Thursday, 6 August 2015

Alay Masih Ada, Ternyata

Selama ini, lebih sering dikecewakan kampus (yang kadang)tercinta daripada pacar (yang selalu)tercinta. Setelah skandal betmen UI berlalu, sekarang ada kejadian begini. Tadi siang, pas WelMab(Welcoming Maba), stand paguyuban B(nama disamarkan) dihampiri sekelompok orang tak dikenal. Kenal sih, di akun medsosnya pake jakun. Namanya juga tau, dari twitter. Sebelumnya, orang ini mengancam kepada akun twitter Paguyuban B agar tidak memasang atribut klub sepakbola asal daerahnya. Mengapa? mengutip pernyataan belio(well, yang dia RT dari temannya, dengan tanda seru sebanyak 3 buah(!!!)) "DEPOK ITU AKU BUKAN SAYA" (disamarkan lagi, kalo pake yang asli bakal ketauan darimana). Nah disini saya menemukan beberapa kejanggalan. Almamater kita (yang kadang)tercinta ini punya nama sebuah negara. Negara yang katanya punya banyak persatuan yang saling adu kuat, negara yang katanya beradab setelah '65, dan negara yang katanya sudah tak punya adil karena sudah habis oleh yang mampu beli (kata siapa? Kata band asal bali, Nosstress), tak lain tak bukan Indonesia. Universitas Indonesia. Bukan universtias B, bukan Universitas A, bukan pula Universitas Depok. Kemudian, bukan bermaksud sombong, ini UI. Maklumlah ekspektasi saya yang anak daerah se-begitu besarnya terhadap 'kampus perjuangan' ini. Jadi ketika saya tau ada kejadian penyerangan tadi, lagi-lagi dikecewakan. Masih ada, hari gini angkat isu primordial? Di UI!

Mungkin ini pesan dari Tuhan. Saya diberi hidayah. Kamu ini bukan dewa lho, mahasiswa sakti darimana cuk, lha itu masih ada yang gitu. Separah itu. Kalah dong sama anak ITB, UGM, Brawijaya, bahkan Telkom. Telyu! Di kampus-kampus tersebut rasio anak asal kota pendatang dan kota setempat kurang lebih setara, biasa aja(banget) kongkow bareng. Kalah dong sama yang namanya "non-mahasiswa", yang selama ini kamu anggap semut-semut yang "kebingungan di persimpangan jalan."

Kejanggalan nomer 2, dasarnya apa ya untuk intimidasi begitu? Biar adil, kalian yang baca perlu tau kronologisnya. Gak detail, dan gak nyantumin nama. Sebelumnya diatas saya sudah bilang, dia ini sebelum rangkaian acara WelMab -hari kamis itu sudah hari ke-2, jadi dimulai sejak rabu, artinya kalau sebelum berarti hari selasa atau sebelumnya- sempat melarang anggota Paguyuban B untuk memasang segala atribut tim bola asal daerahnya. Nah hari pertama, diluar kendali koor, ada yang memasang; alsannya karena bingung untuk dekorasi. Oke, ketika hari kedua, koor Paguyuban B yang diplomatis dan pasifis cinta damai itu, khawatir memicu konflik, memutuskan untuk menturuti permintaan si anak salah satu fakultas yang banyak hitungannya yang mengaku fans klub bola asal kota A tersebut. Menjelang siang, tiba-tiba datang 5 orang, dipimpin belio tadi, ingin mempertanyakan soal atribut bola yang terlihat kemarin(pas WelMab hari pertama). Dialog yang terjadi berlangsung panas. Singkat cerita, polemik selesai dengan perjanjian bahwa koor Paguyuban B dipaksa untuk menyerahkan segala atribut klub bola asal daerahnya lengkap nanti hari sabtu(tanggal 8) dan menyerahkan jam tangannya sebagai jaminan. Kelar lah ya.

Oke jadi kejanggalan nomer 2 tadi, dasarnya apa? 2.1) insensitif? Kalo memang begitu saya bisa paham. Tapi lihat konteksnya, ini di pelataran gedung Balairung Universitas Indonesia, khususnya area stand paguyuban. Kalo pake atribut klub bola dari kota A di daerah yang padat penduduk di kota B, atau sebaliknya di sekitar terminal kota A pakai atribut kota B, misalnya, nah itu murni bodoh. 2.2) Gak ada satupun aturan tertulis yang melarang mahasiswa UI sepanjang WelMab berjalan untuk memperlihatkan atribut klub bola daerah manapun. Artinya semua punya hak yang sama rata dalam perkara atribut bola ini. Jadi, apa justifikasi mereka yang 5 orang ini untuk mengintimidasi kawan-kawan Paguyuban B? Kasian dong maba-maba unyu. 2.3) Jam sebagai jaminan itu maksudnya apa? Sebagai anak salah satu fakultas yang banyak hitungannya, mungkin belio lebih paham mekanisme finansial semacam gadai, dan sebagainya(apalah saya ini, masuk UI pilihan terakhir). Dalam gadai, si penggadai memberikan satu barang sebagai jaminan untuk pinjam duit. Jadi kalo gak bisa nebus si barang yang tadi digadai, barangnya disita. Itu saya paham. Kalo kasus jam tadi? Rampok dong? Perampokan di depan publik? Di Balairung UI? Lagi-lagi dikecewakan kampus(yang kadang tercinta).
Alhamdulillah, jam tangan baru :)

Omong-omong, kemana ya panitia, selama kejadian diatas berlangsung? hehe.

Ya begitulah. Niatnya sih nulis begini, biar jadi pelajaran. Mbok ya masa masih ada yang ribut perkara begini doang? Katanya World-Class University. Mending saling kenalanlah, ngupi santai, kan enak. Mengutip kata senior belio(yang kebetulan meng-cc saya dalam interaksinya dengan si fans klub bola asal kota A di twitter), yang juga mungkin berlaku tidak hanya untuk belio, tapi juga kita semua, "jadi dewasa dong malu sama jaket."

============================
Profil pihak-pihak yang terlibat telah disamarkan by request dari koor Paguyuban B yang pasifis dan cinta damai. Lihat ulahnya para bigot itu, bikin anak orang yang baek-baek pada ketakutan aja. Oh ya, ybs sudah hapus tweet2nya, saya capture sih, tapi yoweslah ya udah kelar ini.

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. wkwkwkwkwkwkwk orang eksternalnya wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. Temen gw anak itb pake atribut or*nge diintimidasi parah tuhh disana

    Banyakin piknik deh yang nuliss

    ReplyDelete