Tuesday, 18 March 2014

Tentang Bisnis Militer di Indonesia

Sampai saat ini, keuntungan dari bisnis militer hanya dinikmati oleh perwira-perwira tinggi militer. 
—Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, dikutip di Tempo Interaktif, 23 Februari 2005

Ini sudah cerita lama. Yah setidaknya, kembali menjadi hangat di era pasca-reformasi. Setelah jatuhnya rezim -bekingan militer- suharto. Memang setelah kejatuhan suharto sekalipun, kekuasaan militer masih kuat di Indonesia. Tahun ini capres orang militer ada 4 orang. Wong presiden incumbent saja tentara. Jadi ya boleh dibilang, masih memiliki kuasa, kendati tidak sekuat dulu. 

Tapi, memangnya perlu kuasa efektif? 

Tentunya masih segar di benak kita skandal sengman, dimana ada praduga bahwa terdapat permainan gelap antara oknum tertentu dalam tubuh TNI dengan beberapa politisi, terutama dari fraksi pak presiden. Sengman ini, katanya, sudah kenal SBY dan keluarga sejak masih menjabat sebagai Pangdam Sriwijaya 1996-1997. Mantan menteri ekonomi Rizal Ramli menyebut sengman sebagai beking finansial SBY.

Belum lagi para purnawirawan jenderal, terutama yang sekarang nyapres. Saya agak skeptis dengan darimana datangnya dana kampanye para capres ini. Kok seperti tak ada habisnya saja. Banyak yang bilang mereka pengusaha sukses. Lagipula, dulu kan dekat dengan sang 'Guru Besar'. Jadi kalau sudah masuk ranah tabu begini ya agak ambigu. 

Dari situ saya simpulkan, maka hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk -jika ingin- memberantas segala penyalahgunaan kekuasaan dalam tubuh militer adalah dengan "demilitiarisasi" kekuatan militer di Indonesia secara bertahap.

Demilitarisasi disini adalah mengenai peningkatan pengawasan dengan ketat terhadap apa yang berlangsung dalam administrasi militer. Soal akuntabilitas dan transparansi. Membuka "Tirai Besi" yang selama ini menyelimuti lingkup elit TNI yang elusif. Pembukuan, keluar-masuk dana, budget's excess-nya berapa dan kemana, semua harus dibuka. 

Maka dari itu, diperlukan sebuah tim independen dalam melaksanakan pengawasan kepengurusan militer. Tak bisa hanya mengandalkan PM, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa PM secara de facto sudah menjadi bagian penting dari badan militer arus utama itu sendiri.

Salah satu opsi adalah dengan mendirikan tim independen yang terdiri dari perwakilan kepolisian dan PM, dengan sipil sebagai pemegang kekuasaan mayoritas. Atau cukup mengikuti yang sudah-sudah seperti membentuk tim pengawas seperti KPK atau dibawah KPK, bisa juga mengikuti model parlemen seperti di Amerika Serikat. Soal cara bukan masalah.

Kendala dalam penerapan solusi-solusi demikian justru terdapat pada poin kemauan. Apakah para pimpinan negara mau mengimplementasikannya? Dari golongan legislatif hingga eksekutif, mungkin hanya segelintir saja yang ingin reformasi militer. Karena toh, banyak pihak yang diuntungkan dari kondisi sekarang. Jadi selama para pembuat aturan masih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok tertentu tanpa ada kepedulian terhadap negara, ya pasti susah.

Foxygen | A Take Away Show

Wednesday, 12 March 2014

Kenapa Sheffield United

File:Sheffield United FC logo.svg

Sekarang sepak bola jadi semakin memasyarakat. Paling mentok, minimal setiap orang punya klub liga Inggris andalan masing-masing. Manchester United, Manchester City, Arsenal. Nama besar. Lalu ketika mulai tahap pencarian klub favorit, belakangan sedang meningkat popularitas klub-klub papan tengah di tanah air. Sebutlah West Ham United. Tak sampai disitu, bahkan beberapa memutuskan untuk menjadi fans tim liga bawah -Championship hingga League 2- seperti Leeds United. Dan sebelum muncul spekulasi penuh kecurigaan, gak, saya gak bakal komplain betapa para karbitan itu telah mencoreng nama baik 'football geek'. Gak akan kok, ahem.

Saya pribadi pertama kenal dengan Sheffield United ketika The Blades masih berada di Premier League, sekitar saya kelas 4 SD, kurang lebih 2006. Saat itu yah tipikal anak SD, belum mengenal sistem liga. Cuma tau nonton match dan piala dunia. Pas liat match Sheff Utd, kepincutlah lambangnya. Entahlah, bagi saya dulu lambang 2 pedang untuk tim sepakbola itu keren.

Seiring waktu, masuklah SMP. Nah disinilah mulai betul-betul kenal Sheff Utd via game komputer Football Manager. Waktu itu masih 2008, jadi main FM8. Wah jatuh cintalah. Memang dasarnya dulu SD senang main game strategi juga. Paling seru rekrut staff. FM8 ini kan agak buggy, ya namanya game lama. Pernah pake trainer juga, staff board saya ada Wenger, Ferguson, Mou, apalah lupa. Bahaha bisa ya.

Kembali ke judul, lantas pertanyaan paling vital kali ini adalah:

"What's not to love?"

Sheffield United merupakan salah satu pionir dari Liga Sepakbola Inggris. Didirikan pada tahun 1889, Sheff Utd sudah terlebih dahulu ikut bertanding dalam kompetisi sepakbola Inggris -nun jauh sebelum tim besar kontemporer seperti Liverpool, Newcastle, dan West Ham. Dalam sejarahnya, Sheff Utd pernah beberapa kali memenangkan kompetisi nasional seperti FA Cup dan Liga.

Dalam hal bisnis, komisariat dinilai cukup berhasil. Pemilik saham terbanyak Sheff Utd, Kevin McCabe, memiliki beberapa klub lain yang tersebar di seluruh belahan dunia. Dari mulai Ferencvarosi TC dari Hungaria, Central Coast Mariners dari Australia, Dubai Blades dari UAE, hingga terakhir Chengdu Blades dari Cina. Tak hanya itu, mereka juga berhasil membina afiliasi dengan beberapa klub internasional seperti Arklow Town dari Irlandia, Estudiantes dari Argentina, Sao Paulo asal Brazil, Strindheim IL dari Norwegia, White Star Woluwe dari Belgia, hingga Tata Football Academy dari India. Keuangan juga boleh dibilang berhasil. Dari penjualan pemain saja profitnya sudah besar; beberapa nama besar dari akademi Sheff Utd seperti Kyle Walker dan Kyle Naughton yang sekarang bermain untuk Tottenham Hotspurs bahkan hingga sekarang masih memiliki klausul dengan nominal yang cukup besar.

Memang harus diakui, kondisi klub sekarang tengah mencapai titik paling rendah. Kejatuhan paling parah dialami pada musim 2006/2007 euforia masuk premier tengah kencang-kencangnya didengungkan, dalam musim yang sama Sheff Utd yang kala itu dibawah asuhan Neil Warnock -pelatih yang sama ketika promosi ke Premier- jatuh kembali ke tingkat Championship. Ketika semua orang berpikir itu sudahlah titik terparah dan saatnya untuk bangkit, klub malah jatuh lebih jauh ke dalam lubang relegasi -turun ke liga 1. Kala itu banyak pemain penting meninggalkan klub, seperti Phil Jagielka dan Michael Tonge. Pada titik inilah stabilisasi klub dimulai.

Tahun ke tahun Sheff Utd semakin meningkatkan kualitas. Klub mulai berbenah. Tidak hanya ambisi promosi, klub mulai meningkatkan berbagai aspek sebagai klub sepakbola profesional secara keseluruhan: Fasilitas, program akademi, koneksi, serta rezim pelatihan untuk setiap pemain. Revolusi ini belakangan membuahkan hasil: Fasilitas dan akademi kelas satu. Cukup mengesankan bagi sebuah klub liga 1 untuk memiliki stadium dengan kapasitas penonton setara dengan klub-klub besar di liga premier.

Ditunjuknya Nigel Clough, putra dari pelatih Inggris paling legendaris: Brian Clough, seakan membawa angin perubahan untuk Sheffield United. Oh ya hampir lupa info penting, tahun kemarin Kev McCabe menjual 50% dari saham yang dimilikinya selama 10 tahun ini kepada salah seorang pangeran asal Saudi: Pangeran Abdullah Bin Musa'ad. Musim yang baik bagi kami.

Jadi ya begitulah, besar harapan saya untuk The Blades pada musim ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Or it could just be my fav team because they're great for the excuse, "Ya wajarlah urang kalah, orang pake tim jelek". Hehehehe...

Friday, 7 March 2014

The Prestige (2010)



"Are you watching closely?" 

Dengan pertanyaan itu, THE PRESTIGE (berdasarkan novel karya Christopher Priest) mengajak penonton untuk berpartisipasi - atau setidaknya menyadari partisipasi mereka - di dalam ceritanya. Film ini menawarkan sebuah kisah cerdas yang menarik tentang intrik dan obsesi dengan serangkaian trik luar biasa yang saling berhubungan.

THE PRESTIGE berkisah tentang rivalitas antara pesulap Robert Angier (Hugh Jackman) dan Alfred Boden (Christian Bale) pada penghujung abad ke-20 di kota London. Sementara Boden dengan aksen cockney-nya adalah seorang yang blak-blakan dan hanya terfokus pada trik sulap, Angier adalah seorang pesulap dengan kemampuan yang lebih rendah namun memiliki ambisi dan kemampuan pertunjukan yang luar biasa. Meskipun mereka pada mulanya bekerja sama, suatu kecelakaan diatas panggung membuat mereka menjadi musuh bebuyutan. Mereka bersaing atas trik, penonton, dan tentang kehilangan, masing-masing membaca jurnal curian milik satu sama lain untuk menguraikan makna sebenarnya dan arti mekanis dari saingannya.

Film ini mencoba menambah bobotnya dengan turut mengiaskan persaingan destruktif dua pesulap tersebut dengan perang pribadi antara pencarian sains murni Tesla dan orientasi bisnis Edison. Tapi itu hanyalah sebagian kecil, Nolan memutarnya lebih jauh dengan teknik bercerita khasnya: perpindahan waktu, juga menambahkan elemen yang berkenaan dengan gaya penulisan: pergeseran suara narasi antara jurnal pribadi masing-masing milik Angier dan Boden. 

THE PRESTIGE memiliki skenario yang sangat cerdas. Nolan mengambil struktur klasik trik sulap: The Pledge, The Turn, dan The Prestige dan menggunakannya di dalam film ini. The Prestige adalah sebuah bagian dimana sang pesulap mengembalikan apapun yang ia hilangkan dengan penuh drama teatrik yang mengesankan. Dalam bagian inilah narasi berputar ke arah yang sangat tidak terduga. Twist, tentunya. 

Cukuplah untuk mengatakan bahwa Nolan bersaudara berhasil menghasilkan sebuah persembahan yang memukau. Mereka tidak hanya tertarik pada ilusi, kakak-beradik ini bermain-main dengan sains -dengan latar waktu dimana listrik masih dianggap misterius- dan seringkali mengkhianati ekspektasi penonton. 

Pada akhirnya, THE PRESTIGE adalah sebuah karya yang mungkin mentor dan insinyur Cutter (Michael Caine) akan ciptakan jika ia membuat film. Kalkulatif dan dingin, sebuah mesin yang dengan penuh kehati-hatian dibangun murni hanya untuk menghibur, dan dengan mudahnya dilupakan ketika tepuk tangan mulai berhenti. Film ini ditangkap dengan indah dan gelap oleh sinematografer Wally Pfister dari karya Nolan sebelumnya, BATMAN BEGIN. Penampilan semua sangat baik, dengan Bowie yang membuat saya menginginkannya untuk lebih berkomitmen pada dunia peraktingan. Dan Gollum sendiri, Andy Serkis, terlihat unik tanpa efek komputer. Oh dan tak lupa, peran Scarlett Johansson sebagai Olivia juga sangat mengesankan, tentunya.