Monday, 2 February 2015

Sedikit Tentang Depok

Walikota Depok Nur Mahmudi (Dok. Arrahmah.com)
Baru saja tadi kejadian lagi, pembacokan oleh pelaku yang disinyalir berasal dari kelompok yang sama dengan yang berada dibalik kasus begal yang belakangan ini sering terjadi di Depok. Termasuk kejadian tersebut, maka krisis #BegalDepok telah memakan jumlah korban lebih dari 3 orang. Aksi kriminal tersebut kian menambah reputasi buruk kota Depok sebagai kota rawan kriminal. Dan di tengah kondisi darurat tersebut, dimana Wali Kota Depok, bpk. Nur Mahmudi? Tak lain tak bukan di AMERIKA! Politisi PKS tersebut tengah mengambil cuti untuk berlibur ke Amerika Serikat bersama keluarganya. Sejauh ini, Nur Mahmudi belum mau angkat bicata soal #BegalDepok.

Beberapa bulan silam, kawan-kawan di kelompok @SaveMasterID, inisiatif mahasiswa UI untuk advokasi tolak penggusuran sekolah untuk anak jalanan dan kurang mampu, sekolah MASTER, juga mengalami hal serupa ketika menghadapi pihak pemkot Depok. Proses hukum yang berlarut-larut, dan ketidakjelasan sikap pemkot atas penggusuran sekolah MASTER, yang berlagak seolah-olah tak tahu-menahu atas wacana penggusuran tersebut. Padahal, sang walkot Nur Mahmudi bahkan pernah berjanji untuk tidak menggusur sekolah MASTER, berikut kutipan lengkapnya:

“Pemerintah Kota Depok tidak ada sedikit pun untuk merencanakan penggusuran”
“Kegiatan belajar mengajar tetap dilanjutkan bahkan harus ditingkatkan fungsinya”

“Oleh karena itu sesuai dengan program andalan kami yang akan memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi, nah, kuliah anak-anak mahasiswa nanti InsyaAllah akan kita berikan beasiswa kepada mereka”

“Kami juga tawarkan kepada mereka karena mau mengembangkan seperti ini, bahwa kita akan mempersiapkan untuk memperkuliahkan mereka ke Eropa”

- Nur Mahmudi Ismail (Walikota Depok, politisi PKS)

Terakhir saya dengar dari kawan @SaveMasterID, audiensi advokasi sekolah MASTER dengan pihak pemkot dibatalkan sepihak oleh pemkot Depok.

Sekolah Master Depok (Dok. http://buletindepok.com)
Dulu Nur Mahmudi juga sempat berkomitmen untuk membuka ruang hijau di sekitar terminal Depok. Nyatanya, karena alokasi dana ternyata tidak mencukupi, maka wacana tersebut batal dan kemudian tanah yang tadinya diperuntukkan ruang hijau itu beralih fungsi menjadi lahan bisnis dan komersil.

Mungkin sekiranya yang sekarang Depok butuhkan, sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, tentunya, adalah pemimpin yang tegas dan sigap. Tegas disini adalah berani mengambil sikap dalam sebuah polemik. Seperti dalam kasus penggusuran tanah, semisal Nur Mahmudi mau membuat pernyataan sikap, baik mendukung atau menolak, itu saja menurut saya cukup, sehingga masyarakat luas bisa tahu berada dimana posisi sang Walkot. Dan tentunya, silahkan siapkan argumen kuat yang dapat diterima secara rasional, selebihnya silahkan masyarakat menilai. Percayalah, suatu isu jika disikapi dengan ketidaktegasan maka yang terjadi malah menimbulkan lebih banyak polemik berkepanjangan. Kalau hanya diam ketika proses penggusuran masih berjalan, itu namanya pengecut. Sebagai politisi PKS, tentunya Nur Mahmudi harus tahu bahwa dalam Islam, pemimpin tidak boleh pengecut, pemimpin zalim yang berada dibalik kursi. Namanya lempar batu sembunyi tangan, berlagak tak tahu sembari cuci tangan. Seorang Walkot juga harus sigap. Ketika terjadi kasus maraknya #BegalDepok, yang seharusnya dilakukan oleh Walkot Depok adalah bertindak cepat dalam proses penanganan, baik dalam bentuk pengkoordinasian kerja antar elemen, maupun aksi langsung pimpin proses penangkapan. Apapun bentuknya, yang penting aksi, bukan malah cuti berlibur ke Amerika.

Sedikit tambahan, saya disini menemukan sebuah korelasi yang terjadi antara kondisi darurat kota Bekasi dan kota Depok, yang kebetulan keduanya berada dibawah pimpinan kepala daerah yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ahem.

No comments:

Post a Comment