Wednesday, 1 July 2015

Ukhuwah dan Egalitarianisme

Ini apa coba? Tugas. Dibuang sayang...
======================
Kemuliaan Dalam Islam
Saya selalu percaya, Islam pada hakikatnya merupakan agama yang menjunjung tinggi keadilan. Di hadapan Allah, seorang yang paling mulia bukanlah seorang saudagar kaya maupun pengemis, bukan seorang rupawan molek, bukan pula bangsawan atau budak, dan yang lebih canggih lagi: seorang pria perampok tidak lebih mulia derajatnya dari seorang wanita pembunuh. 
Allah berfirman dalam Al-Quran:Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Lebih dalam tentang derajat manusia, dapat saya sebutkan bahwa sistem penilaian tersebut tidak semata-mata berlaku hanya untuk kelak di akhirat nanti, namun juga berlaku di dunia selagi seorang muslim hidup. Seorang yang atas perilaku baiknya di dunia dihadapan Allah dinilai mulia, maka niscaya hidupnya di dunia akan dipermudah.
Sesuai dengan firman Allah yang artinya,Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).
Dari poin-poin diatas, dapat kita simpulkan bahwa kualifikasi atas kemuliaan dalam Islam tidak dinilai melalui aspek genealogi, akumulasi kapital, bahkan jenis kelamin.
Pengertian Egalitarianisme
Awal mula penggunaan kata Egalitarianisme adalah untuk mendefiniskan gaya hidup masyarakat berkuda yang nomaden pada abad pertengahan, seperti kaum Mongol. Sebutan tersebut merujuk pada sistem sosial dimana semua individu yang tercakup didalamnya tidak memiliki perbedaan; tidak ada yang lebih tinggi derajatnya antara satu dan lainnya (mungkin penilaian bangsa Eropa terhadap mereka pada masa tersebut begitu, namun faktanya, kaum berkuda nomaden seperti bangsa Mongol sesungguhnya masih memiliki struktur sosial yang bersifat feodal, walaupun tidak se-sakral tatanan dinasti bangsawan Eropa).
Egalitarianisme berarti suatu tatanan sosial dimana semua orang harus diperlakukan dengan sama tanpa membeda-bedakan terutama mengenai hal-hal primordial atau SARA. Karl Marx dalam bukunya "Kritik des Gothaer Programms" menyimpulkan Egalitarianisme dengan sebuah slogan yang kelak menjadi sangat terkenal, "Jeder nach seinen Fähigkeiten, jedem nach seinen Bedürfnissen" atau dalam bahasa Indonesia berarti, "Darinya sesuai dengan kemampuannya, untuknya sesuai dengan kebutuhannya."
Dalam Egalitarianisme tentunya wajib mencakup keadilan atau persamaan sebagai inti. Pada penggunaannya, memang equality ini multi-tafsir. Ketika keluar dari mulut kelas proletar, maka yang dimaksud adalah keadilan yang nyata, seperti penghapusan sekat-sekat antar kelas. Namun, ketika diucapkan oleh pemilik modal, maka bentuk keadilan yang paling memungkinkan darinya adalah harmonisasi kelas -dalam syarat yang diajukan oleh kapitalis itu sendiri.
Pada intinya, seperti yang telah saya sebut sebelumnya, egalitarianisme merupakan semangat untuk mencapai keadilan.
Konsep Ukhuwah
'Ukhuwah' secara harfiah berarti persaudaraan. Dalam kamus glosarium Al-Quran, terdapat dua arti untuk kata ukhuwah. Pertama, ukhuwah khusus yaitu adanya kesamaan atau persekutuan(musyarakah) antara seseorang dan orang tuanya dalam kelahiran dan nasab. Kedua, ukhuwah umum meliputi kesamaan atau persekutuan dalam satu kelompok(kabilah), kepercayaan, profesi, atau pertemanan berdasarkan rasa saling menghormati dan sebagainya. Menurut Dr Ahsin Sakho Muhammad, "Kata ukhuwah dan semua derivasinya disebut 90 kali dalam al-Qur’an."
Saya sepakat dengan ujaran beberapa tokoh Islam, seperti Dr Ahsin Sakho MuhammadKH Said Aqil Siroj, hingga KH Ahmad Shiddiq yang pada intinya mengatakan bahwa ukhuwah tidak bisa hanya diartikan secara sempit, namun harus dimaknai secara luas. Saya setuju dengan konsep tersebut khususnya yang diuraikan kembali oleh Kiai Maman Imanulhaq: terdapat 3 bagian dalam ukhuwah.
Pertama, mengenai Ukhuwah Islamiyah. Dalam tahap ini, persaudaraan yang terjalin yakni ukhuwah antar sesama muslim lintas mazhab. Di Indonesia terdapat 2 organisasi Islam terbesar: Nadhlatul Ulama(NU) dan Muhammadiyah. Kedua organisasi tersebut sering berada pada posisi yang berbeda dalam beberapa kasus tertentu, misalkan dalam penentuan bulan Ramadhan. Namun, perbedaan tersebut justru menghasilkan debat-debat hingga buah pemikiran yang progresif dalam pemikiran Islam kontemporer. Begitupun seharusnya dengan saudara-saudara kita sesama muslim seperti pengikut Syiah, Persis, dsb.
Allah berfirman (artinya):“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
Kedua, ada ukhuwah wathaniyah. Wathaniyah secara harfiah berarti bangsa atau negara. Dalam mengartikan wkhuwah wathaniyah sepatutnya kita berhati-hati, jangan sampai terjebak dengan nasionalisme sempit. Ukhuwah wathaniyah harus dimaknai persaudaraan tanpa sekat-sekat primordial seperti suku, ras dan agama dengan kesadaran atas rasa persatuan sebagai sesama anak bangsa.
Terakhir, ukhuwah insaniyah/basyariyah. Ukhuwah insaniyah berarti persaudaraan antar sesama manusia; sesama makhluk ciptaan Allah. Humanisme universal atau kecintaan terhadap sesama manusia ciptaan-NYA adalah bentuk paling sempurna dari toleransi, Hal ini sesuai dengan pesan Alquran dalam surah Al-Mâ’idah [5] Ayat 32: 
"Barang siapa membunuh seorang manusia tanpa alasan yang kuat, maka dia bagaikan telah membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, barang siapa menolong seseorang, maka ia telah menolong seluruh manusia."
Konsep Ukhuwah: Bukti Islam Agama Cinta Damai, Toleran, dan Egaliter
Ketiga ukhuwah diatas merupakan bukti bahwa dalam agama Islam, semua dipandang sama derajatnya kecuali di mata Allah, tuhan semesta alam. Dalam Islam, derajat seseorang di hadapan sang pencipta dinilai melalui perbuatannya selama hidup, terlepas dari apakah ia seorang pemilik modal atau kelas pekerja, maupun siapa kelarganya. Ukhuwah mengajarkan kita untuk menjadi seorang yang damai, penuh kecintaan akan alam dan semesta ciptaan sang khalik. Jika digabungkan, maka ukhuwah dapat dibagi menjadi 3 tahap untuk mencapai tahap akhirnya, yakni humanisme universal.

Tahap pertama yaitu ukhuwah Islamiyah. Dalam tahap ini kita dituntut untuk menegakkan keadilan terhadap saudara-saudara se-kepercayaan, sesama umat Rasulullah. Tahap ini akan tercapai ketika umat muslim dapat duduk bersama, shalawatan, tanpa harus menanyakan mazhab masing-masing. Tahap ini harus menjadi prioritas; jangan sampai alih-alih toleransi antar lintas agama, saudara-saudara kita sesama muslim malah dimusuhi.

Proses harmonisasi sesama umat muslim tersebut dapat secara bersamaan ber-korelasi dengan proses pencapaian ukhuwah wathaniyah, atau persaudaraan se-bangsa. Persaudaraan wathaniyah dapat dilaksanakan dengan penghapusan batas primordial seperti suku dan ras. Toleransi antar umat beragama juga ditekankan dalam tahap ini.

Tahap terakhir dalam mencapai egalitarianisme yakni jika kedua ukhuwah sebelumnya, Islamiyah dan wathaniyah sudah tercapai, maka akan tercipta ikatan yang kuat dalam persaudaraan antara sesama manusia. Setelah semua tahapan ukhuwah berhasil dilampaui, maka barulah tercipta tatanan masyarakat egaliter yang madani.