juga menambahkan elemen yang berkenaan dengan gaya penulisan: pergeseran suara narasi antara jurnal pribadi masing-masing milik Angier dan Boden. 

THE PRESTIGE memiliki skenario yang sangat cerdas. Nolan mengambil struktur klasik trik sulap: The Pledge, The Turn, dan The Prestige dan menggunakannya di dalam film ini. The Prestige adalah sebuah bagian dimana sang pesulap mengembalikan apapun yang ia hilangkan dengan penuh drama teatrik yang mengesankan. Dalam bagian inilah narasi berputar ke arah yang sangat tidak terduga. Twist, tentunya. 

Cukuplah untuk mengatakan bahwa Nolan bersaudara berhasil menghasilkan sebuah persembahan yang memukau. Mereka tidak hanya tertarik pada ilusi, kakak-beradik ini bermain-main dengan sains -dengan latar waktu dimana listrik masih dianggap misterius- dan seringkali mengkhianati ekspektasi penonton. 

Pada akhirnya, THE PRESTIGE adalah sebuah karya yang mungkin mentor dan insinyur Cutter (Michael Caine) akan ciptakan jika ia membuat film. Kalkulatif dan dingin, sebuah mesin yang dengan penuh kehati-hatian dibangun murni hanya untuk menghibur, dan dengan mudahnya dilupakan ketika tepuk tangan mulai berhenti. Film ini ditangkap dengan indah dan gelap oleh sinematografer Wally Pfister dari karya Nolan sebelumnya, BATMAN BEGIN. Penampilan semua sangat baik, dengan Bowie yang membuat saya menginginkannya untuk lebih berkomitmen pada dunia peraktingan. Dan Gollum sendiri, Andy Serkis, terlihat unik tanpa efek komputer. Oh dan tak lupa, peran Scarlett Johansson sebagai Olivia juga sangat mengesankan, tentunya.

Sunday, 19 January 2014

Teori Gamblang Indie

Kontras dengan kepercayaan populer, kaum minoritas indie sesungguhnya jauh berbeda dari persepsi pada umumnya. Setahu saya, yang sesuai dengan definisi paling akurat dari orang indie mayoritas adalah bukan mereka yang bersolek lama seraya berlagak tak peduli tentang apa yang dikenakannya, bukan juga mereka yang punya strict dress-code dengan tees musik, skinny jeans, dan sepatu converse.

Nah, jadi indie kids itu bagaimana? Oke, kita bahas definitifnya dulu. Indie adalah akronim dari independent, yang menurut harfiahnya berarti bebas. Bebas ya. Berarti ya sesuka hati. Dengar musik sesuka hati. Cara berpakaian sesuka hati. Gaya hidup sesuka hati. Ya bebas. Kriterianya cuma bebas. Jadi kalau kamu dengar musik yang kamu suka, berarti kamu bisa masuk kategori indie, bukan begitu? Ya.. More or less, lah.

Nah disini perlu saya katakan dulu, nantinya mulai dari kalimat ini tolong diingat bahwa ini bukanlah tentunya sebuah fakta, hanyalah opini gamblang saya yang dangkal.

Jadi coba gampangnya begini, anda seorang fans tipe Avicii. kan sudah punya scene sendiri. Apa itu ya, dance? Eh pop ya, kalau untuk generasi sekarang. Lantas, macam kami ini yang suka tipe Belle & Sebastian, I Love You But I've Chosen Darkness, mau disebut apa dong? Nah.

Semakin dalam masuk teori amplas saya ini.

Oke, soal musik boleh dibilang cukup akurat. Indie kids cenderung lebih senang mendengarkan musik yang obscure, tak diketahui. Bahkan terkadang artis yang sebelumnya dia sukai ketika satu waktu mendadak jadi mainstream, bisa saja batal jadi fans.

Genre, tidak spesifik sih. Biasanya yang indie-ish saja. Atau yang genrenya belum pernah dengar sebelum membaca artikel ini. Nah. Space Jam (King Crimson, Yes), Psychedelic Rock (Syd Barrett, Tame Impala), Shroomey Rock (The Beatles, Hendrix), apalah.

Gaya berpakaian, salah total. Persepsi publik, orang indie harus pake tees band dengan skinny jeans, kacamata frame tebal, dan sepatu converse. Wah, apalagi kalau kamu hidup di Indonesia. Seumpama anda bertemu yang begitu, kemungkinan besar fans Skrillex. Lah wong gaya boyband saja begitu kok. Gayboy Junior coba.

Dari gaya hidup juga. Naik vespa, fanatik nonton konser. Saya lihat penggemar vespa asli, biasanya ya vespa ala kadarnya. Dia ini suka dan sangat terobsesi dengan vespa. Dalamnya dia ngerti. Senang otak-atik. Dan -nah ini yang terkait dengan topik kita- biasanya ikut culture mods. Remaja sekarang kan senang bawa nama mods, faux-vespies itu. Padahal The Who saja tak kenal.

Dan, inilah cemooh paling hina untuk indie kids kontemporer: bajingan-bajingan itu pada dasarnya ya memang mainstream. Dengan bangga mendengarkan musik mainstream, dengan pemutar musik mainstream, di check-in lewat jaringan sosial paling mainstream namun, dengan lantang mengaku seorang indie. Ini. Astaga, ini.

Sekarang banyak sekali orang yang mengaku indies. Berpakaian mengikuti stereotip orang indies -yang sekarang ini orang indies sendiri agak jaga jarak. Paling banter dengar musik faux-indies ala The Killers -yang pada dasarnya merupakan musik pop-rock generic yang oleh perusahaan secara besar dilabeli dengan kata indie. Malah ya mayoritas dengar musik plastik murahan.

Begini caranya, ya lama kelamaan semakin terasosiasi kata indies dengan produk paling pasaran. 

Indie itu kan, pada dasarnya bebas. Bebas. Tak ada keterikatan apapun dalam hidupnya. Dalam artian, ya dia dengar musik sesuka hati, tak ikut tren maupun pengaruh eksternal apapun. Dia gaya berpakaian tak harus merek A atau B maupun ikut tren skinny jeans ya sesuka hati. Dia tak datang ke acara A karena tak peduli pikiran orang lain ya sesuka hati. Dia hidup begitu ya sesuka hati. Nah. Esensinya kan begitu, ya.

Jadi tolonglah.

Saturday, 4 January 2014

Mimpi-Mimpi Kolonial

"life should be better and richer and fuller for everyone, with opportunity for each according to ability or achievement" - James Truslow Adams, American Dream

Tidak James, kenyataannya tidak begitu. 

Jaman sekarang sudah lazim, punya mimpi merantau ke luar negeri. Alasannya beragam. Ekonomi, gengsi, apalah. Banyak orang berpikir pindah ke luar negeri itu menyenangkan. Lepas semua masalah. Semua orang kaya, tidak ada rampok. Hidup berkecukupan. Semua hidup indah dalam kedamaian.

Fakta di lapangan berkata lain.

Dulu sekitar masa pasca-kolonialisme, atau de-kolonialisme besar-besaran, negara-negara Eropa mulai membuka keran imigrasi -terutama untuk negara-negara muda asuhannya- dengan terbuka lebar. Lalu dimulailah apa yang disebut kaum kanan Eropa sebagai 'Mass Europa Colonization' oleh bangsa kelas dua dari Asia dan Afrika. 

Sebetulnya Amerika sudah terlebih dahulu melakukannya. Sudah beberapa abad lamanya Amerika menjadi tujuan imigrasi nomer satu, berkat kampanye paling sukses 'American Dream'. Amerika digambarkan sebagai tanah luas yang kosong untuk dihuni dengan bebas oleh kaum tertindas yang ingin benar-benar merdeka, ingin terbebas dari Bangsawan borjuis, militaris bengis, dan bandit jahat yang merusak hidupnya. Ingin punya harapan. Hingga kini masih dianggap demikian.

Yah memang kenyataannya, lebih kurang memang demikian -terlepas dari isu SARA di masa lampau.

Kembali ke Eropa. Pada mulanya tentu saja pihak ex-kolonis ini menerima mantan budaknya dengan tangan terbuka -at least menurut beragam media. Dan toh, imigran membantu masalah kekurangan tenaga kerja -terutama pada sektor kerja kasar- di negara-negara eropa pasca perang duna ke-2. Lihat saja fenomena keajaiban ekonomi eropa dan keberhasilan program marshal plan. Imigran berperan penting dalam kemajuan ekonomi eropa. Jadi situasi masa itu saling membutuhkan, hubungan mutual. 

Namun, kian kemari kok ternyata banyak dari mereka ini yang menjadi sukses, terlalu sukses. Nah mulailah bangkit sentimen anti-imigran. Mungkin bisa dibandingkan dengan kondisi Indonesia 98, dimana terdapat kesenjangan besar antara kaum pribumi dan non-pribumi. Terlepas dari cara mereka untuk sukses yang saya yakin kurang lebih sama dengan pribumi kaya, namanya sudah urusan perut ya susah dikendalikan. Layaknya kaum fasis tua, rakyat kelaparan semua karena bedebah non-pribumi yang mencuri kekayaan melimpah. Demikian dengan Eropa.

Yah tentunya saya tidak bisa klarifikasi langsung. Keluar Asia saja tidak pernah. Tapi sejauh pengetahuan dangkal saya ini, belakangan isu anti-imigrasi semakin panas diperbincangkan. Beberapa kasus seperti pelarangan memakai jilbab, pelarangan berbusana agamis -berlaku untuk semua kepercayaan- di beberapa tertentu, hingga mencapai titik kekerasan seperti apa yang disebut paki-bashing di Inggris. 

Wah bicara paki-bashing ini saya jadi ingat film 'This Is England'. Dalam film itu digambarkan bagaimana buruknya perlakuan terhadap para imigran di Inggris dan keseharian kaum ekstrimis kanan Inggris yang secara brutal melakukan kampanye rasis. Ada juga 'Ross Kemp on Gangs'. Acara tv ini meliput keseharian geng-geng brutal di kota-kota besar. Di Russia misalnya. Ada suatu geng dimana para anggotanya diajarkan ala militer -dari close combat, penyerbuan ala spec ops, hingga senjata api- guna mempersiapkan diri dalam 'kebangkitan Russia'. Dalam kesehariannya mereka sudah biasa melakukan kekerasan terhadap mereka yang dianggap sebagai 'sampah Russia', kendati pisaunya saja didapatkan dari merampok toko milik imigran Georgia. Geng ini terdiri dari berbagai latar belakang, dari ex-militer hingga mahasiswi ekonomi muda anak konglomerat. Parahnya lagi, mereka memiliki dukungan bahkan hingga di parlemen.

Dan ini baru Russia.

Saya pikir, sentimen anti-imigran ini -secara fenomena- wajar-wajar saja. Seperti tadi dibandingkan dengan kondisi di dalam negeri. Wajar saja kan kalau kita kurang suka terhadap kesuksesan entitas asing. Fear of the unknown, ceunah. Wong dari dulu saja sudah digemborkan harus cinta produk dalam negeri. Tapi kenyatannya, hampir seluruh aspek kehidupan kita sekarang, suka tidak suka, bertumpu pada nilai asing.hape produk china, baju bermerek, internet. Begitupun dengan mereka disana, kok pemilik toko A bukan warga asli Oldham, kok CEO perusahaan anu imigran pakistan. Nah. Jadi ya sama sajalah, hal lumrah. Mereka sudah cukup toleran mau menerima imigran-imigran asing nan aneh dalam jumlah yang cukup besar.

Jadi lantas bagaimana? Ya poin saya, the so-called '[insert your destination here] Dream' sudah tidak sama seperti dulu. Dan baiknya pikir matang-matang. Toh, memang anda cukup berkualifikasi? Kalau disini saja sudah susah diterima gimana mau disana. Mimpi kolonial itu hanya tinggal kenangan lampau.


Tapi buat saya pribadi, impresi kuat romansa Eropa selalu memiliki tempat istimewa di benak pikiran terdalam saya. Indahnya bangunan-bangunan kuno, suasana kota yang ramai dan memukau, peradaban maju ciptaan manusia yang luar biasa hebat. Saya tahu bahwa kehidupan imigran disana sudah tidak seperti dulu. Masyarakat Eropa juga sudah tidak begitu menerima kehadiran imigran. Intinya jaman sekarang sedang masa sulit untuk tinggal disana sebagai pendatang, Tapi entahlah.

There's just this undeniable romance to the Western World that we can't help but fall in love.