Tuesday, 15 July 2014

Kerja Keras Tuna Guna

Ada satu hal (lagi) yang saya sesalkan tidak saya lakukan selama masa sekolah: tidak mengikuti les kumon. Kawan-kawan saya masuk sekolah di sman kluster 1 kota Bandung, dan mayoritas lolos seleksi univ papan atas. Semua ikut les kumon.

Begini ya, saya jelaskan secara garis besar apa kumon itu. Dan mohon maaf jka tidak sesuai karena toh seperti yang sejak awal saya bilang, saya belum pernah ikut les semacam kumon ini. Apa yang saya dapat dari konsep ini adalah: sistem drilling soal. Jadi siswa diwajibkan mengerjakan soal-soal matematika sesuai grade masing-masing sebanyak kurang lebih 100 soal/hari dalam batas waktu tertentu. Sebutlah salah satu kawan saya ini, si anak sman ternama yang ikut les kumon. Dia cerita sudah ikut kumon sejak smp. Selama itu dia sudah mencapai grade sma, jadi sebelum masuk sma sudah biasa drilling soal matematika sma yang kurang lebih berjumlah 100 itu dan oh ya, belum termasuk pr.

Mereka, kawan-kawan saya ini, disamping kumon juga ikut bimbel-bimbel terkenal. Biasanya cari kelas yang minim jumlah siswa, eksklusif. Apalagi ketika menjelang Ujian Nasional (UN) atau SBMPTN, salah satu dari mereka bahkan daftar di 2 lembaga bimbel yang berbeda. Ini semua dilakukan semata-mata demi meningkatkan intensitas belajar dalam menghadapi ujian-ujian diatas.

Hal demikian tentunya sudahlah menjadi sebuah fenomena lumrah dalam masyarakat Indonesia modern.

Sudahlah hal biasa bahwa untuk mencapai suatu target, dibutuhkan kerja keras, begitu bukan?
Sekarang begini, pernahkah anda berpikir bahwa -terkadang- kerja keras saja tidak cukup, bahwa terkadang kerja keras bisa jadi sia-sia, pernahkah? Jika tidak, selamat! Anda punya jalan pikir ideal masyarakat Indonesia.

Sentimen konsensus mengajarkan kita untuk selalu legowo, terima segala keadaan. Agama-pun kurang lebih demikian. Tapi benarkah demikian? Apakah bangsa Indonesia, yang sejarahnya dipenuhi pertentangan melawan penindasan dan tirani keji, memang punya tradisi sangat permisif? Bung Tomo akan kecewa jika melihat kondisi mental kaum muda Indonesia sekarang.

Saya cerita sedikit pengalaman pribadi menjalani tes-tes diatas. Jadi dari satu kelas, yang lolos snmptn hanya 2 orang, sbmptn 3 orang. Dari daftar tersebut tidak termasuk orang-orang yang biasanya berada di papan atas ranking, termasuk juara 1 IPS se-angkatan secara konsekutif selama tahun pembelajaran. Nah, buat saya ini kejanggalan. Saya yang notabene dicap bandel, dengan absensi kurang lebih 26, bisa lolos snmptn (undangan). Dan oh ya, lolos SIMAK UI juga diantara 2 orang dari sma saya yang ikut tes, kebetulan dia si juara 1 IPS itu. Nah. Buat saya, ini berarti ada yang salah. Ada yang salah dengan sistem yang berlaku.

Sejak awal saya sudah wanti-wanti. Di sekolah hanya buang waktu karena banyak inefektifitas dari berbagai faktor, akhirnya saya memilih untuk menghabiskan waktu yang lebih, ahem, 'produktif' seperti err.. umm.. 'belajar' di rumah, terkadang 'belajar kelompok', atau 'beristirahat', ahem. Memang jujur saja, niatan untuk mengganti waktu tersebut dengan belajar yang lebih efektif namun terkadang banyak sekali godaan, yah namanya remaja.

Jadi aneh kan, saya yang biasa ranking mepet akhir, kok bisa dapat undangan dan lolos simak ui, sementara yang ranking 1 seangkatan saja tidak? Esensinya begitu kan.

Nah, oke, sekarang katakanlah sistem salah. Dan mayoritas siswa juga sadar ini ada yang salah; dilihat dari frekuensi mengeluh mereka yang non-stop. Lantas, mengapa tidak ambil tindakan? Kok terima-terima saja? Tarik diri dari aktifitas inefektif tersebut kek, aksi mogok sekalian. Pada akhirnya tetap setia ikut sambil ngedumel.

Apa mungkin pengaruh barat sudah sedemikian kuat hingga etos kerja kita sudah menjadi, seperti apa yang Homer Simpsons sebut 'The American Way': "if you don't like your job, you don't strike: you just go in every day and do it really half assed.", begitukah?

Jadi ya memang serba salah. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pihak otoritas berwenang ketika ada suatu kesalahan pada sistem yang berlaku; wong bagaimana bisa memperbaiki, tahu ada masalah saja tidak. Lantas berarti salah siswa? bukan juga, lha sudah jelas ada kesalahan di sistem, dan harus diingat bahwa kultur timur kita ini tidak seperti budaya barat yang blak-blakan dan to the point, harus menyampaikan suatu poin kontra dengan penuh kehati-hatian dan harus sensitif terhadap perasaan tiap-tiap pihak yang terlibat. Jadi susah juga bagi siswa untuk menyampaikan pandangannya. Toh, edukator kita jarang sekali yang berpikir revolusioner seperti demikian; yang mau mendengarkan pendapat bocah ingusan.

Dan saya baru bicara soal sekolah, sementara kasus demikian sudah lumrah dalam skala nasional.

George Orwell dalam bukunya, Animal Farm, menganalogikan seorang pekerja keras lewat seekor kuda bernama Boxer yang memiliki kapabilitas berpikir terbatas. Ia memiliki 2 maxim hidup: "Aku akan bekerja lebih giat!" dan "Napoleon (seekor babi diktator, analogi Stalin pada novel ini) selalu benar!". Dan saat Boxer sekarat dan sudah tak kuat lagi bekerja, ia dijual Napoleon sang babi diktator kepada tukang jagal.

Sekarang kan masih begitu ya. Ada idiom populer "kerja keras dan jangan banyak tanya". Apa ya, namanya blind faith dong. Sudah seperti fasis saja,

Memang penghuni hierarki sosial kelas atas, sekarang ini, jarang sekali yang mau terbuka terhadap opini bawahannya. Dan bawahannya sendiri juga punya inferiority complex yang kuat. Apa memang mental hamba sahaya warisan penjajah ini sepertinya sudah tertaman dalam-dalam, begitukah?

Kemana semangat juang para pahlawan kemerdekaan? Kemana semangat para pemuda dalam melawan tirani zalim orde baru? Dimana jiwa kritis para pemuda sekarang? Beranikah anda untuk tidak legowo dan bilang "aku ora rapopo"?

No comments:

Post a Comment