Sunday, 19 January 2014

Teori Gamblang Indie

Kontras dengan kepercayaan populer, kaum minoritas indie sesungguhnya jauh berbeda dari persepsi pada umumnya. Setahu saya, yang sesuai dengan definisi paling akurat dari orang indie mayoritas adalah bukan mereka yang bersolek lama seraya berlagak tak peduli tentang apa yang dikenakannya, bukan juga mereka yang punya strict dress-code dengan tees musik, skinny jeans, dan sepatu converse.

Nah, jadi indie kids itu bagaimana? Oke, kita bahas definitifnya dulu. Indie adalah akronim dari independent, yang menurut harfiahnya berarti bebas. Bebas ya. Berarti ya sesuka hati. Dengar musik sesuka hati. Cara berpakaian sesuka hati. Gaya hidup sesuka hati. Ya bebas. Kriterianya cuma bebas. Jadi kalau kamu dengar musik yang kamu suka, berarti kamu bisa masuk kategori indie, bukan begitu? Ya.. More or less, lah.

Nah disini perlu saya katakan dulu, nantinya mulai dari kalimat ini tolong diingat bahwa ini bukanlah tentunya sebuah fakta, hanyalah opini gamblang saya yang dangkal.

Jadi coba gampangnya begini, anda seorang fans tipe Avicii. kan sudah punya scene sendiri. Apa itu ya, dance? Eh pop ya, kalau untuk generasi sekarang. Lantas, macam kami ini yang suka tipe Belle & Sebastian, I Love You But I've Chosen Darkness, mau disebut apa dong? Nah.

Semakin dalam masuk teori amplas saya ini.

Oke, soal musik boleh dibilang cukup akurat. Indie kids cenderung lebih senang mendengarkan musik yang obscure, tak diketahui. Bahkan terkadang artis yang sebelumnya dia sukai ketika satu waktu mendadak jadi mainstream, bisa saja batal jadi fans.

Genre, tidak spesifik sih. Biasanya yang indie-ish saja. Atau yang genrenya belum pernah dengar sebelum membaca artikel ini. Nah. Space Jam (King Crimson, Yes), Psychedelic Rock (Syd Barrett, Tame Impala), Shroomey Rock (The Beatles, Hendrix), apalah.

Gaya berpakaian, salah total. Persepsi publik, orang indie harus pake tees band dengan skinny jeans, kacamata frame tebal, dan sepatu converse. Wah, apalagi kalau kamu hidup di Indonesia. Seumpama anda bertemu yang begitu, kemungkinan besar fans Skrillex. Lah wong gaya boyband saja begitu kok. Gayboy Junior coba.

Dari gaya hidup juga. Naik vespa, fanatik nonton konser. Saya lihat penggemar vespa asli, biasanya ya vespa ala kadarnya. Dia ini suka dan sangat terobsesi dengan vespa. Dalamnya dia ngerti. Senang otak-atik. Dan -nah ini yang terkait dengan topik kita- biasanya ikut culture mods. Remaja sekarang kan senang bawa nama mods, faux-vespies itu. Padahal The Who saja tak kenal.

Dan, inilah cemooh paling hina untuk indie kids kontemporer: bajingan-bajingan itu pada dasarnya ya memang mainstream. Dengan bangga mendengarkan musik mainstream, dengan pemutar musik mainstream, di check-in lewat jaringan sosial paling mainstream namun, dengan lantang mengaku seorang indie. Ini. Astaga, ini.

Sekarang banyak sekali orang yang mengaku indies. Berpakaian mengikuti stereotip orang indies -yang sekarang ini orang indies sendiri agak jaga jarak. Paling banter dengar musik faux-indies ala The Killers -yang pada dasarnya merupakan musik pop-rock generic yang oleh perusahaan secara besar dilabeli dengan kata indie. Malah ya mayoritas dengar musik plastik murahan.

Begini caranya, ya lama kelamaan semakin terasosiasi kata indies dengan produk paling pasaran. 

Indie itu kan, pada dasarnya bebas. Bebas. Tak ada keterikatan apapun dalam hidupnya. Dalam artian, ya dia dengar musik sesuka hati, tak ikut tren maupun pengaruh eksternal apapun. Dia gaya berpakaian tak harus merek A atau B maupun ikut tren skinny jeans ya sesuka hati. Dia tak datang ke acara A karena tak peduli pikiran orang lain ya sesuka hati. Dia hidup begitu ya sesuka hati. Nah. Esensinya kan begitu, ya.

Jadi tolonglah.

No comments:

Post a Comment