Friday, 7 March 2014

The Prestige (2010)



"Are you watching closely?" 

Dengan pertanyaan itu, THE PRESTIGE (berdasarkan novel karya Christopher Priest) mengajak penonton untuk berpartisipasi - atau setidaknya menyadari partisipasi mereka - di dalam ceritanya. Film ini menawarkan sebuah kisah cerdas yang menarik tentang intrik dan obsesi dengan serangkaian trik luar biasa yang saling berhubungan.

THE PRESTIGE berkisah tentang rivalitas antara pesulap Robert Angier (Hugh Jackman) dan Alfred Boden (Christian Bale) pada penghujung abad ke-20 di kota London. Sementara Boden dengan aksen cockney-nya adalah seorang yang blak-blakan dan hanya terfokus pada trik sulap, Angier adalah seorang pesulap dengan kemampuan yang lebih rendah namun memiliki ambisi dan kemampuan pertunjukan yang luar biasa. Meskipun mereka pada mulanya bekerja sama, suatu kecelakaan diatas panggung membuat mereka menjadi musuh bebuyutan. Mereka bersaing atas trik, penonton, dan tentang kehilangan, masing-masing membaca jurnal curian milik satu sama lain untuk menguraikan makna sebenarnya dan arti mekanis dari saingannya.

Film ini mencoba menambah bobotnya dengan turut mengiaskan persaingan destruktif dua pesulap tersebut dengan perang pribadi antara pencarian sains murni Tesla dan orientasi bisnis Edison. Tapi itu hanyalah sebagian kecil, Nolan memutarnya lebih jauh dengan teknik bercerita khasnya: perpindahan waktu, juga menambahkan elemen yang berkenaan dengan gaya penulisan: pergeseran suara narasi antara jurnal pribadi masing-masing milik Angier dan Boden. 

THE PRESTIGE memiliki skenario yang sangat cerdas. Nolan mengambil struktur klasik trik sulap: The Pledge, The Turn, dan The Prestige dan menggunakannya di dalam film ini. The Prestige adalah sebuah bagian dimana sang pesulap mengembalikan apapun yang ia hilangkan dengan penuh drama teatrik yang mengesankan. Dalam bagian inilah narasi berputar ke arah yang sangat tidak terduga. Twist, tentunya. 

Cukuplah untuk mengatakan bahwa Nolan bersaudara berhasil menghasilkan sebuah persembahan yang memukau. Mereka tidak hanya tertarik pada ilusi, kakak-beradik ini bermain-main dengan sains -dengan latar waktu dimana listrik masih dianggap misterius- dan seringkali mengkhianati ekspektasi penonton. 

Pada akhirnya, THE PRESTIGE adalah sebuah karya yang mungkin mentor dan insinyur Cutter (Michael Caine) akan ciptakan jika ia membuat film. Kalkulatif dan dingin, sebuah mesin yang dengan penuh kehati-hatian dibangun murni hanya untuk menghibur, dan dengan mudahnya dilupakan ketika tepuk tangan mulai berhenti. Film ini ditangkap dengan indah dan gelap oleh sinematografer Wally Pfister dari karya Nolan sebelumnya, BATMAN BEGIN. Penampilan semua sangat baik, dengan Bowie yang membuat saya menginginkannya untuk lebih berkomitmen pada dunia peraktingan. Dan Gollum sendiri, Andy Serkis, terlihat unik tanpa efek komputer. Oh dan tak lupa, peran Scarlett Johansson sebagai Olivia juga sangat mengesankan, tentunya.

No comments:

Post a Comment